
Siang harinya keadaan Arsya sudah semakin membaik, demamnya juga sudah turun. Sesuai janjinya, Ryan membawa Arsya untuk menemui manager hotel.
"Om, kira-kira Arsya bakalan bisa ketemu sama papa nggak ya?" tanya Arsya ketika mereka sedang berdiri di depan pintu ruang manager.
"Kalau Allah sudah mentakdirkan Arsya ketemu sama papanya Arsya, pasti bakalan ketemu kok," jawab Ryan.
"Tapi, jika ternyata papanya Arsya masih di luar kota gimana? Artinya Arsya nggak bisa ketemu dengan papa dong kan nanti sore kita mau balik ke Surabaya." Arsya terlihat sedih saat membayangkan dirinya tidak bisa bertemu dengan papanya hari ini.
"Itu artinya Allah belum ngasih izin Arsya buat ketemu sama papa. Tapi, Om Ryan yakin kok cepat atau lambat Arsya pasti bakalan ketemu sama papa. Jadi, Arsya nggak boleh sedih misal hari ini belum bisa ketemu." Ryan berusaha memberi pengertian kepada keponakanya.
Tidak lama pintu ruang manager itu dibuka. Ryan dan Arsya dipersilakan masuk oleh salah satu staf hotel.
"Silakan masuk, Nona Anne sudah menunggu di dalam!" Staf tersebut mempersilakan.
Ryan sedikit membungkuk. Dia kemudian melangkah masuk ke ruangan tersebut bersama dengan Arsya.
"Silakan duduk!" Anne mempersilakan Ryan dan Arsya untuk duduk.
"Kata pelayan kalian ingin bertemu denganku, apa itu benar?" tanya Anne. Dia menatap Ryan dan Arsya bergantian.
Ryan mengangguk. "Kami ingin menanyakan sesuatu kepada Anda," jawabnya.
"Tentang?"
Ryan menatap Arsya sebentar. Dia tahu ini kesempatan terakhir mereka untuk bisa bertemu dengan pemilik hotel ini.
"Ini soal pemilik hotel ini."
"Kenapa dengan pemilik hotel ini? Kenapa kalian ingin sekali bertemu denganya?" tanya Anne dengan tatapan menelisik.
"Sebenarnya Arsya adalah.... "
Belum sempat Ryan menjelaskan, ada telepon masuk. Anne terpaksa menginterupsi penjelasan yang akan Ryan kemukakan.
__ADS_1
"Maaf ya, aku harus menjawab telepon dulu."
Anne bangun dari kursinya, ia sedikit menjauh untuk menjawab telepon yang baru saja masuk.
***
"Apa ini hotelnya, Ra?" tanya Maya ketika mereka tiba di halaman parkir hotel.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya mobil yang dikendarai Arfan tiba di depan halaman hotel Galaksi, salah satu hotel terbesar di kota Jakarta.
"Iya, Ma. Aku baca itu di majalah, ini adalah hotel milik Kak Dewa yang baru," jawab Kyra.
"Kamu yakin Arsya dan Ryan ada di hotel ini?" tanya Arfan.
"Entahlah, Pa. Ryan belum juga mengaktifkan ponselnya. Jadi aku belum tahu di hotel mana mereka menginap."
"Lebih baik kita masu sekarang dan tanyakan kepada Dewa!" Maya menyarankan. Menurutnya akan lebih baik mereka bertanya langsung kepada Dewa.
Kyra mengangguk.
"Pak Dewa saat ini sedang menunggu anaknya untuk makan siang."
"Dimana?" tanya Kyra.
"Di lantai paling atas. Itu adalah tempat makan keluarga dan orang luar dilarang ke sana," jelas mbak-mbak yang berada di meja resepsionis. "Nyonya Ariana dan putrinya sudah berada di sana."
Mendengar jawaban sang resepsionis semakin membuat Kyra cemas. Ia takut putranya benar-benar akan ditolak oleh ayah kandungnya sendiri.
"Ma, bagaimana kalau Kak Dewa menyangkal keberadaan Arsya? Arsya pasti akan sakit hati, aku tidak bisa membiarkan putraku sakit hati."
"Kalau begitu kita ke tempat itu saja!" Maya berujar. Ia juga merasakan ketakutan yang sama. Rasanya ia tidak rela jika harus melihat cucunya sakit hati nantinya.
Maya, Arfan, dan Kyra segera menuju ke tempat yang dimaksud tak peduli dengan larangan resepsionis itu.
__ADS_1
***
"Ma, dimana papa? Kenapa papa belum datang juga? Katanya kita mau makan siang bareng?" tanya Caca yang sudah duduk di meja makan yang sudah disediakan.
"Sebentar lagi papa pasti dateng. Kamu tenang saja ya Sayang," jawab Ariana. Ia yakin Dewa tidak mungkin mengingkari janji untuk makan siang bersama dengan Caca.
Ariana tersenyum senang saat melihat kedatangan Dewa bersama dengan beberapa stafnya.
"Itu papa!" tunjuk Ariana.
Caca bangun dari tempat duduknya dan berlari mendekati Dewa. Gadis kecil itu juga berteriak memanggil papanya.
"Papa," panggil Caca.
Disaat bersamaan, Anne yang baru saja datang melalui pintu lain juga terkejut ketika Arsya yang datang bersamanya juga memanggil Dewa dengan sebutan papa.
"Papa," panggil Arsya.
"Papa?" Anne mengernyit. Dia menatap Ryan untuk menuntut penjelasan.
Dewa masih diam di tempatnya, dia juga bingung saat mendengar ada anak kecil selain Caca yang memanggilnya dengan sebutan papa. Terlebih ketika melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengannya.
Caca dan Arsya memeluk Dewa bersamaan.
"Pa, Caca kangen sama papa," ucap Caca.
"Papa, ini Arsya. Arsya sangat rindu sama Papa. Arsya bahagia akhirnya Arsya bisa bertemu Papa dan bisa memeluk Papa secara langsung. Arsya sangat merindukan Papa."
"Dia papaku, kenapa kamu memanggilnya papa!" Caca tidak suka ada orang lain yang memanggil papanya dengan sebutan papa. Anak itu mendorong Arsya hingga terjatuh.
"Arsya, kamu tidak apa-apa kan. Sayang?" tanya Kyra yang baru saja tiba. Dia membantu putranya untuk berdiri. "Apa ada yang sakit?" tanya Kyra lagi. Dia memindai tubuh anaknya guna memastikan tidak ada luka di tubuh putra semata wayangnya.
"Kyra, apa maksudnya ini?" tanya Dewa. "Apa dia benar-benar anakku?"
__ADS_1
Dewa menatap mantan istrinya tersebut untuk menuntut penjelasan.