Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 65


__ADS_3

"Papa?!" desis Dewa ketika tahu yang mengambil ponsel dari tanganya itu adalah Alfian.


"Sebaiknya kita langsung ke lokasi. Seandainya itu nomor warga, kita akan tetap bisa bertemu dengannya kan? Tapi... jika itu nomor dari salah satu penjahatnya, maka Arsya akan dalam bahaya jika ia ketahuan sudah mengirimi kita pesan." Alfian yang baru datang menyampaikan pendapatnya.


Beberapa saat sebelumnya Alfian yang saat itu sedang berada di rumah bersama sang istri Hania dikejutkan dengan berita yang dibawa oleh Anne tentang Arsya. Mengetahui bahwa mereka memiliki cucu lain selain Caca membuat Alfian dan Hania tak sabar ingin berjumpa dengan bocah yang katanya memiliki kemiripan wajah yang hampir 100 persen dengan Dewa itu. Keduanya langsung menuju ke hotel milik putranya itu. Sayangnya saat dalam perjalanan, Anne kembali menghubungi mereka dan mengatakan bahwa Arsya hilang. Dan dari cctv hotel, bocah itu dibawa oleh 3 orang yang tidak dikenal.


Marah, panik, dan khawatir itulah yang Alfian dan Hania rasakan. Keinginan untuk bertemu dengan cucu mereka pun terpaksa harus tertunda karena insiden itu.


"Apa anak itu benar-benar mirip sepertimu?" tanya Hania.


"Iya, Ma. Maaf, karena aku tidak segera memberitahu mama dan papa. Rencananya setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Ariana, aku baru akan mengabari mama dan papa tentang ini. Sekalian mengumumkan perpisahanku dengan Ariana," jelas Dewa.


"Ini bukan waktunya untuk meminta maaf, lebih sekarang temukan Arsya secepatnya. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Hm?" ujar Hania.


Dewa mengangguk.


"Dimana Caca?" tanya Hania karena tidak melihat keberadaan Caca di sana.


"Caca ada bersama dengan Anne dan Amran. Aku ingin bisa fokus mencari Arsya, jadi kuserahkan urusan Caca kepada mereka." Kembali Dewa menjawab.


"Wa, kamu kirim lokasi yang dikirm Arsya ke hp Papa dan Arfan. Kita bertiga berpencar untuk datang ke sana. Sekalian kirimkan lokasi itu ke pihak kepolisian. Biar mereka juga bisa ikut mendeteksi keberadaan Arsya sekarang!" seru Alfian.


"Baik, Pa." Dewa melaksanakan segala hal yang sudah diatur oleh papanya.


Alfian menatap Arfan, keduanya sama-sama mengangguk seolah berkata bahawa tidak apa-apa tidak saling sapa sekarang karena saat ini prioritas mereka semua adalah menemukan Arsya secepatnya.


Para laki-laki sudah pergi untuk mencari Arsya. Tinggal para perempuan yang masih berada di tempat tersebut. Maya dan Hania mendekati Kyra, keduanya kembali berusaha untuk menenangkan Kyra.


***


Akhirnya Ariana tiba juga di gedung kosong tempat orang-orang suruhannya menyembunyikan Arsya. Ariana datang ke lokasi tersebut dengan berjalan kaki, dia sengaja memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari gedung tersebut.


"Dimana anak itu?" tanya Ariana ketika tiba di lokasi.


"Eh, si Bos. Akhirnya si Bos datang juga. Kami sudah menunggu Bos agak lama lho," ujar penajahat bertato. "Bos sudah bawa duitnya kan?" tanyanya.


"Sudah, tenang saja. Uang untuk kalian semua sudah aku sediakan. Jadi, misal semua kartuku diblokir sekalipun aku masih ada uang untuk membayar kalian," jawab Ariana.


"Kalau begitu mana uangnya, Bos?" Si laki-laki bertato mengadahkan tangannya.


Ariana mengambil amplop dari dalam tas dan menyodorkannya. "Ini uang kalian. Itu pas dan sudah sesuai dengan kesepakatan kita," ucapnya.


"Terima kasih, Bos. Senang bisa bekerja sams denganmu." Si penjahat bertato mengambil amplop dari tangan Ariana lalu menciumn amplop berisi uang tersebut.


"Ngomong-ngomong dimana anak itu?" tanya Ariana karena dari tadi ia belum melihat Arsya.

__ADS_1


"Bocah itu lagi makan, Bos. Katanya dia lapar, jadi tadi aku beliin dia nasi bungkus di warung yang tidak jauh dari sini," jelas penjahat bertato.


"Jadi, kamu sempat keluar dari gedung ini?" tanya Ariana.


"Iya, Bos. Tapi, Bos jangan khawatir tadi warung itu masih sepi kok. Tidak ada yang melihat saya keluar dan masuk ke gedung ini," jelas si pria bertato.


"Dasar Bodoh! Bagaimana kalau penjual itu mengenalimu tadi. Apa kalian tidak tahu, polisi baru saja merilis wajah kalian bertiga di televisi." Ariana memberitahu. Dia terlihat kesal dengan kesalahan fatal yang dilakukan oleh orang suruhannya. "Sekarang dimana anak itu?"


"Ada, Bu, ada."


Si penjahat bertato itu membawa Ariana ke tempat Arsya. Saat itu ia melihat Arsya sedang menikmati nasi yang beberapa saat yang lalu dibeli oleh si pria bertato.


"Selain meminta makanan, apa ada hal yang diminta oleh anak itu?" tanya Ariana.


"Tadik ada, Bos," jawab pria beratato tersebut.


"Tadi dia sih minta pipis," celetuk si Botak


Ariana mengernyit. "Pipis?" tanyanya.


"Iya, pipis," jawab si Botak. "Kan tadi lo yang nemenin dia pipis."


Ariana memberikan tatapan tajamnya kepada pria bertato yang berdiri di sampingnya.


"Hanya pipis, memangnya orang tidak boleh pipis."


"Tadi... Saya sempat meminjamkan handphone saya buat dijadikan penerangan karena tidak ada penerangan di toilet," jawab si pria bertato.


Buru-buru Ariana mengambil telepon genggam milik pria bertato. "Berapa nomor sandinya?" tanya Ariana.


"12 empat kali, Bu Bos," jawab pria bertato lagi.


Aria segera menekan nomor sandi tersebut. Ia kemudian memeriksa log panggilan dan pesan terkirim. Tidak ada nomor asing di sana. Tapi, Ariana yakin kalau Arsya pasti sudah menghubungi seseorang dengan nomor itu.


Ariana berjalan mendekati Arsya, dia sengaja menepis makanan yang sedang dimakan oleh anak itu dan membuat makanan itu jatuh berserakan di lantai.


"Katakan! Kamu sudah menghubungi siapa saja dengan ponsel itu! Cepat katakan!" sentak Ariana.


"Tante tanya apa?" jawab Arsya yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Jangan berlagak bodoh deh. Cepat katakan!" Karena Arsya masih kekeh pura-pura tidak tahu, Ariana menarik tangan Arsya dan melemparnya ke lantai.


"Bos." Spontan ketiga penculik itu berseru. Mereka tidak percaya kalau wanita yang ada di hadapan mereka ternyata lebih keji dari mereka. Selama menjadi penjahat, mereka tidak pernah menyakiti anak kecil.


"Aku benar-benar tidak melakukan hal yang Tante tuduhkan," ujar Arsya. Setidaknya ia harus bisa bertahan sampai papa-mamanya datang.

__ADS_1


"Jangan mengelak! Aku tahu kamu pasti sudah menghubungi seseorang dengan handphone itu! Cepat ngaku sebelum aku benar-benar melenyapkanmu!" Ariana masih tetap yakin bahwa anak dari Kyra dan Dewa itu pasti sudah sudah menghubungi seseorang menggunakan ponsel tersebut.


"Bos. Tadi dia memang sempat pegang hp saya, tapi dia cuma pakai sebagai senter saja karena saya yang menyalakan ponsel itu. Dia tidak mingkin tahu sandi ponsel saya, Bos." Si pria bertato kembali ikut berbicara.


"Kamu yakin dia tidak berkomunikasi dengan orang lain dengan ponselmu itu?" Ariana berusaha terus menekan.


"Saya... saya.... " Si pria bertato tampak ragu.


Pada saat bersamaan terdengar bunyi sirine mobil polisi yang mendekat ke gedung itu. Bahkan terdengar seruan dari luar untuk mereka menyerah.


"Sial!" Ariana mengumpat. "Lihatlah! Gara-gara kebodohan kalian kita sudah dikepung oleh polisi!" Ariana memarahi anak buahnya.


"Aku harus bisa kabur dari sini. Iya, aku harus kabur," gumam Ariana. Tanpa pikir panjang dia menarik Arsya dan membawanya pergi dari sana. Ariana yakin selama ada Arsya bersamanya mereka tidak akan menangkapnya.


Si kribo melihat kondisi di luar gedung, ternyata benar mereka.sudah dikepung oleh puluhan polisi. Tidak ada jalan bagi mereka untuk bisa kabur dari sana. Jika mereka tetap nekat melawan polisi yang ada mereka akan mati konyol. Akhirnya ketiga penjahat itu memilih untuk menyerahkan diri.


***


Ariana terus beralari naik ke atap gedung sambil membawa Arsya. Anak itu terus berusaha memberontak, sayangnya karena kalah tenaga ia tetap tidak bisa lepas dari cengkeraman tangan Ariana.


"Tante lepaskan! Tante lepaskan!" teriak Arsya.


"Tidak akan! Jika aku harus mati, maka kamu harus ikut mati bersamaku. Ayo ikut!" Ariana masih terus menarik Arsya naik ke atap gedung.


Beberapa polisi sudah ada yang masuk ke dalam gedung, Kyra dan Dewa juga ikut masuk bersama mereka. Saat mengetahui Ariana membawa Arsya ke atap gedung, keduanya pun ikut naik ke sana. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu kepada putra mereka.


***


"Ri, hentikan! Aku mohon Ri jangan sakiti anakku!" pinta Kyra ketika melihat Ariana dan Arsya sudah berdiri di pinggir atap gedung.


"Jangan mendekat! Kalau kalian berani mendekat, aku akan membawa putra kalian terjun dari gedung ini!" ancam Ariana saat melihat Kyra dan Dewa berusaha berjalan mendekatinya.


"Ri, katakan padaku, apa yang kamu mau. Asal kamu bebaskan putraku. Aku akan menurutimu!" kini giliran Dewa yang berusaha membujuk.


Ariana tertawa. "Benarkah Kakak akan menurutiku?" tanya Riana dengan nada tidak percaya. Dia menghel napasnya.


"5 tahun kita hidup bersama, tapi selama itu pula Kakak terus menganggapku orang asing. Jangankan menyentuhku, memandangku pun enggan. Yang ada di pikiran dan hati Kakak hanya Kyra, Kyra, dan Kyra. Aku sampai muak mendengar nama itu. Nama yang sejak dulu selalu mengambil semua yang aku inginkan." Ariana berujar. "Kau tahu kenapa sejak dulu aku membencimu Kyra?" Ariana beralih menatap Kyra.


"Kamu selalu memiliki hal-hal yang menjadi impianku. Kamu memiliki kedua orang lengkap, keduanya sangat sayang kepadamu. Sementara aku? Ayah dan ibuku bercerai, sebelum bercerai pun ayahku selalu melakukan kekerasan kepadaku. Aku iri melihat keluargamu. Selain itu keluargamu juga kaya raya, kamu ingin apa tinggal tunjuk. Sementara aku? Aku harus mati-matian mengumpulkan uang sakuku. Saat di sekolah, semua orang juga menyukaimu. Tapi, mereka tidak mau berteman denganku hanya karena aku tidak sekaya dirimu. Makanya, di belakangmu aku terus memfitnahmu dab membuat teman-teman menjauhimu. Aku senang karena berhasil melakukannya, setidaknya akhirnya kamu merasakan hal yang sama denganku. Dan terakhir tentang Kak Dewa. Aku sudah menyukai dia sejak aku kelas 6 SD waktu dia menolongku saat aku dipukuli oleh ayahku. Tapi, dia malah tidak mengenaliku dan malah jatuh cinta kepadamu. Jadi, aku merekayasa surat itu. Awalnya aku senang karena berhasil, tapi kemudian aku tahu kalian berdua ternyata sudah menikah karena dijodohkan. Aku benar-benar benci itu. Makanya akupun membuat rencana baru untuk merebut Kak Dewa lagi dari dirimu, dan sekali lagi, sekali lagi akhirnya aku bisa merebutnya dan menjadikannya milikku. Aku berhasil membuat kalian bercerai dan menikahiku. Ku kira setelah itu Kak Dewa akan jatuh cinta kepadaku. Tapi nyatanya, sikapnya malah dingin terhadapku. Aku benci cara Kak Dewa menatapku. Dia seolah terus menyalahkan aku karena telah memisahkanya denganmu. Tapi, aku berusaha tidak peduli. Seenggaknya aku sudah kembali menang darimu Kyra. Sampai anak ini tiba-tiba muncul, aku yang mengira akan tetap bisa mempertahankan Kak Dewa di sisiku, ternyata tidak bisa karena dia tahu anakku bukan anak kandungnya. Aku benci harus kembali kalah darimu, Kyra. Aku benci dengan nasibku yang tidak seberuntung dirumu. Aku benar-benar membencimu Kyra, sangat benci." Terlihat dari mata Ariana, dia memang sangat membenci Kyra.


"Jika kali ini aku bisa membawa anak kalian mati bersamaku, aku yakin kalian berdua akan sangat menderita, terutama kamu Kyra." Ariana kembali tertawa. "Rasanya senang sekali saat membayangkanmu terus menangisi kepergian putramu," lanjutnya.


"Ri, aku mohon jangan! Putraku tidak tahu apa-apa. Kalau kamu ingin aku pergi dari hidup Kak Dewa, aku akan pergi. Aku tidak akan muncul di hadapan kalian. Tapi, aku mohon jangan sakiti anakku. Aku mohon, Ri!" pinta Kyra.


Riana menatap Kyra dan Arsya bergantian. Dia kemudian tersenyum. "Percuma. Karena akan lebih menyenangkan membuatmu terus menangis seumur hidup. Rasanya akan sangat menyenangkan jika itu terjadi." Riana kembali tertawa.

__ADS_1


"Selamat menangis Kyra!" ujar Riana. Dia sudah memeluk Arsya dan bersiap membawa anak itu terjun bersamanya. Sambil tersenyum Ariana menjatuhkan diri ke bersama dengan Arsya.


"Tidak! Arsya!" teriak Kyra. Dia langsung jatuh pingsan menyaksikan Ariana membawa putranya terjun dari gedung.


__ADS_2