
Malam itu Kyra mulai mengemasi pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah bolak-balik berpikir akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah suaminya.
"Sayang, sekali-kali bersikaplah egois untuk dirimu sendiri. Memangnya kamu tega membuat anakmu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari papanya? Kyra, Dewa memang kekasih Ariana. Tapi, ingat dia juga suami kamu. Menurutmu lebih kuat mana hubungan antara kekasih dan istri sah? Lagian Dewa juga sudah mengaku kan kalau sebenarnya orang yang dia cintai dari dulu adalah kamu? Jangan takut Riana akan membencimu karena sahabat yang baik tidak akan menyuruh untuk meninggalkan suaminya. Seharusnya ketika ia tahu kamu dan Dewa sudah menikah, diia yang harusnya rela melepaskan Dewa untuk kamu. Tapi, ini? Dia malah menyuruhmu menjauh. Itu bukan sikap seorang sahabat yang baik. Jadi, Kyra, sekarang bersikaplah egois, bukan hanya demi kamu, tetapi juga demi anak yang ada dalam kandunganmu."
Itu lah perkataan panjang lebar dari Maya siang tadi sebelum pulang. Semua yang dikatakan mamanya memang benar, jika Riana adalah sahabat yang baik mana mungkin dia menyuruhnya untuk meninggalkan Dewa. Padahal ikatan antara dirinya dan Dewa jauh lebih sakral dan suci, ketimbang ikatannya yang hanya sebatas pacar. Jika Riana adalah sahabat yang baik, dia juga pasti akan memikirkan hal terbaik untuk sahabatnya.
Iya, kali ini Kyra sudah memutuskan untuk bersikap egois. Jikalau akhirnya Riana marah, maka ia akan terus minta maaf maaf sampai sahabatnya tersebut memaafkannya. Tapi, tanpa harus meninggalkan suami dan ayah bagi calon anaknya.
Rencananya, Kyra akan kembali ke Jakarta besok pagi-pagi sekali. Dia juga sudah menanyakan tentang kondisi kandungannya kepada dokter dan hasilnya semua dalam keadaan sehat. Kyra juga sudah mengantongi izin dari dokter. Setelah selesai berkemas, Kyra pun duduk di tepi ranjang tempat tidur. Dia mengambil surat keterangan yang diberikan dokter pagi tadi. Senyum terukir di bibir tipisnya kala membayangkan wajah bahagia Dewa saat mengetahui tentang kehamilannya.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, Kak dan menyampaikan berita bahagia ini." Kyra mengusap perutnya yang masih datar.
"Sayang, besok kita akan ketemu sama papa. Kita kasih dia kejutan. Mama yakin, papa akan sangat bahagia dengan kehadiran kamu ditengah-tengah kami."
Kembali Kyra tersenyum. Ia kemudian berbaring sambil menatap foto Dewa yang ia jadikan wallpaper di ponsel.
*
Pagi sekali Kyra sudah berangkat menuju ke Jakarta. Dia ke Jakarta dengan menggunakan mobil rental. Kyra sengaja menyewa mobil agar bisa berhenti sewaktu-waktu jika merasa tubuhnya sudah tidak enak. Perjalanan dari tempat tinggalnya sekarang menuju ke Jakarta membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam, jadi bisa diperkirakan ia akan tiba di rumah suaminya saat jam makan siang, waktu yang tepat untuk bertemu sekalian mengajaknya makan.
Pagi sebelum berangkat dia sengaja memasak makanan kesukaan Dewa untuk dimakan bersama suaminya tersebut, nanti.
Kyra juga sudah tidak sabar ingin segera memberitahu tentang kehamilannya kepada Sang Suami.
"Sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan papa. Kamu pasti senang kan?" Kyra mengusap perutnya.
Raut wajahnya berubah ketika ingat dengan Ariana, sahabat yang akan mungkin kecewa karena dirinya tidak bisa memegang janji.
"Ri, semoga kamu bisa memaafkan aku," batin Kyra sambil menyandarkan punggungnya. Dia tahu pasti sahabatnya itu akan sangat marah dengan keputusannya kembali ke Jakarta.
__ADS_1
***
Sudah lebih dari satu jam Dewa melakukan meeting zoom dengan manager dan penanggung jawab dari beberapa cabang hotel dan restoran miliknya yang tersebar di berbagai daerah. Tidak ada masalah yang berarti yang dilaporkan baik oleh manager atau kepala penanggung jawab dari masing-masing daerah. Semuanya melaporkan tentang adanya peningkatan pendapatan dan hal tersebut merupakan kabar yang cukup menggembirakan. Meski begitu, mereka tetap memberikan laporan tentang beberapa keluhan dari pelanggan yang datang baik itu dari pengunjung restoran maupun pengunjung hotel agar menjadi catatan khusus yang harus segera diperbaiki.
Masing-masing kepala penanggung jawab memberikan masukan dan idenya. Hingga akhirnya beberapa kesepakatan pun berhasil diperoleh dan diperbaiki. Dewa mengakhiri meeting zoom tersebut dengan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang hadir dalam meeting tersebut.
"Terima kasih atas dedikasih kalian kepada kami, kita akan bertemu lagi di rapat mingguan yang akan kita selenggarakan minggu depan. Sekali lagi terima kasih dan sukses untuk kita semua," ucap Dewa.
Ia kemudian menyandarkan punggungnya.
"Kyra, dimana kamu? Aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak merindukanku?" batin Dewa.
Entah sudah berapa orang yang sudah ia sewa untuk mencari keberadaan istrinya tersebut, sayangnya hingga hari ini mereka semua belum menemukannya.
Tok-tok-tok!
Terdengar ketukan dari luar pintu. "Pak, ini saya Amran." Amran adalah asisten pribadi dari Dewa. Laki-laki yang memiliki usia yang sama dengan Dewa itu adalah anak dari mantan asisten almarhum kakeknya. Ia sudah bekerja dengan Dewa lebih dari 5 tahun.
"Ada yang ingin menemui Bapak."
"Siapa?"
"Nona Ariana. Katanya ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Bapak," jawab Amran dari balik pintu.
Dewa menghembuskan napas berat. Satu-satu orang yang tidak ingin ia temui adalah dia.
"Sudah kubilang aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tapi, kenapa ia masih nekat menemuiku?" batin Dewa.
"Kak Dewa, kita harus bicara!"
__ADS_1
Suara itu adalah suara Riana. Tak mau terjadi kegaduhan di restorannya, Dewa pun memperbolehkan ia masuk. "Suruh saja ia masuk!"
Pintu dibuka, terlihat Ariana berdiri di tengahnya.
"Mau bicara apa?" tanya Dewa malas.
"Sebaiknya kita bicara di butik saja, di ruanganku," jawab Ariana, ia kemudian memutar tubuhnya.
Sebenarnya Dewa malas harus berbicara dengan Riana, namun karena wanita itu bilang ini penting, ia pun terpaksa mengikuti.
"Amran. Aku keluar sebentar, kalau ada hal penting telepon saja ke nomor hp-ku!" serunya kepada Sang asisten pribadi.
"Baik, Pak." Amran sedikit membungkukkan badan.
Dewa mengikuti Ariana yang sudah terlebih dulu meninggalkan restoran.
*
"Katakan! Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku!" suruh Dewa ketika ia sudah berada di butik, di ruang kerja Ariana.
Ariana berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci.
"Apa ini?" tanya Dewa saat Ariana memberikan amplop dengan logo salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta. "Kamu sakit? Atau penyakit Tante Anita kambuh lagi?"
"Kakak buka saja!" suruh Ariana.
Dewa pun membuka amplop pemberian Ariana itu dan alangkah terkejutnya ia ketika membaca isi di dalamnya. Rasanya dia tidak percaya dengan isi yang ditulis di kertas itu.
"Kamu.... "
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku hamil dan ini anakmu," jawab Ariana.
"Apa?!" Pekikan seseorang dari pintu membuat Dewa dan Ariana menoleh ke sumber suara.