
Berita tentang tuntutan yang menerpa Ariana sampai juga ke telinga Dewa. Pria yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya itu pun tersenyum penuh arti. Ia yakin Ariana tidak memiliki uang sebanyak itu untuk memberikan ganti rugi kepada para peserta yang ikut lomba dan inilah saatnya ia membuat kesepakatan dengan perempuan licik itu.
"Kamu yakin, Ariana tidak akan menang melawan tuntunan mereka?" tanya Dewa kepada pengacaranya melalui sambungan telepon.
"Saya yakin seratus persen, Pak. Istri Bapak itu tidak akan menang. Karena saya sudah melihat bukti-bukti yang dibawa oleh para penuntut itu. Malahan jika istri Anda bersikeras tidak mau mengakui jika itu kesalahanya maka selain harus membayar ganti rugi, dia bisa dipenjara," jelas sang pengacara dari ujung sana.
"Baguslah. Terus awasi Riana dan laporkan kepadaku segala hal yang dia lakukan. Kalau perlu kamu bantu para penuntut itu untuk menuntut Riana dengan tuntutan yang lebih besar dari tuntutan mereka sekarang. Aku mau lihat sampai sejauh mana dia akan terus bertahan dengan kesalahannya." Setelah mengatakan hal tersebut Dewa menutup sambungan telepon.
"Kak, kenapa Kakak lakukan itu kepada Riana? Kakak bisa menghancurkan masa depan dia," ujar Kyra yang baru saja masuk ke ruang kerja Dewa.
"Ini cara satu-satunya agar dia mau bercerai denganku dan menyerahkan hak asuh Caca kepadaku. Aku tidak punya cara lain lagi untuk menekannya selain dengan cara ini," jelas Dewa.
"Tapi, Kak, jika dia sampai dipenjara karena kasus ini masa depan dia sebagai seorang desainer akan hancur."
"Ra, tapi mengakui karya orang sebagai karyanya sendiri dan memproduksinya untuk dipasarkan itu salah. Itu sama saja dengan dia mencuri," jawab Dewa lagi.
__ADS_1
"Aku tahu itu dan aku juga kecewa dengan tindakannya. Tapi, apa tidak ada cara lain untuk menyadarkannya?" Meskipun membenci Ariana, Kyra tidak tega jika karir sahabatnya tersebut hancur.
Dewa menggeleng. "Sayangnya tidak ada. Kamu lihat sendiri kan? Dia bahkan tidak merasa bersalah kepadamu. Padahal sejak dulu kamu selalu bersikap baik dengannya."
Kyra mengehela napas panjang. "Itu karena dia terlalu mencintai Kakak dan menganggap kalau aku ini adalah pesaingnya."
"Tetap saja dia salah." Dewa berjalan menghampiri Kyra. Dia memegang kedua bahu mantan istrinya tersebut.
"Dengar! Aku hanya ingin membuatnya tertekan dan akhirnya menerima kesepakatan yang aku tawarkan. Aku akan membayar semua ganti rugi itu asal dia mau bercerai denganku dan menyerahkan hak asuh Caca kepadaku. Hanya itu," ucap Dewa.
"Ohya, ada apa kamu ke ruang kerjaku?" tanya Dewa.
"Ouh... Arsya dan Caca sudah bangun. Mereka berdua ingin mengajakmu jalan-jalan," jawab Kyra. Dia memang datang ke ruang kerja Dewa karena kedua bocah ituerengek ingin pergi bersama papanya.
"Begitu ya. Ya sudah ayo kita pergi jalan-jalan!" ajak Dewa.
__ADS_1
Kyra masih diam di tempatnya.
"Ada apa? Hm?" Dewa menatap Kyra.
"Aku takut membuat Caca merasa tidak nyaman denganku. Kamu pergi saja bareng mereka, aku percaya kamu bisa menjaga mereka dengan baik," jawab Kyra.
"Ra, justru kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Kamu bisa mendekati Caca dan aku akan berusaha lebih dekat lagi dengan putraku."
"Tapi.... "
"Tapi, apa? Apa ada sesuatu yang kamu dengar?" Dewa mengernyit.
Kyra masih diam.
"Ra, katakan ada apa!" seru Dewa lagi.
__ADS_1