Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Pernah melihat cincin yang sama


__ADS_3

"E... itu, Ri. Tadi aku nggak sengaja ketemu Kak Dewa di jalan, dia nawarin aku ikut masuk ke dalam mobilnya, tapi karena udah tanggung mau nyampai butik, aku tolak lah," jawab Kyra. Dia berharap Ariana akan percaya dengan jawaban yang ia berikan.


"Benar itu?" tanya Ariana lagi.


"Ya ampun, Ri. Ngapain sih aku bohong," jawab Kyra lagi.


"Iya, juga sih." Kyra merasa lega ketika Riana tak lagi mencurigainya.


"Ya udah deh, aku mau nemuin Kak Dewa dulu sekarang. Aku mau tanya kenapa dia nggak balas chat dari aku tadi." Aria bangun dari tempat duduknya. "Aku pergi dulu ya, Ra. Nanti aku balik lagi."


"E... iya, silakan. Lagian aku juga mau ngecek yang lain dulu," balas Kyra.


Setelah Ariana keluar dari ruangannya, Kyra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Satu sisi dia merasa lega karena Ariana tidak lagi mencurigainya, tetapi disisi lain dia juga merasa bersalah kepada sahabatnya tersebut.


"Apa Riana bakalan maafin aku nantinya?" gumam Kyra. Dia memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya. Tak mau memikirkan hal yang belum terjadi, ia pun memilih pergi ke ruang kerjanya sendiri.


***

__ADS_1


"Sayang," panggil Ariana sambil memeluk pinggang Dewa dari belakang.


"Ri, jangan begini. Ini tempat kerjaku, tidak enak kalau dilihat yang lain." Dewa berusaha melepaskan tangan Riana dari pinggangnya.


"Kamu kan pemiliknya, Sayang. Ngapain tidak enak segala, lagian sebelumnya kamu juga nggak pernah keberatan kan?" balas Riana.


"Bukan nggak keberatan ya, aku selalu menyuruh kamu buat nggak kayak gini, tapi kamu yang terus mengabaikan perkataanku itu," ralat Dewa.


"Iya deh iya, aku yang selalu mengabaikan perkataanmu," balas Riana sambil melepaskan pelukannya.


"Kakak baru mandi ya?" tanya Riana ketika melihat rambut Dewa yang masih setengah basah. Di tambah masih tercium wangi sabun dari tubuh kekasihnya itu.


"Iya sih, tapi tumben aja. Tadi si Kyra juga sepertinya habis mandi karena ku lihat rambutnya juga agak basah."


"Ohya? Kebetulan saja mungkin atau kita berdua berjodoh."


Mendengar hal itu, Ariana langsung memukul lengan kekasihnya. Dia tahu Dewa suka bercanda, tetapi menurutnya, candaan Dewa kali ini tidak benar.

__ADS_1


"Nggak boleh ya, Kak Dewa ngomong kayak gitu lagi," tegur Riana. "Kak Dewa itu pacar aku dan itu artinya Kak Dewa adalah jodoh aku. Jadi, nggak ada ya Kak Dewa bilang berjodoh sama Kyra, meski itu cuma candaan!"


Dewa terdiam untuk beberapa saat, ingin rasanya dia jujur tentang statusnya dengan Kyra sekarang. Akan tetapi, Dewa masih mengingat permintaan Kyra untuk merahasiakan pernikahan mereka sampai kompetisi itu selesai.


"Ohya, tadi Kakak kemana setelah dari rumah sakit? Aku telepon, Kakak nggak jawab. Aku chat juga ngga dibalas. Jangan bilang kalau Kakak sama dengan Kyra ya yang naruh handphone di kamar dalam posisi silent." Ariana bertanya hal yang dilakukan oleh pria itu beberapa saat yang lalu.


"Tadi ada hal yang penting yang sedang aku lakukan, jadi ponselnya aku silent," jawab Dewa.


Iya, Dewa tidak berbohong tentang hal penting yang ia lakukan tadi, karena menghabiskan waktu bersama Kyra lebih penting dari kegiatan apa pun.


"Kak," panggil Ariana.


"Apa?" jawab Dewa.


"Ini cincin baru ya?" tanya Ariana yang menyadari ada cincin di jari manis kekasihnya. Dia meraih tangan Dewa untuk melihat cincin tersebut.


Dewa segera menarik tangannya agar Riana tidak curiga. "Itu oleh-oleh dari adikku tadi," jawabnya.

__ADS_1


"Aku seperti pernah melihat cincin yang mirip seperti itu. Tapi, dimana ya?" ucap Ariana sambil berpikir.


"Cincin kayak gini banyak, Ri. Udah ah, kita bahas yang lain aja," balas Dewa. Dia berusaha mengalihkan pikiran kekasihnya tersebut.


__ADS_2