
"Kamu lah wanita yang sebenarnya Kak Dewa cintai, Mbak."
Kyra terkejut mendengar pernyataan Anne barusan. Dia kemudian berbalik dan menatap kedua bola mata milik adik iparnya tersebut untuk melihat adakah kebohongan di sana. Sayangnya, Kyra tidak menemukan itu.
"Kak Dewa sudah mencintaimu sejak dia melihat Mbak Kyra pertama kali. Hingga pada suatu hari dia sangat bahagia karena akhirnya bisa dekat dengan Mbak. Kemudian Kak Dewa memutuskan untuk menyatakan cintanya kepada Mbak Kyra melalui sebuah surat. Tapi... entah apa yang terjadi karena surat itu justru jatuh ke tangan Kak Riana." Anne mulai berbicara.
"Jika itu yang terjadi, kenapa Kak Dewa tidak mencoba meluruskannya?"
"Karena ucapan Mbak Kyra," jawab Anne.
"Ucapanku? Maksudmu?" Kyra menautkan alisnya.
"Siangnya setelah Kak Dewa tahu bahwa suratnya jatuh ke tangan yang salah, Kak Dewa sengaja datang ke rumah, Mbak untuk menjelaskan semuanya. Akan tetapi... ucapan Mbak Kyra lah yang membuat Kak Dewa urung meluruskan hal yang sebenarnya terjadi," jawab Anne.
Kyra berusaha memutar memori yang terjadi 4 tahun yang lalu, tepatnya di hari Dewa menyatakan cintanya melalui surat kepada Ariana.
"Kak Dewa, tumben ke rumahku bukannya ke rumah Riana," sapa Kyra ketika melihat Dewa berdiri di depan rumah Kyra sekitar 4 tahun yang lalu.
"Ada yang harus aku bicarakan tentang surat itu," jawab Dewa. "Ra, sebenarnya surat itu.... "
"Selamat ya, Kak. Aku harap hubungan Kakak dan Riana bisa berjalan lancar dan awet. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Ingat ya, Kak, aku akan sangat membenci Kak Dewa kalau Kak Dewa nyakitin hati Riana. Pokoknya jika aku mendengar Riana nangis gara-gara Kakak, aku akan membenci Kak Dewa seumur hidup," ucap Kyra. "Oh iya, barusan Kakak mau ngomong apa?" Kyra menatap Dewa yang tampak kebingungan untuk mengungkapkan sesuatu.
"Kamu benar-benar akan membenciku, jika membuat Ariana menangis?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Meski aku melakukannya tanpa sengaja? Maksudku... tentang surat itu... sebenarnya surat itu bukan untuk.... "
"Sengaja atau pun tidak, pokoknya kalau Kakak sampai membuat Ariana terluka dan menangis, aku akan membuat perhitungan kepada Kakak dan membenci Kak Dewa selamanya," tandas Kyra.
"Jadi, berjanjilah, kalau Kakak tidak akan membuat Riana menangis. Berjanjilah padaku!" pinta Kyra.
Dewa masih diam, dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kak."
"E... aku.... "
"Berjanjilah, Kak!" pinta Kyra sekali lagi.
"Ya sudah ya, Ra. Aku pulang," pamit Dewa. Pria yang dikenal memiliki wajah menawan itu meninggalkan rumah Kyra.
*
"Sekarang, Mbak Kyra sudah ingat ucapan Mbak Kyra di hari itu?"
Pertanyaan Anne membuat Kyra tersentak dari lamunannya dan kembali menatap adik iparnya tersebut.
"Mbak ingat apa yang Mbak katakan pada Kak Dewa di hari itu?" Anne mengulang pertanyaannya.
Kyra mengangguk.
__ADS_1
"Jika Mbak Kyra ada di posisi Kak Dewa akan kah Mbak Kyra mengatakan hal yang sebenarnya?" kembali Anne mengajukan pertanyaan kepada Kyra.
Bukannya menjawab pertanyaan Anne, Kyra malah menangis. Dia akhirnya tahu bukan hanya dirinya yang merasa menderita karena harus menyembunyikan perasaannya. Tetapi hal yang sama juga dirasakan oleh Dewa. Pria itu bahkan berpura-pura bahagia hanya agar bisa tetap dekatnya.
"Mbak Kyra tahu. Kak Dewa sudah berusaha untuk mencintai Kak Arian dengan sepenuh hati. Tetapi, dia tidak bisa. Hatinya masih untuk Mbak. Dia pernah berusaha mengenalkan Kak Arian ke keluarga karena beranggapan mungkin saja perasaannya terhadap Mbak Kyra akan hilang setelah mengajak Kak Ariana menikah. Tetapi entah karena takdir atau memang mereka belum berjodoh, Kak Ariana menolak dengan alasan ingin fokus dengan karir. Hingga pada akhirnya kakek-kakek kita menjodohkan Mbak dengan Kak Dewa." Anne melanjutkan ceritanya.
"Mbak... aku yakin, ini adalah takdir. Seberapa kuat Kak Dewa berusaha menyangkal perasaannya terhadap Mbak, tetap saja akhirnya kalian menikah kan?"
Kyra kembali diam. Segala hal yang Anne katakan memang benar. Bukan hanya Dewa yang berusaha untuk menghimdari perasaan itu, tetapi ia juga sama. Namun, Tuhan malah mentakdirkan hal lain. Mereka tetap dipersatukan dalam ikatan suci bernama pernikahan.
Kyra kembali menatap Anne sebentar. Kemudian ia memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan restoran.
"Mbak Kyra, Mbak! Mbak mau kemana?" panggil Anne. Namun, tidak ada jawaban dari Kyra. Wanita itu tetap berlari tanpa mempedulikan panggilan adik iparnya tersebut.
Anne kemudian mengirim pesan kepada Kakaknya.
[Maaf, Kak. Barusana aku mengatakan kepada Mbak Kyra tentang perasaan Kak Dewa kepada Mbak Kyra yang sebenarnya]
[Aku tidak tahu dia marah atau tidak, tetapi yang jelas setelah aku mengatakan hal tersebut, Mbak Kyra pergi]
[Dan aku tidak tahu kemana dua pergi]
[Maafkan aku, ya, Kak]
Anne mengakhiri pesannya. Dia menatap layar ponsel di tangannya. Tidak ada satupun dari pesan yang ia kirim barusan, centrangnya berubah menjadi biru.
__ADS_1