Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 56


__ADS_3

Dewa menarik napas panjang kemudian menghembuskanya. Ia kemudian berbalik dan membawa Caca mendekat ke arah Arsya.


"Arsya... Arsya mau bobo bareng sama papa juga?" tanya Dewa sambil berjongkok di depan putranya.


Arsya mengangguk. "Arsya masih kangen sama papa," tambahnya.


Dewa memeluk putra kandungnya itu. "Maafin papa ya karena tadi papa hampir mengabaikanmu," ucap Arsya.


"Pa, ayo pergi! Caca udah ngantuk!" desak Caca.


Dewa menggendong Arsya dengan tangan kanannya dan dengan tangan kirinya ia menggendong Caca.


"Kalian sama-sama anak papa, jadi kita akan bobo bareng-bareng di sini. Papa baru inget kalau papa juga punya kamar di hotel ini yang lumayan besar. Jadi, cukup untuk kita tidur bertiga. Kalian mau kan?" Dewa menatap putra-putrinya bergantian. Kedua anak itu masih diam belum menjawab.


"Bagaimana kalian mau tidak?" Dewa mengulang pertanyaannya.


"Mau, Pa," jawab Arsya dan Caca bersamaan.


"Nah, gitu dong. Kalian berdua anak-anak papa yang hebat. Ayo sekarang waktunya kita bobo siang!" ajaknya Dewa, ia mencium kening putra-putrinya bergantian.


"Amran, aku serahkan pekerjaan hari ini sama kamu dan Anne," ucap Dewa sebelum meninggalkan tempat itu.


"Baik. Kamu tenang saja," jawab Amran yang sejak tadi hanya mampu berdiam diri. Dia ikut tersenyum karena bosnya tersebut akhirnya menemukan solusi agar tidak menyakiti kedua anaknya.


"Dasar anak bodoh, kenapa dia setuju-setuju saja sih," keluh Ariana. Dia kembali kesal karena rencananya untuk membuat Dewa berselisih dengan Kyra dan keluarganya tidak berhasil.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" Kyra menahan tangan Ariana.


"Tentu saja aku menyusul suamiku," jawab Ariana pongah.


"Sepertinya saat ini kehadiranmu nggak diinginkan oleh mereka. Bukankah lebih baik kita berdua mengobrol, apalagi sudah lama kan kita nggak ketemu," ucap Kyra sambil tersenyum sinis.


"Tidak ada hal yang perlu kita obrolkan, lagian kita bukan lagi sahabat sejak kamu merebut Kak Dewa dariku." Ariana menyingkirkan tangan Kyra dari lengannya.


"Merebut? Tidak salah? Bukankah yang terjadi adalah sebaliknya, kamu yang menghalalkan segala cara untuk merebut Kak Dewa dariku." Perkataan Kyra sukses membuat langkah Ariana terhenti.


Kyra kembali mendekati Ariana, dia berdiri tepat di hadapan sahabatnya itu.


"Kamu kan yang sengaja meletakan surat dari Kak Dewa untukku di lacimu sendiri?" Ariana mengernyit, dia tidak percaya kalau Kyra akan mengetahui rahasianya itu.


"Jangan asal ngomong kamu! Surat itu memang untukku!" sergah Ariana.


"Jangan fitnah kamu! Surat itu memang untukku." Ariana masih mempertahankan kebohongannya.


"Benarkah? Tapi, aku punya bukti video dimana kamu sudah mengambil surat itu. Dan tidak hanya itu, aku juga tahu bahwa selama ini kamu menjelekan aku di depan teman-teman dan membuatku dijauhi oleh mereka."


Kyra tidak bohong soal ia memiliki bukti itu. Sebulan yang lalu saat dirinya pergi ke luar negeri tanpa sengaja ia bertemu dengan teman SMA nya dulu. Dia menceritakan bagaimana ia melihat Ariana yang dengan sengaja mengambil surat dari Dewa untuk Kyra dan menaruh ke dalam lacinya. Sebenarnya teman Kyra tersebut ingin menceritakan kejadian yang dilihatnya itu kepada Kyra, sayangnya saat itu orangtuanya sakit dan di hari berikutnya ia pindah sekolah ke luar negeri karena orang tuanya harus menjalani perawatan di sana. Dari dia juga Kyra tahu bahwa Ariana sering menjelekan dirinya di hadapan teman yang lain yang membuat hampir semua teman-teman sekelasnya menjauhinya.


Ariana mengepalkan tangan. Darimana Kyra mendapatkan video itu?


"Tapi bukan itu yang ingin aku bahas toh semua sudah berlalu," tambah Kyra.

__ADS_1


"Memangnya apa lagi yang ingin kamu bahas?" tanya Ariana kesal.


"Model baju yang kamu pajang di butikmu sebagai icon dan akun media sosialmu yang kamu klaim sebagai hasil karyamu sendiri, itu adalah hasil karyaku juga harusnya kamu menyantumkan namaku disana."


"Sayangnya yang orang tahu itu adalah hasil karyaku sendiri dan kamu tidak memiliki bukti apapun kalau kamu ikut andil," ucap Ariana. "Atau kamu mau uang bagianmu? Aku bisa memberikannya kalau kamu mau."


"Aku tidak butuh uang itu, aku hanya mau kamu mengakui bahwa baju itu adalah karya kita bersama, bukan hanya karyamu."


"Sayangnya aku tidak mau." Arian kembali melenggang meninggalkan tempat itu.


Kyra menghembuskan napasnya kasar.


"Ada apa, sayang?" tanya Maya.


"Tidak ada apa-apa, Ma. Itu urusan pribadiku dengan Ariana," jawab Kyra.


Iya, saat Kyra baru tiba di Jakarta tanpa sengaja ia melihat butik yang memajang rancangannya bersama dengan Ariana dulu, rancangan yang niatnya akan diikutkan dalam lomba. Tapi karena masalah yang tiba-tiba muncul, mereka tidak jadi ikut lomba. Tapi ternyata rancangan itu malah diakui oleh Ariana sebagai rancanganya sendiri dan malah dijadikan icon di butik itu. Hal itu baru Kyra ketahui beberapa saat yang lalu saat ia mencari tahu siapa pemilik butik yang memajang rancangan itu disana.


"Kamu harus berhati-hati dengannya." Maya mengingatkan.


"Pasti," jawab Kyra. "Ma, aku mau lihat Arsya dulu. Barusan Kak Dewa mengirimiku nomor kamar Arsya tidur."


"Mama tidak izinkan kamu pergi kesana!" cegah Maya.


"Ma.... "

__ADS_1


"Tetap tidak boleh!" ucap Maya tegas.


"Papa juga tidak mengizinkanmu ke sana!" Arfan ikut berbicara.


__ADS_2