Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Cincinmu bagus


__ADS_3

"Kami kebetulan bertemu di depan," jawab Kyra.


"Benarkah?" tanya Ariana dengan tatapan menelisik.


"Tentu saja benar, ngapain kita boong."


Kyra mengeluarkan makanan yang ia bawa. Makanan tersebut sengaja ia beli ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kyra tahu, Ariana pasti lupa untuk memperhatikan kondisinya sendiri.


"Makan dulu ya, Ra. Aku yakin kamu pasti belum makan!" Sahabat dari Ariana itu menyerahkan makanan di tangannya kepada Ariana.


"Aku tidak bisa makan kalau kondisi mama masih seperti itu," tolak Ariana.


"Ri, untuk bisa menjaga Tante Anita, kamu butuh badan yang sehat dan juga tenaga yang cukup. Kalau kamu sakit, Tante Anita pasti akan sangat sedih. Jadi, kamu makan dulu ya. Biar aku yang gantiin kamu buat jaga Tante Anita," bujuk Kyra.


"Tapi, Ra, aku tidak mau makan." Ariana masih menolak.


"Bagaimana kalau kamu makannya disuapin sama Kak Dewa? Apa kamu masih mau nolak?" tawar Kyra, ia langsung mendapatkan pelototan dari suaminya tersebut.


"Tapi.... "


"Kak, suapin Riana ya!" sela Kyra sebelum sahabatnya tersebut menyelesaikan kalimat, ia memindahkan kotak makanan di tangannya ke tangan Dewa.


"Tapi, bukan kah kamu juga belum makan?" tanya Dewa dengan suara lirih.


"Aku bisa makan nanti," jawab Kyra yang juga dengan suara lirih. "Sekarang Kakak ajak Riana pergi dari sini untuk makan. Aku akan disini untuk jagain Tante Anita, kalau ada apa-apa aku akan segera menghubungi kalian!" suruh Kyra lagi.


Dengan terpaksa Dewa menuruti perintah istrinya tersebut. Dia membawa Ariana pergi dari sana untuk mengajaknya makan. Terlepas cinta tidaknya Dewa terhadap Ariana, gadis itu tetaplah sahabat Kyra sekaligus wanita yang sudah bersamanya selama lebih dari 4 tahun ini, tentu Dewa juga mengkhawatirkan keadaannya.


Dewa menghentikan langkahnya ketika ia dan Ariana berada di taman kecil yang ada di samping rumah sakit. Taman itu sengaja dibuat oleh pihak rumah sakit sebagai salah satu upaya untuk memberikan sedikit hiburan bagi pasien yang sakit. Mereka sadar, orang sakit juga membutuhkan tempat untuk mengalihkan pikirannya.


"Kita duduk di sini saja ya, Ri!"


Dewa dan Ariana duduk di salah satu kursi taman yang terbuat dari kombinasi besi dan kayu. Tempat duduk dan sandaran dari kursi itu terbuat dari kayu sementara keempat kaki dan sandaran lengan yang ada disisi kiri-nanan terbuat dari besi.

__ADS_1


"Sekarang ayo buka mulutmu! Aa."


Dewa menyuruh gadis yang masih menjadi kekasihnya tersebut untuk membuka mulutnya.


"Terima kasih ya, Kak, karena kamu selalu ada di sisiku," ucap Ariana sambil mengunyah makan yang ada di dalam mulut.


"Sama-sama, Ri. Ayo buka lagi mulutnya!" Kembali Dewa menyuapi Ariana.


"Harusnya aku terima lamaran Kakak dari dulu. Aku menyesal karena pernah meminta Kakak untuk menunda pernikahan kita sampai aku berhasil mengejar mimpiku. Padahal aku juga bisa tetap mengejarnya, meski sudah menikah denganmu." Ariana menatap lurus ke depan.


"Tidak, apa-apa. Mungkin memang waktu itu belum saatnya kita menikah," jawab Dewa. Dia kembali menyuapi Ariana.


"Semalam aku terus berpikir, apa keputusanku yang menunda pernikahan kita itu tepat?"


"Lalu sekarang apa kamu sudah menemukan jawabannya?" tanya Dewa.


Ariana menatap Dewa. Ia kemudian menerima suapan dari kekasihnya. Setelah makanan di dalam mulutnya tersebut sudah masuk ke dalam kerongkongan yang akan dilanjutkan ke lambung, Ariana pun membuka mulutnya kembali.


"Iya dan aku rasa mama akan lebih tenang kalau kita sudah menikah. Jadi, Kak bisa kah kamu menikahiku sekarang?" Ariana menatap kedua bola mata Dewa. Kali ini dia sungguh-sungguh ingin dinikahi oleh pria yang sudah menjadi pacarnya selama 4 tahun itu.


Dewa tidak mungkin bisa langsung menolak permintaan Ariana tersebut karena hal itu pasti akan membuat wanita yang berstatus kekaaihnya itu mencurigai dirinya. Apalagi, Kyra masih belum ingin mengungkap status pernikahan mereka di hadapan Ariana.


"Kenapa? Apa Kakak sudah berubah pikiran?" desak Ariana.


"Bukan itu. Hanya saja pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral yang tidak bisa diputuskan dengan terburu-buru. Selain karena mamamu sedang sakit, bukan kah kamu dan Kyra sedang mempersiapkan desain untuk ikut perlombaan yang diadakan oleh salah satu perusahaan brand terbesar di Paris? Takutnya itu akan mengganggu persiapan kalian," jelas Dewa. Dia harus mengulur waktu sampai Kyra setuju untuk mengungkap pernikahan mereka di hadapan Ariana.


Ariana tampak berpikir. "Kakak benar. Aku juga menginginkan pernikahan yang meriah. Maafkan aku ya, Kak. Hanya gara-gara aku ingin membuat mama merasa tenang, aku jadi terkesan memaksa Kakak untuk menikah denganku sekarang. Padahal dulu aku yang menyuruh Kakak untuk tidak terburu-buru." Ariana menatap Dewa kemudian tersenyum.


"Tidak, apa-apa. Aku bisa mengerti kok." Dewa sedikit lega karena Arian tidak memaksa untuk menikahinya sekarang.


"Ini suapan terakhir. Ayo habiskan!" Dewa kembali mendekatkan sendok berisi nasi dan lauk ke mulut Ariana.


"Sekarang, aku akan telepon Kyra. Dia juga belum makan sejak tadi pagi." Dewa mengambil ponsel dari dalam saku.

__ADS_1


"Aku akan suruh Kyra ke sini untuk makan. Kamu tunggu dia di sini ya, biar aku yang gantian jaga mamamu. Kamu dan Kyra habiskan waktu kalian di sini sebentar sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran di sini," ujar Angga. Kebetulan beberapa jenis bunga yang ditanam di taman tersebut mulai bermekaran.


"Iya, Kak. Kakak suruh saja Kyra ke sini," jawab Ariana.


"Aku ke tempat mamamu dulu ya. Tunggu Kyra di sini!" titah Angga kepada Ariana.


Sambil menelepon, Angga berjalan meninggalkan Ariana yang masih duduk di kursi. Ariana menatap cincin yang terpasang di jari manis Dewa. Ia yakin pernah melihat cincin yang sama dengan cincin yang dipakai oleh Dewa tersebut.


Tidak lama kemudian, Kyra datang dengan terburu-buru. Dia duduk tepat di sebelah Ariana.


"Padahal aku sudah bilang sama Kak Dewa kalau aku akan makan nanti saja setelah ia makan. Tapi, dia kekeh dan memaksaku untuk makan sekarang." Kyra membuka kotak makanan yang dibawanya.


Dengan sedikit terburu-buru, Kyra mulai menyantap makanan tersebut. Bukan karena ia terlalu lapar, tetapi ia ingin cepat menyelesaikan makannya agar Dewa bisa secepatnya makan juga.


"Pelan-pelan, Ra." Ariana menyodorkan botol berisi air mineral kepada Kyra ketika sahabatnya tersebut tersedak. Dia baru saja membeli air mineral tersebut dari pedagang asongan yang kebetulan berkeliling di taman.


"Terima kasih," ucap Kyra sambil menerima botol air mineral dari tangan Ariana.


"Cincinmu bagus," puji Ariana.


"Ini hanya cincin imitasi." Buru-buru Kyra melepas cincin yang dipakainya.


"Yuk, Ri. Kita kembali ke dalam! Sekarang giliran Kak Dewa untuk makan."


Kyra menyimpan wadah tempat makanan yang dibawanya. Wanita berambut panjang itu, bangun dari kursi tempatnya duduk.


"Ra."


Panggilan Ariana membuat langkah Kyra terhenti. "Aku tahu kamu berbohong soal cincin itu. Itu cincin pernikahan kan?" tanyanya tanpa ekspresi.


"Ri, aku.... "


"Kali ini biarkan aku yang berbicara," potong Ariana. Dia kemudian juga bangun dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan Kyra.

__ADS_1


Seperti seorang pelakor yang ketahuan berselingkuh oleh istri sah. Kyra memegang erat kotak makanan di tangannya. Ariana menatapnya dengan tajam.


__ADS_2