Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Apa kamu mencariku?


__ADS_3

Sambil berlari Kyra mengingat setiap hal yang pernah Dewa ucapkan kepadanya dulu sebelum pria itu menjadi kekasih Riana. Iya, Kyra ingat beberapa kali pria itu selalu menanyakan soal tipe cowok idamannya. Hal yang tidak disukai Kyra dari cowok, dan cowok yang seperti apa yang dia harapkan untuk menjadi pendampingnya di masa depan.


Dulu ia beranggapan jika pertanyaan tersebut sengaja dilayangkan Dewa kepadanya karena pria itu ingin mengetahui banyak hal tentang Riana, namun merasa malu untuk bertanya secara langsung.


"Kenapa aku malah ke sini?" batin Kyra ketika ia menyadari dirinya berada tepat di depan rumah sakit tempat ibunya Riana dirawat.


Karena ia terlanjur berada disana, akhirnya Kyra memutuskan untuk menjenguk ibu dari sahabatnya tersebut.


Sementara itu diwaktu yang bersamaan, Dewa yang baru saja bangun karena ketiduran segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.


"Sudah bangun, Kak?" tanya Riana ketika baru melihat Dewa saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Maaf ya, Ri. Aku ketiduran," ucap Dewa.


"Nggak apa-apa, Kak. Aku tahu Kak Dewa pasti ngantuk karena semalam ikut berjaga jagain mama. Seharusnya aku yang minta maaf sama Kakak karena aku udah nyusahin Kakak," ujar Riana.


Dewa hanya tersenyum menanggapi perkataan kekasihnya tersebut. "Ohya, jam berapa ini?" tanya Dewa lagi.


"Hampir jam sepuluh pagi."


Dewa terdiam sebentar. Dalam hati Dewa penasaran apakah ada telepon dari istrinya yang bertanya tentang keadaannya. Atau wanita yang selama ini menjadi cinta rahasianya tersebut tidak peduli dengannya.


"Kak," panggil Riana.


Dewa pun menoleh, "Iya," jawabnya.


"Apa yang sedang Kak Dewa pikirkan kok diam?" tanya Riana sembari menatap wajah kekasihnya tersebut.


"Apa asistenku menelepon?" Sebenarnya bukan itu yang ingin Dewa tanyakan. Sebenarnya ia ingin tahu apa Kyra menelpon dan bertanya tentang dirinya.

__ADS_1


"Tidak. Tapi, sepertinya tadi ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan di ponsel Kakak. Aku tidak berani menjawab panggilan itu dan melihat pesab yang masuk karena aku tahu itu privacy Kakak," jawab Riana.


"Terima kasih, nanti aku akan cek sendiri," ucap Dewa. "E... Kyra... apa Kyra menelponmu?" tanya Dewa berhati-hati.


Riana langsung menatap Dewa sambil mengernyit.


"E... maksudku apa Kyra meneleponmu untuk memberi kabar soal butik kalian. Bukankah kamu pernah bilang kalau kalian sedang menyelesaikan gaun pesanan Nyonya Maureen? Yang aku tahu, Nyonya Maureen itu kan agak cerewet. Soalnya tiap pesan menu di restoranku dia juga hampir tiap menit telepon untuk menanyakannya." Dewa memberi penjelasan atas pertanyaannya barusan.


"Ouh, aku sudah mendiskusikannya dengan Kyra tadi. Dan aku yakin Kyra mampu mengatasi hal itu dengan mudah," jawab Ariana. "Kakak mau sarapan?"


"Tidak usah, aku akan sarapan di restoran nanti," tolak Dewa. "Maaf ya Ri, aku harus ke restoran sekarang. Nanti setelah bekerja aku akan ke sini untuk melihat keadaan ibumu lagi."


Riana mengangguk.


Sebelum keluar dari ruang rawat tersebut. Dewa memeriksa telepon genggamnya. Disana ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan dari Kyra dan Anne.


Dewa membuka pesan yang dikirim oleh istrinya terlebih dulu. Dari waktu yang tertera istrinya mengiriminya pesan subuh tadi. Dia cuma bertanya tentang kondisi ibunya Riana. Kemudian Dewa beralih melihat pesan yang dikirim oleh adiknya, Anne. Dan dari waktu yang tertera, pesan tersebut dikirim oleh Anne sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Tidak. Aku benar-benar harus ke restoran sekarang. Aku pamit ya, Ri."


"Iya, Kak."


Dewa pun berjalan ke arah pintu untuk keluar dan saat akan membuka pintu tersebut, seseorang juga sudah terlebih dulu membukanya dari luar.


Kedua orang yang sama-sama membutuhkan penjelasan tersebut saling menatap dalam diam.


"Kyra, kamu datang? Ayo masuk!" suruh Ariana.


Kyra mengangguk.

__ADS_1


"Kak, kok masih diam? Katanya mau ke restoran?" tanya Ariana yang melihat Sang Kekasih masih berdiri depan pintu.


"Iya, ini aku udah mau jalan," jawab Dewa dengan mata yang masih terfokus menatap Kyra. "Aku pergi sekarang ya," lanjutnya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Tante Anita?" tanya Kyra sambil melangkah masuk ke ruang rawat tersebut.


"Alhamdulillah baik," jawab Ariana. "Kenapa kamu ke sini? Bukan kah di butik lagi banyak kerjaan?"


"Semua sudah terhandle, makanya aku sempatkan ke sini," jawab Kyra. Padahal bukan itu alasannya. Dia sendiri bingung kenapa ia malah lari ke tempat ini setelah mengetahui perasaan Dewa yang sebenarnya.


"Ra," panggil Riana.


"Iya?"


"Ada apa? Kamu punya masalah? Kenapa kamu terlihat seperti orang bingung?" Riana kembali bertanya.


"E... tidak ada, Ri," jawab Kyra. "Aku langsung pamit lagi ya. Aku lupa kalau ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku pergi ya, Ri. Assalammualaikum."


Belum sempat Riana menjawab, Kyra sudah berlari keluar.


"Aneh. Kenapa Kyra begitu ya?" gumam Ariana. Dia pun kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur ibunya.


***


Dengan napas tersengal Kyra berlari untuk menyusul Dewa. Dia ingin tahu apa semua hal yang dikatakan oleh Anne tadi adalah benar. Atau hal itu hanya sebuah karangan dari adik iparnya tersebut.


"Dimana Kak Dewa? Apa dia benar-benar sudah meninggalkan rumah sakit?" gumam Kyra. Ia menatap ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan suaminya.


"Pasti dia sudah pergi. Sudahlah, nanti aku bisa tanyakan hal itu di rumah." Kyra kembali bermonolog.

__ADS_1


"Apa kamu mencariku?" suara seseorang dari belakang Kyra membuat wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Ia kemudian berbalik dan menatap orang yang berdiri tepat di hadapannya.


__ADS_2