
"Tapi, Pa.... "
"Kecuali ada orang lain yang menemanimu," tambah Arfan. "Ingat! Kamu dan Dewa bukan lagi suami-istri, tidak seharusnya kalian bertemu berduaan apalagi di dalam kamar."
Kyra mengangguk. Dia tahu memang tidak seharusnya dia menemui Dewa berduaan di dalam kamar.
"Kak, aku temenin ya. Aku juga ingin kenal lebih dekat dengan anak Kak Kyra dan Kak Dewa." Anne menimpali. Dia memang sudah sempat berkenalan dengan Arsya kemarin, tetapi itu hanya sekilas dan kali ini ia berharap bisa lebih dekat keponakanya tersebut.
"Tapi, bukannya kamu dan Amran ada pekerjaan?" tanya Kyra menoleh ke arah Anne dan Amran.
"Tidak apa-apa, aku bisa menyelesaikan pekerjaan itu sendiri," sahut Amran.
"Tuh kan, Kak. Jadi, ayo kita ke kamar Kak Dewa!" ajak Anne, dia menarik tangan mantan kakak iparnya tersebut.
"Ma, Pa, aku ke tempat Arsya dulu ya. Mama dan Papa silakan istirahat! Kalian bisa pesan kamar di sini," pamit Kyra.
"Jangan khawatir, Ra. Barusan Pak Dewa menyuruhku menyiapkan kamar untuk kalian semua." Kembali Amran menimpali. "Tuan Arfan, Nyonya Maya, mari ikut saya! Saya akan tunjukan kamar Anda sebelum mulai bekerja!" ajaknya.
__ADS_1
Arfan dan Maya mengangguk, keduanya pun kemudian mengikuti Amran.
"Ayo, Kak!" ajak Anne lagi. Kyra pun ikut pergi dari sana bersama Anne.
***
Dengan perasaan dongkol Ariana meninggalkan hotel menuju ke parkiran. Dia masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya melempar tas slempang ke jok di sebelah jok pengemudi.
"Sial, sial, sial! Kenapa Kyra harus muncul lagi sih?" gerutunya. Ariana bahkan memukul setir berkali-kali.
"Tapi bagaimana caraku agar Caca tetap memilih bersamaku? Selama ini justru Kak Dewa yang merawatnya, anak itu juga lebih dekat dengan Kak Dewa dan keluarganya dibandingkan dengan diriku." Ariana masih bingung mencari cara agar anak kandungnya itu semakin dekat dengannya. "Ah, sudahlah lebih baik aku ke butik sekarang," lanjutnya.
Kebetulan ada telepon masuk dan itu dari Neli, orang kepercayaan Ariana di butik. "Ada masalah apa tuh bocah menelponku?" desis Ariana. Dia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ada apa, Nel? Apa ada sesuatu yang terjadi di butik?" tanya Ariana.
"Maaf, Bu. Ada masalah besar yang terjadi di butik," jawab Neli dari ujung sana. Dari nada bicara yang terdengar, Neli kelihatan panik.
__ADS_1
"Masalah besar? Masalah apa?" tanya Ariana lagi.
"Anu, Bu. Para peseerta lomba yang Ibu adakan kemarin menuntut ganti rugi," jawab Neli.
"Maksudnya?"
"Mereka yang tidak menang, tidak terima kalau desain mereka diproduksi di butik Ibu tanpa ada royalti. Apalagi nama mereka tidak ikut tertera di brand milik Ibu," jelas Neli.
Iya, sudah 3 tahun ini Ariana sengaja mengadakan lomba desain di butiknya. Ia sengaja melakukan itu untuk mendapatkan desain yang bagus karena sudah beberapa kali ia mencoba mendesain sendiri, hasilnya selalu kurang diminati di pasaran. Dan setelah ia mengadakan lomba dan memproduksi desain-desain dari peserta lomba, butiknya semakin maju pesat. Dia bahkan tidak perlu mengeluarkan uang yang terlalu besar untuk mendapatkan desain-desain yang bagus dari semua peserta lomba.
"Bilang sama mereka bahwa siapa pun yang ikut lomba artinya dia sudah memberikan desainnya kepada kita," sentak Ariana.
"Tapi, Bu. Mereka tetap tidak terima karena tidak ada kesepakatan di awal bahwa desain para peserta akan diambil alih kecuali bagi mereka yang menang," terang Neli lagi. "Bu, Ibu bisakan ke butik sekarang? Keadaan di butik semakin tidak terkendali."
Ariana mendengkus kesal. "Iya-iya, aku ke butik sekarang." Terpaksa urusan Kyra harus Ariana ke sampingkan. Dia harus menyelesaikan masalah yang terjadi di butiknya terlebih dulu atau butiknya akan mengalami kerugian yang besar.
Ariana mengendarai mobilnya meninggalkan parkiran hotel.
__ADS_1