Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - 55


__ADS_3

Dewa tersenyum ketika melihat akhirnya Caca mau mengulurkan tanganya kepada Kyra dan Arsya. Setidaknya langkah pertama untuk mendekatkan Caca dengan Kyra dan Arsya berhasil, meskipun belum seratus persen.


"Pa, Caca mau pulang. Caca sudah ngantuk dan ini sudah waktunya Caca bobo siang!" pinta Caca sambil memeluk Dewa.


"Tapi.... " Dewa melihat ke arah Arsya. Dia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan anak kandungnya itu.


Pun dengan Arsya, anak itu terlihat bingung. Ini pertama kalinya ia bisa bertemu dan bercengkerama langsung dengan ayah kandungnya, tetapi sekarang ayahnya justru akan pergi meninggalkanya bersama Caca. Hal yang belum bisa diterima oleh otaknya.


Jika dia anaknya, lalu apa hubungan ayahnya dengan Caca? Apa dia juga anak dari ayah kandungnya itu? Pikiran itulah yang muncul di otak Arsya.


"Ayo, Pa, Caca sudah ngantuk!" rengek Caca sambil terus mengguncang-guncangkan tangan Dewa.


Kali ini Ariana tersenyum senang. Jika tadi ia sempat hampir kalah karena Caca akhirnya mau berkenalan dengan Kyra dan anaknya, tetapi tidak kali ini. Ia yakin Dewa tidak akan mungkin menolak keinginan Caca.


"Ma, bukankah Arsya anaknya papa? Tapi, kenapa Arsya nggak bisa menghabiskan waktu bersama papa sesuka Arsya?" lirih Arsya. Wajah anak itu kini terlihat murung.


Kyra melirik Dewa sebentar. Rasanya dia tidak tega memaksa putranya untuk mengalah demi Caca. Tapi, bukan salah Caca juga bersikap manja kepada Dewa karena yang gadis kecil itu tahu, Dewa adalah papa kandungnya.

__ADS_1


"Sayang. Kamu kan juga baru sembuh dan kamu juga harus istirahat. Kita kembali ke kamar dulu dan biarkan papa nemenin Caca pulang ya. Nanti Arsya bisa main lagi sama papa. Oke." Kyra berusaha membujuk putranya agar mau mengerti.


"Kenapa papa tidak nemenin Arsya tidur? Kenapa hanya anak itu yang ditemani oleh papa? Arsya kan juga anaknya, Ma?" protes Arsya.


Sakit. Itulah yang Dewa dan Kyra rasakan, melihat putranya sedih. Dewa ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersama dengan putra yang baru diketahuinya itu. Tapi membiarkan Caca pulang bersama Ariana juga bukan pilihan yang baik. Dewa takut Ariana akan menyakiti Caca jika ia membiarkan Caca pulang bersama dengan wanita yang hatinya sudah ditutupi oleh obsesi itu.


"Caca, Caca pulang bareng onty yuk! Setelah ini papa masih ada kerjaan di hotel. Jadi, nggak bisa nemenin Caca tidur. Biar Onty yang nemenin Caca tidur ya! Nanti kalau pekerjaan papa sudah selesai, papa bakalan nyusul Caca. Mau ya Caca pulang dan tidur bareng onty?" Anne ikut membujuk keponakanya. Ia tahu, kakaknya dalam situasi yang sulit saat ini.


"Tidak mau! Caca mau bobo sama papa, Onty. Caca kangen sama papa. Sudah satu minggu Caca nggak ketemu sama papa. Caca mau bareng-bareng papa terus." Caca masih menolak dan merengek.


"Ra, aku.... " Belum sempat Dewa menyelesaikan ucapanya, Kyra sudah menyela.


"Aku akan secepatnya kembali," ucap Dewa. Dia berjanji akan segera menemui putranya itu setelah mengantar Caca pulang.


"Belum juga sehari bertemu dengan anak kandungnya, laki-laki itu sudah menyakiti hati Arsya. Apa kamu yakin akan kembali dengan pria seperti itu?" Maya berbicara sinis.


Sebagai seorang ibu dan nenek, Maya tentu sakit hati melihat cucu kesayanganya sedih karena harus mengalah demi anak orang lain. Anak dari wanita yang sudah menyakiti hati putrinya.

__ADS_1


Dewa yang hendak melangkah meninggalkan tempat itu kembali menghentikan langkahnya.


"Ma.... "


"Kyra, mama masih bisa tahan jika kamu yang diabaikan. Tapi, mama tidak akan tahan jika laki-laki itu menyakiti cucu mama," sentak Maya.


"Pa, kenapa berhenti? Caca udah ngantuk, ayo pulang!" rengek Caca lagi.


"Ma, Kak Dewa hanya meminta Arsya untuk menunggunya sebentar. Dia akan secepatnya kembali setelah berhasil memberi pengertian kepada anak itu? Anak itu hanya kecil, Ma, dia belum tahu apa-apa," ucap Kyra kepada mamaya.


"Terus kamu anggap anakmu sudah besar? Jadi, dia yang harus mengalah?"


"Bukan begitu, Ma, tapi.... " Kyra berusaha membela.


"Sudah. Pokoknya, jika dia berani melangkah pergi dari sini, selamanya mama tidak akan mengizinkanmu kembali dengan laki-laki itu, apalagi mengakui Arsya sebagai anaknya, sela Maya yang masih emosi. "Dan sore ini juga kita kembali ke Surabaya!" ancamnya.


"Pa, ayo pulang!" Caca masih terus merengek.

__ADS_1


Melihat situasi yang memanas seperti itu tentu saja semakin membuat Ariana senang.


__ADS_2