
Saat ini Kyra sedang berada di salah satu kamar di rumah orang tua Dewa. Mama-papa Dewa menyuruh mereka untuk menginap malam ini. Dan karena tidak enak untuk menolak, keduanya pun setuju.
"Bagimana? Keluarga besarku menyukaimu kan?" tanya Dewa sambil memeluk Kyra dari belakang.
Kyra yang baru saja mengganti bajunya dengan jubah tidur pun mengangguk.
"Aku senang karena ternyata ketakutanku tidak terbukti," jawab Kyra sambil mengusap punggung tangan suaminya.
"Dan aku yakin hal yang sama pun akan terjadi saat kita mengungkapkan hubungan kita pada Ariana."
Kyra menghentikan pergerakan tangannya. Dia memutar badan kemudian menatap kedua bola mata suaminya.
"Aku masih takut, Kak. Aku takut Riana kecewa dan marah sama aku karena ternyata aku sudah merebut Kakak darinya," ucap Kyra.
"Hei, kamu tidak pernah merebutku. Kita bersatu karena takdir, ingat itu!" Dewa membingkai wajah istrinya menggunakan kedua telapak tangan.
"Tapi, dia yang lebih dulu menjadi pacar Kakak."
"Karena surat itu salah sasaran."
__ADS_1
"Dan itu tidak akan terjadi jika bukan karena takdir," balas Kyra.
"Tapi di hatiku hanya ada namamu."
Untuk hal terakhir yang diucapkan Dewa, Kyra tidak bisa membantahnya. Karena bukan hanya namanya saja yang terpatri di hati Dewa, hal yang sama pun terjadi pada dirinya. Nama Dewa lah yang tertulis di hati Kyra baik dulu, sekarang, atau pun nanti.
Kedua bola mata mereka saling bertemu, pelan tapi pasti, Dewa mengikis jarak wajah keduanya. Bibir itu pun kembali bertemu dan membuat gerakannya sendiri. Gerakan yang semakin lama semakin liar hingga membangkitkan hasrat keduanya untuk melakukan lebih.
"Apa aku boleh minta hak ku lagi?" tanya Dewa sela aktivitas bibirnya.
"Disini?" tanya Kyra.
"Kenapa? Ini kan juga kamar," jawab Dewa.
"Mereka pasti mengerti, kan mereka pernah muda," jawab Dewa cuek. "Lagian kamar kita kedap suara Sayang, tidak akan ada yang mendengar apa pun dari sini. Kamu bahkan bisa berteriak kalau kamu mau."
Dewa menghujani Kyra dengan kecupan.
Kyra akhirnya setuju. Ia hanya tersipu malu dengan pipi kemerahan. Dia memang tidak menjawab iya secara lugas, namun pergerakan tubuhnya menunjukkan bahwa dia sudah siap untuk memberikan kehangatan yang diminta oleh suaminya.
__ADS_1
Napas keduanya semakin memburu diantara lenguhan dan erangan yang terdengar malam itu. Derit ranjang tak mereka hiraukan, suara jangkrik yang bercampur dengan suara-suara aneh menjadi saksi bagaimana kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta memberikan kehangatan dan kepuasan kepada pasangannya. Mereka melakukan atas dasar cinta dan saling menginginkan. Hingga akhirnya, kegiatan tersebut pun berakhir dengan senyum kepuasan di bibir mereka.
Dewa berguling ke sisi kanan tempat tidur. "Terima kasih ya, Sayang," ucapnya sambil menarik Kyra agar lebih mendekat kepadanya.
Kyra mengangguk dengan senyum yang terus merekah di bibir.
"Tidurlah! Kita akan pulang ke rumah besok!" suruh Dewa. Iya, malam itu mereka menginap di rumah orang tua Dewa.
*
Kyra dan Dewa sudah bangun sebelum waktu subuh tadi. Setelah mandi dan menjalankan ibadah wajib bagi umat muslim itu keduanya sudah bersiap untuk pulang ke rumah.
"Nanti Kakak yang bilang sama Mama ya, kalau kita harus pulang hari ini!" suruh Kyra, ia tidak berani berpamitan karena semalam mertuanya tersebut sudah memintanya untuk menginap lagi di rumah ini.
"Iya, nanti biar aku yang bicara," jawab Dewa. "Sayang, bantu aku pakai dasi dong!" pinta Dewa.
Namun, tidak ada jawaban dari Kyra.
"Sayang, aku memintamu buat pakein dasi lho, kok kamu malah bengong seperti ini sih?" tegur Dewa lagi.
__ADS_1
Dia segera mendekati istrinya untuk mengetahui apa yang dilihat oleh Sang Istri.
Kyra menjatuhkan ponsel di tangannya. Dia tidak percaya dengan kabar yang baru saja di kirim di ponselnya tersebut.