Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 34


__ADS_3

Akhirnya Kyra sampai di halaman parkir restoran suaminya.


"Pak, Bapak tunggu di sini sebentar ya. Saya mau lihat apa suami saya masih di restoran atau ada di rumah!" Kyra meminta sopir mobil sewaannya untuk menunggu.


"Baik, Mbak."


Baru saja Kyra turun dari dalam mobil sewaannya, ia melihat Ariana dan Dewa keluar dari restoran dan berjalan menuju butik. Ia pun akhirnya mengikuti mereka ke butik.


Beberapa karyawan butik yang melihat kedatangan Kyra menyapanya, mereka terlihat senang melihat keberadaan bos kedua mereka itu.


"Mbak Kyra kapan pulang?"


"Kami senang Mbak Kyra ke butik ini lagi."


"Baru saja. Oh iya, barusan Riana dan Kak Dewa kemana ya?" tanya Kyra kepada dua karyawan butik di depannya.


"Mungkin mereka ke ruang kerja Mbak Riana. Tapi, tumban Pak Dewa datang? Padahal sudah sebulan lebih dia tidak pernah mendatangi butik ini?" ucap salah satu dari mereka keheranan.


"Sebulan lebih Kak Dewa nggak ke sini?" Kyra mencoba memastikan.


"Iya, Mbak. Sejak Mbak Kyra pergi," terang mereka.


"Ya sudah, aku ke ruang kerja Ariana dulu ya nanti kita ngobrol lagi." Kyra kemudian melenggang ke ruang kerja sahabatnya.


Kebetulan pintu ruang kerja Ariana tersebut tidak ditutp sehingga memudahkan siapa pun mendengar pembicaraan mereka, termasuk Kyra. Awalnya ia ingin menunggu hingga keduanya selesai berbicara, baru ia akan masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendengar perkataan Ariana yang mengaku bahwa dirinya hamil dan itu anak Dewa hingga membuat Kyra reflek memekik, "Apa?!"


Iya, dua orang yang sedang berbicara itu terkejut melihat keberadaannya.


"Ky-Kyra," panggil Dewa terbata.


Hati wanita mana yang tidak hancur mengetahui bahwa ada wanita lain yang mengaku hamil anak suaminya. Kyra memejamkan matanya, kakinya terasa lemas mendengar sesuatu yang baru didengarnya itu. Kyra berpegangan pada pintu agar bisa tetap berdiri tagap. Setelah mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, ia memberanikan berjalan mendekati sahabat dan suaminya.


"Ri, benar kamu hamil anak Kak Dewa?" Kyra menatap tajam Ariana.


"Maaf, Ra." Permintaan maaf Ariana menegaskan segalanya.


Plakk!


Sebuah tamparan Kyra layangkan ke pipi mulus sahabatnya tersebut. "Kamu sudah tahu dia adalah suamiku, tapi kenapa kamu tega melakukan ini?"

__ADS_1


"Dia pacarku," jawab Ariana. "Dan kamulah yang merebutnya!" Tanpa perasaan bersalah Ariana membalas tatapan tajam Kyra.


"Baik, dia memang pacar kamu dan aku salah karena menikah dengannya diam-diam. Tapi... bukankah kita sudah sepakat bahwa kamu akan melepaskan dia jika setelah setahun aku pergi perasaannya padaku masih sama? Aku tidak mengira kalau kamu akan memanfaatkan kepergianku untuk melakukan cara kotor seperti ini," ujar Kyra.


"Aku hanya berusaha merebut apa yang seharusnya menjadi milikku," tandas Ariana.


Kyra hanya menggeleng, dia tidak menyangka Riana kan mengatakan hal seperti itu.


"Dan kamu Kak. Kamu bilang kamu mencintaiku, tapi sekarang apa? Kamu mengkhianatiku." Kini Kyra beralih menatap Dewa.


"Ra... ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Semua terjadi saat aku.... "


"Anak dalam kandungannya anakmu kan?" potong Kyra.


Dewa tidak bisa menyangkal karena bagaimanapun ia memang pernah menghabiskan malam bersama meski dalam keadaan tidak sadar.


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Dewa.


Kyra tidak mengatakan apa pun lagi. Hatinya terlalu sakit mengetahui semua kenyataan ini.


"Ra, kamu mau kemana?" Dewa menahan lengan istrinya ketika wanita itu memutar badan.


"Kak Dewa, kita masih harus berbicara!" Riana juga melakukan hal yang sama, menahan tangan Dewa.


"Kita bicarakan ini nanti." Dewa melepaskan tangan Ariana. Ia kemudian berlari untuk menyusul Kyra.


Saat Dewa tiba di luar butik, ia melihat Kyra sudah masuk ke dalam mobil. Gegas ia mengejar mobil tersebut.


"Ra, Ra, dengarkan aku! Kyra, Kyra, tolong turun! Kita bicarakan ini dulu! Aku mohon! Kyra! Kyra!" Dewa terus mengetuk kaca mobil.


"Jalan, Pak!" suruh Kyra tanpa peduli dengan panggilan Dewa.


"Aarrggg!" Untuk meluapkan kekesalannya, Dewa mengayunkan pukulan ke udara. "Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini, Tuhan?!" teriaknya.


Dewa ingin segera menyusul Kyra dengan mobilnya, namun panggilan salah seorang karyawan butik menghentikannya.


"Pak Dewa, Mbak Riana pingsan," tutur karyawan tersebut.


Dewa bukanlah orang yang tidak memiliki hati yang akan membiarkan orang lain tergeletak, apalagi ia tahu di rahim Riana ada calon bayi yang kemungkinan adalah darah dagingnya. Meskipun ia tidak mencintai Ariana, Dewa tetap harus membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


***


Setelah mobil yang ditumpanginya melaju, Kyra menoleh ke belakang. Dia begitu kecewa karena ternyata Dewa tidak mengejarnya. Salahkah dia jika masih berharap pria yang masih berstatus suaminya tersebut mengejarnya, meski ia tahu sudah ada wanita lain yang saat ini mengandung anak dari suaminya tersebut?


Tetapi ternyata untuk hal seerti itu saja tidak ia dapatkan. Jangankan mengejar, mencoba menghubungi saja tidak. Akhirnya Kyra memilih pulang ke rumah orang tuanya yang ada di kawasan Bandung.


***


"Sayang, ada apa? Bukankah tadi pagi kamu bilang akan pulang ke rumah suamimu? Kenapa malah ke sini?" tanya Maya ketika melihat putrinya datang dalam keadaan yang kacau. Maya yakin ada sesuatu yang terjadi antara putri dan menantunya.


Kyra tidak menjawab. Wanita 22 tahun tersebut langsung menghampur memeluk mamanya. Tangisnya langsung pecah dipelukan wanita yang sudah melahirkannya tersebut.


Maya tidak langsung langsung menanyakan hal yang terjadi. Dia berusaha untuk menenangkan putrinya terlebih dulu. Apalagi ia tahu, putrinya membutuhkan istirahat setelah menempuh perjalanan jauh.


"Bik, tolong suruh Pak Dirman ambil barang-barang Non Kyra ke kamar!" suruh Maya kepada asisten rumah tangganya.


"Baik, Nyonya."


Wanita yang dipanggil Bik itu melaksanakan apa yang disuruh oleh Maya barusan.


Pak Dirman membawa masuk koper dan barang bawaan Kyra ke kamar.


"Ohya Bik, tolong tanyakan juga, apa Kyra sudah membayar sewanya!" suruh Maya lagi.


Wanita berumur 40 tahun itu kembali ke depan untuk menanyakan hal tersebut. Beberapa menit kemudian ia kembali menghadap sang nyonya.


"Katanya sudah, Nyonya," ujar Si Bibik memberitahu.


"Ya sudah, terima kasih ya, Bik." Tak lupa menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada sang ART.


Maya membawa putrinya ke kamar. Dia menemani putrinya tersebut hingga ia sudah benar-benar tidur.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai seperti ini?" Maya menatap putrinya yang sudah terlelap.


Karena tak mungkin menanyakan hal yang sebenarnya terjadi kepada putrinya sekarang. Maya memutuskan untuk menelepon menantunya.


"Hallo, Alfian, ini Mama. Kamu dimana sekarang? Katakan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Kenapa Kyra pulang ke rumah Mama dalam keadaan kacau?" tanya Maya. Dia tidak ingin berbasi-basi.


"Ma, aku tidak bisa membicarakan ini lewat telepon. Untuk sementara tolong jaga Kyra, aku akan segera kesana nanti," jawab Dewa. Iya, dia tidak mungkin membicarakan masalah seserius ini melalui sambungan telepon "Aku tutup dulu ya, Ma."

__ADS_1


Meski tidak puas dengan jawaban dari menantunya, terpaksa Maya mengakhiri panggilannya tersebut.


__ADS_2