
"Ck. Pede sekali. Buat apa aku nangis karena kamu?" Kyra berdecak berpura-pura kalau tangisnya bukan disebabkan oleh pria yang saat ini berada di hadapannya.
"Kalau bukan karena aku, lalu karena apa?" tanya Dewa lagi dengan tatapan menelisik.
"Tiba-tiba saja aku teringat almarhum kakek," jawab Kyra dan itu bukan suatu kebohongan karena biasanya di saat ia sedih seperti ini almarhum kakeknya lah yang akan selalu menghiburnya.
Sejak dulu Kyra memang dikenal sangat dekat dengan kakeknya. Meski terkenal galak sang kakek tidak pernah sekali pun memarahinya. Justru Sang kakeklah yang selama ini mendukung Kyra untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang desainer terkenal.
"Bagaimana kalau kita sholat, terus kirim doa untuk kakek?" tawar Dewa karena kebetulan keduanya memang belum menjalankan ibadah sholat isya. "Aku rasa kakek ingin kamu berdoa untuknya," tambahnya.
Kyra menatap Dewa kemudian mengangguk.
"Sekarang kita ambil wudhu dulu yuk!" ajak Dewa.
Dewa dan Kyra pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Keduanya kemudian melakukan ibadah sholat wajib mereka yang tadi belum mereka kerjakan setelah itu keduanya juga mengaji untuk mendoakan almarhum kakeknya Kyra.
"Bagaimana kamu sudah mulai tenang?" tanya Dewa kepada istrinya tersebut.
Kyra mengangguk. "Iya, hatiku sedikit tenang sekarang," jawabnya. "Terima kasih ya, Kak."
"Karena kamu sudah tenang sekarang ayo kita makan!" ajak Dewa. "Aku tahu kamu lapar karena sejak tadi siang kamu belum makan, kan?"
__ADS_1
"Aku tidak lapar kok, aku sudah.... "
Belum selesai Kyra menjawab cacing-cacing di perut Kyra sudah bersuara. Hal itu tentu saja membuat wajah Kyra berubah merah karena menahan malu.
"Aish, kenapa harus bunyi sekarang sih?" Kyra menggerutu.
"Sudah nggak usah malu begitu. Ayo sekarang kita turun dan makan bareng karena kebetulan sejak siang tadi aku juga belum makan," jawab Dewa.
Mendengar jawaban Sang Suami membuat Kyra menatap ke arahnya.
"Kakak juga belum makan sejak tadi siang? Tapi, bukan kah tadi Kak Dewa makan siang bareng Riana?" tanya Kyra.
Sontak saja jawaban itu membuat Kyra menatap mata suaminya. "Kenapa?" tanya Kyra lagi.
"Kamu adalah istriku, wanita yang wajib aku nafkahi. Aku tidak mungkin makan sebelum aku bisa melaksanakan kewajibanku itu."
Ada sedikit perasaan kecewa yang Kyra rasakan di hatinga kala mendengar jawaban Dewa karena bukan itu jawaban yang ingin dia dengar.
"Ayo kita makan!" ajak Dewa lagi.
Kyra mengangguk. Meski tidak suka dengan jawaban yang Dewa berikan, Kyra juga tidak mau membuat pria itu kelaparan karena dirinya.
__ADS_1
Keduanya kemudian keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan.
"Aku angetin dulu lauknya, kamu duduk saja!" suruh Dewa, dia memerintah istrinya tersebut untuk duduk. Namun, Kyra menggeleng.
"Kakak saja yang duduk, biar aku yang angetin lauknya," jawab Kyra.
"Tapi.... "
"Kakak kan sudah masak tadi, jadi sekarang biarkan aku yang angetin. Oke!" potong Kyra.
"Baiklah kalau itu mau kamu."
Kyra mengambil lauk buatan Dewa yang sudah tertata rapi di atas meja ke dekat kompor listrk. Ia mulai menghangatkan satu per satu dari lauk-lauk tersebut. Namun, saat ia akan menghangatkan lauk yang terakhir tanpa sengaja tangannya mengenai bibir wajan yang panas dan membuat Kyra mengaduh.
"Aw, panas," desis Kyra sambil meniup jarinya sendiri. Melihat hal tersebut membuat Dewa refleks ke arahnya. Laki-laki berwajah tampan itu, langsung berinisiatif meraih tangan Kyra dan menyesap jari yang kena panas itu untuk mengurangi rasa panasnya.
Tentu saja perlakuan Dewa itu langsung membuat Kyra menatap matanya dalam-dalam.
"Masih panas?" tanya Dewa dengan wajah panik. "Makanya kalau melakukan sesuatu fokus jangan melamun!" Dewa mengingatkan. Dia kemudian melihat ke arah Kyra yang kebetulan juga sedang menatapnya. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci.
Untuk beberapa saat keduanya tetap dalam keadaan seperti itu. Keduanya baru mendapatkan kesadaran mereka kembali ketika indera penciuman keduanya menangkap sesuatu.
__ADS_1