Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 52


__ADS_3

Maya dan Arfan menatap Ryan. Keduanya menunggu penjelasan dari pria yang sudah dianggapnya sebagai putra mereka.


"Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf!" ujar Ryan sambil menunduk.


"Kami tidak sedang menunggu permintaan maafmu, tapi kami sedang menunggu penjalasan darimu!" omel Maya. "Bisa-bisanya kamu membawa Arsya ke Jakarta tanpa seizin Kyra. Bagaimana kalau Arsya kenapa-napa di jalan? Apa kamu mau bertanggung jawab! Hah!" sentak Maya.


"Tante, Om Arfan. Saya benar-benar minta maaf karena tidak meminta izin dulu kepada kalian dan Kak Kyra. Tapi... Arsya mengancam akan pergi sendiri, jika saya tidak mau menemaninya kemarin. Makanya saya terpaksa ikut tanpa memberitahu kalian dulu. Saya minta maaf!" Lagi-lagi Ryan hanya bisa menunduk.


"Ryan, seharusnya kamu kasih tahu kami atau Kyra tentang ini. Coba kalau Bik Lastri masih cuti, pasti kami semua nggak tahu kalau kamu dan Arsya pergi ke Jakarta. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Arsya?" Arfan ikut berbicara.


"Iya, Om, Tante. Saya salah dan saya minta maaf. Sebenarnya sore ini pun kami sudah berencana akan kembali ke Surabaya karena pagi tadi Arsya sempat demam."


"Apa?!" Maya dan Arfan memekik bersamaan.


Ryan langsung membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Arsya demam? Kenapa? Apa sekarang dia sudah baikan?" cecar Maya.


"Sebenarnya tadi malam, Arsya tidak bisa tidur karena tidak melihat wajah Kak Kyra secara langsung. Jadi, dia meminta ditemani untuk melihat bintang supaya bisa tidur. Tapi, ternyata dia tetap nggak tidur. Mungkin karena kena angin malam, makanya dia demam." Ryan terpaksa berbicara jujur toh dia sudah terlanjur kena omel. "Sekali lagi maaf karena saya tidak becus menjaga Arsya." Ryan benar-benar menyesal karena sudah membuat keponakannya itu sakit.


"Sudahlah, semua juga sudah terjadi. Yang penting Arsya sekarang baik-baik saja. Mungkin ini memang cara Tuhan untuk mempertemukan Arsya dengan ayah kandungnya." Maya menghela napas panjang.


Seribu kali ia memaki Ryan pun semua sudah terlanjur terjadi yang penting saat ini Arsya dalam keadaan baik meski sempat sakit pagi tadi.


"Nenek, Nenek dan Kakek jangan marahi Om Ryan. Om Ryan nggak salah, Arsya yang nekad karena ingin bertemu dengan papa." Arsya yang mengira Ryan masih dimarahi oleh nenek dan kakeknya segera menghampiri Ryan dan memeluknya.


"Benar itu, Om?" tanya Arsya kepada Ryan.


"Iya, Arsya sayang. Nenek dan Kakek Arsya cuma bertanya kok," jawab Ryan.


"Arsya kok keluar? Mama sama papa mana?" tanya Maya.

__ADS_1


"Mama dan papa lagi berbicara. Mereka nyuruh Arsya ke tempat nenek dan kakek," jawab Arsya.


"Arsya apa kamu senang bisa bertemu dengan papa kandungmu?" Maya berjongkok di depan cucunya.


"Iya, Nek. Arsya sangat senang. Selama ini Arsya cuma bisa lihat papa lewat foto dan hari ini Arsya bisa meluk papa secara langsung. Arsya tidak pernah sebahagia sekarang, Nek," jawab Arsya.


Maya memeluk cucunya. Dia bisa merasakan kerinduan yang dirasakan oleh cucunya selama ini.


Maya kembali melepaskan pelukanya. "Maafkan nenek ya karena nenek juga tidak mengatakan apa pun tentang papamu!" Maya menyentuh pipi Arsya.


"Tidak apa-apa, Nek. Aku tahu Nenek begitu karena ingin menjaga perasaan mama." Maya tidak menyangka di usianya yang masih sekecil ini Arsya memiliki pikiran dewasa melebihi usianya.


"Nenek bangga sama Arsya." Kembali Maya memeluk cucunya.


Tidak jauh dari mereka, Ariana terlihat sangat gelisah. Dia menyesal karena tidak menyelediki anak kecil itu lebih detail lagi semalam. Jika saja dia tahu Arsya adalah anak Dewa dan Kyra, pasti dari semalam dia sudah menyingkirkan anak itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian merebut Kak Dewa dariku. Kyra lihat saja, aku pasti akan menyingkirkan kamu dan anak kamu dari Kak Dewa. Lihat saja!" batin Ariana. Dia tidak terima jika posisinya saat ini direbut kembali oleh Kyra.


__ADS_2