Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Makan malam romantis


__ADS_3

Sudah 3 hari, Dewa dan Kyra menemani Ariana di rumah sakit. Tak jarang sepasang suami-istri tersebut ikut menginap di sana juga. Dan kini setelah dokter memberitahu jika kondisi ibunya Ariana sudah mulai membaik, Ariana mengizinkan sahabat dan kekasihnya itu untuk pulang dan fokus dengan pekerjaan mereka.


"Alhamdulillah ya Sayang, akhirnya kondisi Tante Anita sudah membaik," ucap Dewa ketika ia dan Kyra tiba di rumah mereka.


"Iya, Kak. Alhamdulillah," balas Kyra.


Dewa memeluk istrinya itu dari belakang. "Hari ini hari minggu, kamu nggak akan pergi ke butik kan?"


"Kenapa? Kakak merindukan aku?" Kyra mengusap lengan Dewa yang sedang memeluknya.


"Benar. Selama di rumah sakit, kita harus berperan seperti bukan suami-istri dan itu membuatku lelah." Dewa menyandarkan kepala di bahu Sang Istri. "Ra, tidak bisakah kita jujur setelah Tante Anita sembuh?"


"Kita bicarakan itu lain kali ya, Kak," jawab Kyra. "Oh iya, hari ini Kakak mau nggak nemenin aku jalan-jalan? Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Kakak."


Dewa melepaskan pelukannya, dia kemudian memutar tubuh Kyra agar menghadap ke arahnya. "Tumben? Biasanya setiap aku ngajak kamu jalan berdua, kamu selalu mencari alasan untuk menolak karena takut ketahuan Ariana," ujar Dewa. "Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya ingin memiliki kenangan indah dengan Kakak. Tapi, kalau Kakak keberatan tidak apa-apa kok, kita tidak usah kemana-mana," jelas Kyra.


"Sayang. Aku kan nggak pernah bilang kalau aku keberatan apalagi menolak ajakanmu. Aku malah senang karena akhirnya kita bisa menghabiskan waktu berdua. Tapi, apa maksudnya dengan memiliki kenangan yang indah? Bukankah setiap hari kita bisa selalu membuat kenangan indah bersama-sama?" Dewa menanyakan kalimat yang menurutnya tidak jelas artinya.


Kyra tersenyum. "Kakak benar. Maaf karena aku salah memilih kata," ucapnya kemudian.


"Tidak apa-apa. Tapi, lain kali gunakan kalimat yang tepat," seru Dewa dan Kyra kembali mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kita mau pergi kemana sekarang?" tanya Dewa.


Kyra tidak langsung menjawab, dia hanya menatap suaminya itu sambil tersenyum.


***


Banyak tempat yang Dewa dan Kyra datangi di hari itu, mulai dari bioskop hingga terakhir keduanya menyaksikan matahari tenggelam di tepi pantai. Mereka sengaja pergi ke tempat yang letaknya jauh dari butik dan restoran milik keduanya karena tidak ingin bertemu dengan karyawan yang mengenali mereka. Bukan karena mereka malu untuk mengakui hubungan mereka, tetapi ini belum waktunya dunia mengetahui hubungan mereka itu.


Sambil bergandengan tangan, Kyra dan Dewa menikmati indahnya senja.


"Pemandangannya indah ya, Kak?"


"Benar, sangat indah. Apalagi aku bisa menikmatinya bersama dengan wanita yang sangat aku cintai," jawab Dewa.


"Aku akan mengingat momen membahagiakan ini selamanya."


Dewa menatap istrinya sambil mengernyitkan dahi, "Maksudmu?"


"Tidak ada maksud apa-apa. Bukan kah momen indah harus diingat selamanya?" jawab Kyra.


"Aku setuju jika momen indah harus kita ingat selamanya. Hanya saja, aku merasa kalau kata-katamu agak aneh."


"Apa yang aneh? Sudah, kita nikmati kebersamaan kita ini saja. Oke." Kyra kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku.


"Kak, ayo senyum!" Kyra mengarahkan kamera depan ponselnya ke arah dirinya dan Dewa. Beberapa jepretan berhasil Kyra dapatkan dan ia merasa puas dengan hasilnya. Dia bisa melihat senyum lebar suaminya di sana.


"Kakak sangat tampan saat tersenyum," puji Kyra. "Ingat ya, Kak. Apa pun yang terjadi dengan kita nanti, berjanjilah Kakak akan terus tersenyum."


Lagi-lagi Dewa mengernyit. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Kyra hari ini.

__ADS_1


"Ra, tidak ada sesuatu yang kamu sembunyikan kan dari aku?" tanya Dewa.


"Maksud Kakak apa? Apa coba yang aku sembunyikan?" jawab Kyra. "Mungkin aku sedikit sensitif setelah mendengar kajian tentang kehidupan dunia yang tidak kekal di radio tadi pagi." Kyra melempar senyum kepada suaminya.


"Benar kah?" Dewa kembali menatap wajah istrinya untuk memastikan bahwa tidak ada yang wanita itu sembunyikan darinya.


Kyra mengangguk. Dia kemudian memeluk Dewa dan menyandarkan kepala di bahu tegap milik suaminya tersebut.


"Sudah adzan magrib. Kita cari tempat untuk salat yuk!" ajak Dewa ketika mendengar adzan magrib dari ponselnya. Sejak dulu Dewa memang memasang pengingat waktu salat di hpnya agar bisa salat tepat waktu.


Suami-istri itu pun berjalan menjauh dari pantai untuk mencari tempat ibadah yang ada di sana. Usai salat keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Kak, sebelum pulang kita makan dulu yuk! Aku ingin makan malam romantis dengan Kakak!" ajak Kyra.


"Makan malam romantis?"


Kyra mengangguk. "Aku ingin kita makan malam dengan lilin dan rangkaian bunga mawar merah di meja," jawabnya. "Apalagi jika ditambah dengan alunan musik. Pasti itu akan sangat menyenangkan," tambah Kyra.


"Baiklah. Aku akan mewujudkan keinginanmu itu. Kamu tunggu di sini sebentar ya!"


"Kak, aku hanya asal bicara barusan."


"Tidak apa-apa, aku yang ingin mewujudkannya," balas Dewa. "Kamu tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" serunya.


Sebelum pergi meninggalkan Kyra, Dewa mencium kening istrinya tersebut.


Beberapa kali Kyra menghela napas panjang. Dia menatap nanar layar ponsel di tangan saat ada pesan masuk di sana. Kyra menggenggam erat ponsel itu dengan tubuh gemetar menahan isakan.


Kurang dari setengah jam, Dewa kembali ke hadapan istrinya tersebut.


"Kemana?"


"Makan malam romantis. Bukan kah kamu ingin itu?" Dewa menatap istrinya sambil tersenyum.


"Tap.... "


"Sekarang tutup matamu. Aku akan menuntunmu ke sana!" potong Dewa.


"Hm... Baiklah." Akhirnya Kyra pasrah dan mengikuti perintah suaminya.


Benar saja malam itu Dewa memberikan malam romantis untuk istrinya. Dia menyuruh orang untuk menata meja dengan lilin dan rangkaian bunga mawar merah sesuai dengan keinginan Kyra.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Dewa.


Kyra tersenyum seraya mengangguk. "Sangat suka," jawabnya.


Dewa sedikit menarik kursi ke belakang untuk memberikan jalan kepada Sang Istri agar bisa duduk.


"Silakan duduk my queen!" Dewa mempersilakan.


"Terima kasih, Kak," ucap Kyra, dia pun duduk di kursi yang sudah disedikan. "Kakak juga duduk dong!"


"Tentu." Dewa pun duduk di kursi yang ada di hadapan istrinya tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa ini sudah romantis?" Dewa berpura-pura meminta pendapat dari istrinya.


"Hm... lumayan," jawab Kyra.


"Ish, padahal suamimu ini sudah berusaha menciptakan makan malam romantis dengan singkat sesuai dengan keinginanmu. Dan cuma dibilang lumayan." Dewa berakting dengan memasang sedih.


Kyra tertawa melihat itu. "Aku becanda, Kak. Ini sudah sangat romantis kok. Meskipun tanpa musik," jawab Kyra.


"Siapa bilang tanpa musik? Tuh!" Dewa menunjuk sisi kanannya. Di sana sudah ada pemain gitar.


"Terima kasih ya, Kak. Aku akan mengingat momen ini selamanya," ucap Kyra.


"Lain kali aku akan buatkan makan malam romantis yang lebih indah dari ini."


Kyra hanya mengangguk sambil menangis.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Dewa menatap istrinya.


"Aku menangis karena aku bahagia. Terima kasih ya, Kak," jawab Kyra.


Dewa mengangguk meski dia merasa ada kejanggalan dengan sikap istrinya sejak pulang dari rumah sakit tadi. Wanita itu sering mengatakan hal-hal yang menyerempet tentang kenangan seolah mereka akan berpisah.


Usai makan malam, sepasang suami istri itu pun kembali ke rumahnya. Mereka tiba di rumah mereka sekitar pukul sebelas malam.


Beberapa kali ada telepon dan pesan masuk ke nomor Kyra. Ia tahu pesan dan telepon itu dari siapa.


"Maafkan aku. Biarkan aku bersama dengan suamiku malam ini." Sengaja Kyra menonaktifkan nomornya agar tidak ada yang mengganggu.


"Kak, Kakak sudah mandi?" tanya Kyra karena sudah menjadi kebiasaan mereka akan mandi sebelum tidur.


"Sebentar lagi. Aku mau ngecek laporan keuangan restoran hari ini," jawab Dewa. Dia duduk di sofa sambil memangku laptop. "Kamu mandi duluan saja!" suruhnya.


"Beneran, Kakak nggak mau mandi duluan?" tanya Kyra.


"Iya, kamu duluan saja, Sayang," jawab Dewa.


"Meskipun aku ingin ngajak Kakak mandi bareng?"


"Meskipun kamu.... " Dewa tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menghentikan jemarinya yang sedang menari di atas papan keyboard. Ia melihat Kyra yang sudah berdiri di hadapannya dengan menggunakan jubah mandi.


"Ya sudah, aku mandi duluan deh," ujar Kyra.


Tak mau menyia-nyikan kesempatan itu, Dewa segera menutup laptop dan mengejar istrinya ke kamar mandi.


***


Keesokan paginya....


Dewa membuka matanya ketika alrm berbunyi.


"Tumben, Kyra nggak bangunin aku?" batin Dewa ketika melihat jam di atas nakas menunjukkan pukul 06.00 WIB.


Dewa tersenyum kala mengingat kejadian semalam sebelum tidur. Tidak seperti biasanya, malam itu Kyra lebih aktif. Dia bahkan yang berinisiatif lebih dulu.

__ADS_1


"Aku mandi dulu deh, mungkin dia sedang di dapur." Dia pun bangun dari tempat tidurnya untuk mandi.


Usai mandi, Dewa langsung turun menuju ke lantai satu untuk mencari keberadaan Kyra. Namun, dia tidak menemukan siapa pun di sana. Bayangan kejanggalan-kejanggalan sikap Kyra kemarin berputar di kepala. Dewa segera melihat ke ruang makan dan hatinya sedikit lega ketika melihat sudah ada menu sarapan pagi yang tersaji di sana. Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama saat ia menemukan secarik kertas di sana.


__ADS_2