Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 63


__ADS_3

Arsya dibawa ke debuah bangunan kosong yang entah tidak tahu dimana tempatnya. Bocah cilik itu hanya berusaha mengingat berapa kali mobil yang membawanya itu berhenti di lampu merah dan berapa kali mobil itu belok ke kanan atau pun kiri. Anak laki-laki yang belum genap 5 tahun tersebut pernah melihat itu di film detektif yang pernah ia tonton. Kini anak itu sedang berusaha memikirkan cara bagaimana cara dia meminta tolong.


"Hei bocah kenapa lo diam saja?" tanya laki-laki berambut gondrong dengan tato naga di lengan kiri.


"Memangnya aku harus bagaimana, Paman?" Arsya balik tanya. Bocah itu berusaha untuk bersikap seolah biasa saja.


"Takut kek atau gimana gitu?" jawab lelaki bermbut gondrong tadi.


"Memangnya kalau aku takut Paman akan melepaskan aku?" Penjahat itu pun menatap Arsya.


"Tidak juga sih. Kalau kami melepaskan kamu, bisa-bisa kami kena omel sama bos," jawab penjahat satunya lagi.


Orang yang menculik Arsya terdiri dari 3 orang, satu laki-laki berambut gondrong dengan tato naga di lengan kiri, satu laki-laki dengan rambut krebo, satu lagi adalah laki-laki botak. Ketiganya berhasil menculik Arsya saat anak itu terlepas dari pengawasan ibunya.


Saat itu Caca yang terus menangis karena takut dengan ibu kandungnya membuat Kyra bekerja ekstra untuk membuat gadis itu tenang. Arsya yang penasaran dengan apa yang terjadi diam-diam keluar dari kamar untuk kembali ke tempat papanya berada tadi. Sayangnya baru beberapa langkah ia keluar kamar 3 orang tak dikenal tiba-tiba membekap mulutnya dan membawanya pergi. Situasi hotel yang sedang tidak terkendali karena ulah Riana membuat ketiga penjahat itu leluasa membawa Arsya pergi tanpa seorang pun tahu.


Bos? Kata itu berputar di kepala Arsya. Seperti film detektif yang pernah ia tonton, Bos adalah orang yang menyuruh mereka menculiknya. Arsya yang menganggap dirinya sebagai pemeran utama, merasa bangga jika ia berhasil mengetahui siapa orang yang dipanggil bos oleh ketiganya.


"Hei Bocah kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri?" tanya penjahat yang tidak memiliki rambut.


"Tidak apa-apa, Paman," jawab Arsya. "Ohya Paman, aku boleh minta minum tidak? Aku haus!"


"Cih! Dasar bocah, memangnya kita sedang bersenang-senang? Main nyuruh-nyuruh lagi," gumam si Botak.


"Ya sudah, aku nggak akan nyuruh Paman dan akan ambil minum sendiri. Tapi, Paman lepasin dulu ikatan tangan aku." Arsya berujar.


"Hei, lo ambilkan saja apa susahnya sih? Daripada tuh bocah malah kabur, bisa berabe tahu," tegur si rambut krebo.


"Lo aja yang ambilin, gue capek," tolak si botak. "Hei, Drong, kapan tuh Bos mau kesini buat ngasih sisa uangnya ke kita? Aku mau buru-buru kabur dari kota ini. Kalau gue tahu yang kita culik adalah anak pengusaha kaya, ogah gue. Soalnya kalau kita sampai ketngkep polisi, kita pasti dihukum berat karena menculik anak dibawah umur. Gue yakin orang tua tuh bocah bakalan sewa pengacara handal buat nuntut kita."


"Ya kali kita nyulik anak orang kere? Lagian mana ada ceritanya anak orang kere diculik? Memangnya kita mau nyusahin diri sendiri dengan nyulik bocah yang nggak ada duitnya?" sahut si penjahat bertato.


"Tapi seenggaknya bukan anak pengusaha kaya raya itu. Gue yakin, orangtua tuh bocah sudah ngirim orang buat nyari kita. Kalau kita gak cepet-cepet minta uang sisa pembayaran dan kabur yang ada sebelum kita nikmatin tuh duit, kita udah ketangkep sama polisi," jelas si botak.


"Drong. Yang dibilang si botak ada benernya juga. Buruan lo telepon si Bos buat dateng ke sini! Begitu kita dapet uang sisanya, kita langsung kabur. Kalau perlu ke luar negeri sekalian." Si krebo ikut mengiyakan.


"Udah barusan, katanya dia lagi otw," jawab si gondrong.

__ADS_1


Arsya tahu tidak akan ada kesempatan lagi untuk dirinya bisa kabur, jika orang yang dipanggil bos itu datang.


"Paman," panggil Arsya sambil menarik ujung kaos yang dipakai si gondrong.


"Ape, lo?"


"Aku lapar," jawab Arsya dengan memasang wajah memelas seoalah ia benar kelaparan.


"Bukannya kamu baru makan tadi sebelum kami culik?" si gondrong balik bertanya.


"Tadi aku baru makan makanan pembukanya doang dan itu pun masih sedikit. Tapi, Paman tiba-tiba membawaku. Makanya aku masih lapar," terang Arsya yang masih dengan aktingnya.


"Bagaimana ini? Kita mau beliin tuh bocah makanan atau nggak?" Si Gondrong menanyakan pendapat temananya yang lain.


"Udah cuekin aja, bentar lagi si bos juga dateng. Biar itu jadi urusan dia," jawab si botak.


"Hei bocah, udah dengar kan? Lo tahan laper lo sampai bos dateng!" seru si gondrong.


Mendengar hal itu Arsya semakin memasang wajah memelasnya. Dia sengaja memegangi perut sambil meringis seolah ia sedang menahan lapar.


"Iya, Paman. Aku akan tahan. Tapi, kalau aku pingsan, paman semua harus nolongin aku ya!" jawab Arsya.


"Menurut kalian bocah itu beneran bakal pingsan nggak sih?"


Penjahat bertato dan penjahat kribo menatap Arsya. Keduanya terlihat mengamati bagaimana keadaan Arsya sekarang.


"Bo, sana lo beliin dia makanan! Takutnya dia bener-bener pingsan lagi. Kan berabe!" Si penajahat bertato berseru.


"Oke deh, gue cariin makanan dulu untuk tuh bocah. Ingat ya lo berdua harus jaga dia baik-baik. Takutnya dia kabur sebelum bos datang!" Penjahat berambut kribo itu memperingatkan rekannya untuk waspada.


"Sip," jawab dua orang yang lain bersamaan. Si Kribo akhirnya melenggang keluar gedung untuk membelikan makanan buat Arsya.


***


"Paman, aku mau pipis!" kali ini Arsya berpura-pura ingin buang air kecil. Dia menarik ujung kaos si penjahat bertato. Kedua tangan Arsya memang masih terikat, tetapi penjahat itu mengikatnya di depan, kadi Arsya masih bisa menggerakkan tangannya hanya untuk sekedar menarik ujung kaos.


"Ya, udah pipis aja!" jawab Si penjahat bertato.

__ADS_1


"Beneran aku boleh pipis disini?" tanya Arsya memastikan.


"Iya, pipis aja," jawab si Kribo yang sedang asik bermain game.


"Baiklah, aku pipis di sini." Arsya mulai membuka resleting celananya.


"E, e, e, mau ngapain?" si Botak yang baru saja masuk menginterupsi.


"Mau pipis, paman itu bilang aku boleh pipis di sini," jawab Arsya dengan memasang wajah lugunya.


"Nggak ada, nggak ada! Ntar tempat ini bau pesing lagi. Kalau lu mau pipis sono di kamar mandi!" jawab si Botak.


"Tapi, aku takut ke kamar mandi sendirian, Paman."


"Hei, cecunguk anterin tuh bocah ke kamar mandi sono! Gue baru dari sana, males kalau harus balik lagi. Mana kamar mandinya gelap lagi. Kayaknya nih gedung udah lama nggak keurus." Si Botak berujar.


"Namanya juga gedung kosong," jawab penjahat bertato dengan pandangan yang masih fokus ke layar ponsel.


"Eh, cecunguk. Anterin noh tuh bocah ke kamar mandi! Masa iya dia disuruh kencing disini, tempat ini bisa bau tahu!" seru penjahat yang memiliki kepala licin.


"Iya-iya-iya. Dasar bocah, ribet lu!" oceh penjahat itu. Dia memasukkan.ponsel ke dalam saku dan membawa Arsya menuju ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandi yang masih berfungsi di kosong itu berada di lantai dua paling pojok gedung kosong tersebut.


"Sana masuk, gue tunggu di sini!" seru penjahat bertato. Arsya bergeming sambil menunduk.


"Kenapa? Takut?" tanya penjahat itu lagi.


Arsya mengangguk. "Aku takut gelap, Paman," jawabnya.


Penjahat itu melongok ke kamar mandi, memang tidak ada penarangan di dalam sana. Jangankan anak kecil, ia sendiri aja agak merinding melihat kondisi kamar mandi tersebut.


"Nih, pakai hand phone gue buat penerangan! Awas ya, jangan sampai jatuh! Gue tunggu disini!" Si penjahat bertato memberikan ponselnya kepada Arsya. Ia yakin bocah itu tidak akan bisa menggunakan ponsel itu karena untuk membuka layar ponselnya tersebut harus menekab beberapa kata sandi yang hanya diketahui olehnya sendiri.


"Baik, Paman. Terima kasih," ucap Arsya. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Sebenarnya sejak berada di dalam mobil, Arsya sudah mengamati kata sandi ponsel tersebut. Dia segera mengirim pesan ke nomor mamanya dan memberikan lokasi tempatnya berada saat ini. Setelah pesan itu terkirim Arsya segera menghapusnya agar si penjahat tidak curiga. Tidak lupa ia juga menyalakan keran air agar penjahat itu benar-benar percaya kalau Arsya memang kencing di sana.


"Hei, cepetan! Kencing aja lama amat lu!" panggil si paman bertato.


Arsya pun keluar dari kamar mandi tersebut. "Ini, Paman. Terima kasih." Arsya mengembalikan ponsel tersebut.

__ADS_1


Si penjahat bertato mengamati ponselnya. Ia pun melihat riwayat panggilan di layar ponselnya dan tidak menemukan sesuatu di sana. Ia juga memeriksa pesan yang terkirim, baik di wa atau pun pesan biasa.


"Ya udah ayo kembali ke ruang tadi!" Penjahat itu pun kembali membawa Arsya ke tempat sebelumnya.


__ADS_2