Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 49


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Kyra keluar dari kamarnya. Dia bahkan sampai mengepak pakaianya sambil mengapit ponsel diantara bahu dan telinga. Dia masih tidak menyangka jika putranya akan senekat itu. Pantas saja anak itu tidak mau melakukan panggilan video semalam, ternyata karena dia sudah berada di Jakarta. Dan yang lebih membuat Kyra khawatir adalah ternyata saat ini putranya menginap di hotel milik Dewa.


"Sayang, ada apa?" tanya Maya yang melihat putrinya tampak tergesa-gesa. Dia membantu Kyra mengepak kembalu pakaian yang semalam baru diturunkan dari koper.


"Bik, nanti aku telepon lagi. Terima kasih ya, Bik, karena Bibik sudah ngasih tahu Kyra. Assalammualaikum." Kyra mematikan panggilan.


Kyra meletakan ponsel di atas nakas lalu ia kembali duduk dan menatap mamanya.


"Ma... saat ini Arsya berada di Jakarta. Dia... dia ingin mencari papa kandungnya."


"Apa?!" Maya tentu syok mendengar penuturan Kyra. "Darimana Arsya tahu tentang ayah kandungnya?"


Kyra hanya mengedikan bahu. "Tapi menurut Bibik, diam-diam Arsya selalu menguping saat aku berbicara dengan Mama. Dia bahkan tahu kalau dirinya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kak Dewa."


"Bukankah sudah sering mama katakan sama kamu, beritahu anakmu tentang ayah kandungnya. Jadi, dia tidak akan nekat seperti ini hanya untuk bertemu dengan papanya sendiri." Maya sudah sering menasehati Kyra untuk memberitahu Arsya tentang ayah kandungnya. Setidaknya anak itu tidak akan senekat ini untuk mencari tahu tentang ayahnya sendiri.


"Aku pikir, Arsya sudah merasa cukup hanya dengan kasih sayang yang aku berikan, Ma. Makanya aku sengaja merahasiakan tentang papanya. Tapi ternyata... sampai kapan pun, aku tidak bisa menggantikan kasih sayang seorang ayah yang dia butuhkan." Mata Kyra berembun membayangkan anaknya yang merindukan belaian seorang ayah. "Andai aku tidak merahasiakan kehamilanku dari Kak Dewa mungkin meskipun kami berpisah, Arsya masih bisa mendapatkan kasih sayang itu."

__ADS_1


Selama ini Kyra tidak pernah menyesal dengan perceraianya. Tapi sekarang? Melihat sang putra merindukan sosok ayah membuatnya menyesali keputusanya dulu.


"Kamu sudah telepon Ryan?" tanya Maya.


"Belum. Telepon Ryan tidak aktif. Makanya sekarang aku ingin langsung ke Jakarta. Aku takut putraku mendapatkan penolakan dari papanya sendiri," jawab Kyra.


"Mama dan papa ikut kamu. Mungkin memang ini sudah waktunya Dewa mengetahui bahwa dia memiliki seorang putra darimu. Dan jika dia mengingkari keberadaan Arsya, kita akan sama-sama memberi mantan suamimu itu pelajaran."


Sebagai seorang ibu dan nenek, ada ketakutan di hati Maya, Dewa akan mengingkari keberadaan cucunya. Apalagi pria itu tidak pernah tahu tentang keberadaan Arsya sebelumya. Ditambah melalui akun media sosial, Maya tahu kalau Dewa sangat menyayangi anak dari Ariana. Bahkan di ig pribadi mantan menantunya itu hanya berisikan postingan kebersamaan Dewa dengan putri semata wayangnya dengan Ariana.


Kyra mengangguk. Ia tahu kalau saat ini ia tidak mungkin menghadapi semua masalah ini sendiri.


"Baik, Ma."


Iya, akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke Jakarta melalui jalur darat. Setidaknya butuh waktu 2-3 jam untuk mereka tiba di ibu kota negara Indonesia tersebut.


***

__ADS_1


Di sisi lain....


Sejak pagi Arsya sedikit demam karena hampir semalaman mereka begadang di rooftop. Ryan sangat mengkhawatirkan keadaan keponakanya tersebut. Tadi setelah sarapan, dia sudah meminta pelayan hotel untuk memanggilkan dokter. Untungnya, Arsya hanya mengalami demam biasa. Dokter sudah memberikan obat penurun panas kepada Arsya.


"Om Ryan, apa Om sudah mendapatkan kabar tentang papanya Arsya?" tanya Arsya begitu anak itu bangun tidur.


"Om belum sempat mencari tahu, Sya," jawab Ryan. "Sore ini kita langsung kembali ke Surabaya. Om tidak mau sakitmu semakin parah. Om tahu kamu itu tidak akan bisa tidur tanpa melihat wajah mamamu secara langsung. Baru semalam kamu nggak lihat wajah mamamu aja, kamu udah sakit begini. Gimana kalau kita disini sampai beberapa hari ke depan? Sakitmu pasti akan lebih parah dari ini. Om nggak mau ambil resiko," omel Ryan.


"Tapi, Om. Arsya mau ketemu papa!" lirih Arsya.


"Setelah keadaanmu membaik, nanti kita cari papamu lagi. Kalau perlu Om akan minta sama manager hotel ini untuk mempertemukanmu dengan papamu. Tapi, setelah itu kita pulang."


Arsya mengangguk. Bagi bocah kecil itu bisa bertemu dengan papanya walau sekali adalah hal yang paling luar biasa.


"Sekarang istirahatlah. Agak siang nanti baru kita cari manager yang kemarin untuk menanyakan keberadaan papamu." Ryan menarik selimut Arsya sampai batas leher.


Arsya menurut. Dia kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Ryan menatap ponselnya di atas nakas. Dia sengaja menonaktifkan ponselnya tersebut karena takut Kyra akan memarahinya. Apalagi, jika wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu tahu, Arsya tengah demam saat ini.


"Maafkan aku, Kak Kyra. Aku sudah lalai menjaga Arsya." Ryan membatin.


__ADS_2