
Berbicara dengan Caca adalah salah satu hal yang membahagiakan bagi Dewa, tentu saja setelah pertemuannya dengan Kyra. Dewa tidak sabar ingin mengungkapkan tentang jati diri putri Riana itu. Dewa masih berharap bisa kembali bersama dengan wanita terkasihnya itu sambil membawa Caca. Dia tidak tega membiarkan gadis kecil itu tinggal bersama dengan ibu yang tidak tulus mencintainya.
"Iya, Sayang. Nanti papa bawakan boneka beruang yang gede buat kamu. Belajar yang pinter ya, Caca sayang. Love you my princes." Dewa menutup sambungan teleponnya. Dia kemudian memberikan ponsel tersebut kepada staf yang mendampingi.
"Ohya kalau Riana telepon dan minta berbicara denganku bilang saja aku sibuk." Dewa mengingatkan.
"Siap, Pak."
"E... Kamu bisa pergi dari sini sekarang, nanti setelah urusanku dengan Kyra selesai aku akan menghubungimu." Dewa butuh privasy untuk berbicara dengan mantan istrinya tersebut.
"Kyra, semoga setelah mengetahui bahwa Riana telah berlaku curang kepada kita, kamu mau kembali denganku. Kita bangun rumah tangga kita yang sempat hancur dulu," batin Dewa.
__ADS_1
Meskipun sudah lima tahun mereka berpisah, Dewa masih sangat mencintai Kyra. Dia berharap bisa kembali mewujudkan impian rumah tangga mereka dulu. Dewa kembali ke tempat Kyra, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar Kyra menyebut kata putraku.
"Putraku Sayang, ingat ya jangan nakal selama Mama pergi. Kamu harus dengarkan apa kata Om Ryan. Mama akan secepatnya kembali begitu urusan disini sudah selesai. Bye sayang, love you. Kiss muach muach," ucap Kyra. Dia menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Bagi Kyra keberadaan Arsya adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia bisa berjalan sejauh ini karena anak kesayangannya tersebut.
"Apa Kyra sudah menikah lagi dan hidup bahagia dengan suami barunya?" batin Dewa. Kebahagiaan karena berhasil bertemu kembali dengan Kyra setelah 5 tahun hilang sudah. Dewa merasa sudah tidak ada kesempatan baginya untuk bisa mendapatkan kembali hati mantan istrinya tersebut.
"Tidak! Aku harus ikhlas, semua memang salahku. Wajar jika dia menikah lagi." Dewa berusaha menguatkan diri dengan memberikan nasehat kepada diri sendiri.
"Eh, Kak Dewa." Kyra segera menaruh kembali ponsel ke dalam tas ketika melihat keberadaan Dewa di belakangnya.
Sambil tersenyum Kyra menjawab, "Iya, Kak. Dia putraku."
__ADS_1
"Sepertinya kamu hidup dengan sangat bahagia setelah perceraian kita. Aku ikut senang." Dewa tidak tahu apa yang sedang ia katakan.
Kyra menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Kalau boleh jujur, waktu awal-awal kita berpisah itu sangat sulit bagiku karena aku terus mengingat Kakak." Kyra menatap Dewa.
Untuk beberapa saat tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci. Namun, Kyra segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia takut hatinya akan goyah ketika masih melihat cinta di mata pria yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.
"Sekarang? Apa sekarang kamu sudah melupakan perasaanmu untukku?" tanya Dewa tanpa berani menatap Kyra.
"Kamu adalah suami sahabatku, jadi sudah seharusnya aku melupakan perasaanku padamu," jawab Kyra. "Benarkan?"
"Kamu benar. Setiap orang memang harus melangkah ke depan, bukan ke belakang. Aku senang kamu hidup bahagia pasca perceraian kita. Aku doakan semoga selamanya kamu bahagia dengan keluarga barumu sekarang."
__ADS_1
Sebenarnya Kyra bingung dengan kalimat yang barusan Dewa ucapkan. Tetapi dia lebih memilih mengiyakan ketimbang mengklarifikasi.
"Aku pamit ya, Kyra. Kamu nikmati saja makan siangnya. Aku harus ke bandara sekarang." Dewa berpamitan. Dia pergi tanpa menatap Kyra lagi. Hatinya terlalu sakit membayangkan wanita yang dicarinya ternyata sudah memiliki keluarga yang bahagia. Terlalu egois memang karena ia masih berharap Kyra masih menunggunya. Seharusnya sejak awal, ia sadar bahwa masa lalu tetaplah akan menjadi masa lalu. Tidak bisa menjadi masa depan.