
Saat baru saja keluar dari kamar tanpa sengaja Kyra mendengar omongan beberapa karyawan hotel mengenai dirinya. Sebenarnya Kyra tidak mau ambil pusing soal itu karena bagaimana pun kehidupan dia hanya dia sendiri yang tahu bukan mereka. Namun, ketika mereka mulai membicarakan soal Arsya, Kyra tak bisa lagi berdiam diri seperti itu.
Iya, kebanyakan dari para karyawan itu mengira kalau Kyra adalah selingkuhan Dewa yang sengaja datang untuk mendapatkan harta Dewa. Mereka beranggapan kalau Kyra dan Arsya ingin merebut posisi Ariana dan Caca.
"Ra, ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Pertanyaan Dewa membuat Kyra terhenyak dari lamunannya. Wanita itu menatap Dewa sebentar kemudian menghela napas panjang.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kepikiran soal sesuatu tadi. Tapi, sekarang sudah tidak kok," jawab Kyra. Dia tidak mau menambah pikiran Dewa dengan hal sepele.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke tempat anak-anak!" ajak Dewa. Mau tak mau Kyra pun ikut.
***
Tidak ada banyak pilihan tempat yang bisa mereka kunjungi selain ke playgrund, apalagi waktu sudah menjelang malam. Bersama dengan Kyra, Dewa mengajak putra dan putrinya itu bermain. Saat sedang bermain di playgrund Arsya sempat jatuh dan kakinya terluka. Kyra dengan sigap mengobati luka di kaki anaknya tersebut.
"Pa, Caca pingin punya mama seperti mamanya Arsya," ujar Caca tiba-tiba.
"Kenapa? Maksud papa kenapa tiba-tiba Caca berkata seperti itu?" tanya Dewa yang merasa aneh mendengar perkataan putrinya yang tiba-tiba.
"Selama ini kalau Caca sakit dan ngeluh sama mama, mama cuma bisa nyalahin Caca. Mama selalu bilang kalau Caca anak yang ceroboh dan nggak bisa apa-apa."
Dewa menatap Caca. Dari mata gadis kecil itu terlihat begitu banyak kesedihan kala mengingat perlakuan sang ibu kandung.
"Mungkin waktu itu mama lagi capek." Dewa bukan berusaha untuk membela Ariana, tetapi dia lebih ingin menjaga perasaan putrinya. Dia tidak mau Caca merasa kalau anak yang tidak dianggap oleh Ariana.
"Tidak, Pa. Hampir setiap saat kalau Caca sakit atau terluka terus ngeluh sama Mama, Mama pasti akan mengatakan hal yang sama," jawab Caca lagi. "Apa Mama tidak sayang sama Caca ya, Pa?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Caca, Dewa langsung menatap ke arah putrinya. Pun demikian dengan Kyra. Dia yang baru selesai mengobati luka di lutut putranya itu ikut menoleh ke arah Caca.
"Arsya, Mama ke tempatnya Caca sebentar ya." Kyra meminta izin putranya untuk mendekati Caca.
"Iya, Ma," jawab Arsya. "Kasihan dia," tambahnya.
Kyra mengusap pipi putranya dan mencium keningnya. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan menghampiri Caca yang duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Sayang. Semua ibu di dunia ini pasti sayang sama anaknya, termasuk mamaya Caca. Meski mama Caca kelihatan cuek, nggak perhatian, dan sering marahin Caca. Tapi, sebenarnya mamanya Caca itu sayang banget sama Caca. Percaya deh sama Tante."
"Tante kalau Tante jadi mama Caca, apa Tante juga akan memperlakukan Caca sama seperti Tante memperlakukan Arsya?" Bukannya menanggapi perkataan Kyra tentang ibunya, Caca justru menanyakan hal lain.
"E... Tante.... "
"Caca tahu kok kalau papa suka sama Tante. Caca juga tahu Tante pun suka sama papa. Jadi, Tante, kalau Tante jadi mamanya Caca apa Tante akan menyayangi Caca sama seperti Tante menyayangi Arsya?" Kyra tidak menjawab, dia hanya menarik Caca kedalam pelukannya.
"Kamu adalah anak yang cantik dan juga manis. Siapa pun pasti akan dengan mudah menyayangi kamu, termasuk Tante. Tante dan Arsya sayang sama kamu." Kyra mengatakan itu sambil mengusap kepala Caca.
Caca kemudian membalas pelukan Kyra tak kalah erat, gadis kecil itu bahkan kembali menangis karena bahagia.
Ketiganya baru kembali ke hotel sekitar pukul delapan malam. Saat tiba di hotel, Ariana sudah menunggu mereka di depan meja resepsionis, wanita yang sudah tidak memiliki hati tersebut menatap tajam Kyra.
"Mama!" panggil Caca, dia berlari menghampiri Ariana dan mencoba memeluk wanita itu. Namun sayang, Ariana justru menepis pelukan Caca dan membuat gadis kecil itu jatuh ke lantai.
"Ri!" sentak Dewa.
"Ma, sakit," ringis Caca.
__ADS_1
Kyra segera menghampiri Caca dan membantunya berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Kyra. Dia memindai kaki gadis kecil itu. Ada sedikit luka memar akibat jatuh barusan. "Ayo Tante obatin!"
"Aku bawa dia ke kamar! Tidak baik anak kecil melihat pertengkaran orang dewasa," ucap Kyra kepada Dewa dan Ariana. Dia tidak mau Caca ataupun Arsya melihat pertengkaran dua orang dewasa tersebut.
Tanpa bicara apa pun lagi Kyra membawa Arsya dan Caca pergi dari sana. Dia bahkan mengabaikan ocehan Ariana yang terus mengatainya pelakor dan perusak rumah tangga orang.
"Dasar pelakor sialan! Beraninya kamu menggoda suamiku. Pelakor tidak tahu malu!" Ariana terus berteriak dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Tutup mulutmu!" sentak Dewa lagi. "Kita bicara di ruanganku!"
"Aku tidak mau," tolak Ariana.
"Riana!" teriak Dewa lagi.
"Apa? Kamu ingin membungkam mulutku agar aku tidak mempermalukan wanita pujaanmu itu? Jangan mimpi! Kalau akhirnya aku harus kehilangan dirimu, setidaknya aku ingin semua orang tahu bahwa dia adalah seorang pelakor." Kesabaran Dewa sudah mulai habis. Dia mencengkeram pundak Ariana dengan sangan kuat.
"Bicara baik-baik selagi aku masih bersabar! Jangan sampai aku membalas semua perbuatanmu saat ini juga!" Dewa memperingatkan, dia bahkan memberikan tatapan tajamnya kepada Ariana. "Kamu mau kita bicara di ruang kerjaku atau di sini?"
"Aku sudah bilang, aku tidak mau," tolak Ariana.
"Baiklah kalau kamu mau kita bicara disini, aku akan putar video saat kamu menghabiskan malam dengan pria asing 5 tahun lalu yang membuatmu hamil Caca. Tapi, kamu malah melemparkan tanggungjawab itu kepadaku."
Ariana mengernyit. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Mau bicara di ruang kerjaku atau disini?" Dewa tidak menanggapi pertanyaan Ariana. Dia memilih berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya.
"Sial! Kalau begini bagaimana aku bisa membuat malu Kyra? Kalau begitu aku harus secepatnya melaksanakan rencanaku untuk menyingkirkan anak dari wanita sialan itu," gumam Ariana. Dia pun mengirim pesan teks yang berbunya: "Singkirkan anak itu secepatnya!"
__ADS_1