
"Hei, Anne. Kenapa kamu bisa masuk ke rumahku. Hm?" tanya Dewa kepada adiknya.
"Sia-sia aku mengkhawatirkan Kakak dan Mbak Kyra." Bukannya menjawab, adik satu-satunya dari Dewa itu malah menggerutu. Bukan menggerutu karena kesal, dia hanya merasa kalau kekhawatirannya tadi sia-sia. Tetapi, melihat kakak dan kakak iparnya yang terlihat harmonis seperti sekarang membuatnya ikut merasakan kebahagiaan itu.
Iya, suara dehemen barusan berasal dari Anne. Setelah membocorkan rahasia kakaknya kepada sang kakak ipar, Anne khawatir mereka akan bertengkar atau paling tidak kakak iparnya akan marah dengan kakaknya. Makanya dia datang untuk meminta maaf kepada kakaknya. Selain itu memang ada hal yang lain yang akan ia bicarakan kepada kakak dan kakak iparnya.
"Ne, kamu belum jawab pertanyaanku!" tegur Dewa.
"Pertanyaan yang mana ya, Kak?" Anne pura-pura lupa.
"Ck. Sudahlah, nggak usah dijawab. Katakan saja ada urusan apa kamu ke sini!" seru Dewa.
"Sebenarnya tadi alasanku mencari Kakak dan Mbak Kyra karena mau nyampein pesan dari mama dan papa."
"Pesan apa?" tanya Dewa cepat.
"Mama dan papa ngundang kalian berdua buat makan malam. Mereka mau membicarakan soal resepsi pernikahan kalian," jelas Anne.
Kyra menatap Dewa begitu juga sebaliknya.
"Kenapa? Apa kalian tidak bisa datang?" tanya Anne lagi.
"Tentu saja kami bisa. Katakan pada mereka kalau kami akan datang sebelum jam delapan malam." Dewa memberikan jawaban. "Sudah, sekarang sana pergi! Ganggu saja!"
"Ish, iya-iya. Aku paham. Aku akan pergi sekarang," balas Anne. Adik perempuan Dewa itu bangun dari tempat duduknya.
"Taruh kuncinya di meja! Mulai sekarang kalau kamu mau datang ke rumahku harus nunggu sampai salah satu dari kami pulang!" Dewa menyuruh adiknya memberikan kembali kunci rumahnya yang ia pegang.
"Pelit," ucap Anne pura-pura marah. "Tapi, aku ikut seneng lihat kalian berdua romantis begini. Jadi, aku nggak perlu lagi tuh lihat wajah sedih Kak Dewa."
__ADS_1
Anne sengaja berkata begitu untuk menggoda kakak laki-lakinya.
"Sudah-sudah, sana pergi!" Dewa mendorong adiknya sampai ke depan pintu. Ia langsung menutup pintu itu dari dalam.
"Yang semangat ya Kak, aku mau keponakan yang banyak." Masih terdengar suara Anne dari luar.
"Dasar cerewet!" keluh Dewa.
Kyra tersenyum melihat keakraban Dewa. Baru kali ini ia melihat sisi lain suaminya. Iya, ini adalah pertama kalinya, Kyra melihat suaminya salting karena perkataan sang adik.
Hening. Itulah yang terjadi ketika suara Anne tidak lagi terdengar. Keduanya saling menunggu. Hingga pada akhirnya, Kyra lah yang mulai membuka suara.
"E... Anne ternyata lucu ya." Entah apa yang Kyra bicarakan.
"Begitulah," jawab Dewa singkat.
Bukan Kyra tidak sabar ingin disentuh, tetapi jika mereka hanya diam seperti ini bukankah lebih baik kalau waktu itu mereka gunakan untuk bekerja?
Tentu saja, Dewa tidak menginginkan hal tersebut. Dia kembali menarik pinggang istrinya dan kembali menempelkan bibir mereka. Tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, keduanya masuk ke dalam kamar untuk melakukan hal yang memang harus lakukan.
Sepasang suami istri itu pun menyalurkan cinta mereka dengan saling memberikan kehangatan. Udara yang panas di siang hari semakin panas karena kegiatan yang mereka lakukan di dalam kamar. Penyatuan yang hanya mereka lakukan sekali itu tetap saja membutuhkan waktu yang lumayan lama. Dewa melakukannya dengan sangat pelan karena tidak mau membuat Kyra merasakan sakit.
"Terima kasih ya, Sayang," ucap Dewa sambil menutup tubuh Kyra yang masih polos dengan selimut.
"Kakak mau kemana?" tanya Kyra ketika melihat suaminya bangun dan mengenakan celana boxernya yang sempat berserakan di lantai.
"Aku mau mandi dan kembali ke restoran. Hari ini pekerjaanku lumayan banyak," jawab Dewa.
Kyra bangun dari posisinya. "Aku juga mau kembali ke butik. Tadi sepertinya banyak pesan masuk di ponselku," ujar Kyra.
__ADS_1
Saat melakukan kegiatan diatas ranjang bersama suaminya tadi, berkali-kali Kyra mendengar ada notif pesan masuk di ponselnya.
"Mau mandi bareng?" tawar Dewa.
"Tidak. Kakak saja duluan," jawab Kyra dengan wajah kemerahan menahan malu.
"Sayang, kenapa harus malu? Bukankah barusan kita sudah saling melihat semuanya?" goda Dewa.
"Ih, Kakak apaan sih." Kyra mencebik. "Kakak saja duluan, sana!" suruh Kyra, dia tidak mau Dewa terus menggodanya.
"Baiklah-baiklah, kali ini aku duluan. Tapi, lain kali kita mandi bareng ya." Tentu saja perkataan Dewa tersebut membuat Kyra semakin malu.Dewa pun masuk ke dalam kamar mandi.
Sambil menunggu keluar dari kamar mandi, Kyra mengambil telepon genggamnya dari dalam tas untuk membaca beberapa pesan yang masuk. Kyra pun menscroll satu persatu dari pesan-pesan itu sambil membacanya. Namun, ketika ia membaca pesan dari Ariana, matanya langsung membeliak sambil memanggil nama suaminya.
"Kak Dewa! Kak!"
Mendengar teriakan dari Sang Istri tentu saja membuat Dewa panik dan langsung keluar dari kamar mandi.
"Ada apa sih, Ra? Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Dewa.
"Kak lihat in.... "
Kyra tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih memalingkan wajahnya ke tempat lain.
"Ada apa? Kok malah diam?" tanya Dewa.
Kyra hanya menunjuk tubuh suaminya. Dan tentu saja hal itu membuat Dewa penasaran. Ia kemudian mengikuti arah jari Kyra dan ternyata dia keluar dari kamar mandi tanpa ada sesuatu yang menutupi tubuhnya.
"****!" Umpat Dewa, dia pun kembali masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1