Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 36


__ADS_3

"Kyra Fara Nabila, mulai detik ini aku kembalikan kamu kepada orang tuamu. Kamu bukan lagi tanggung jawabku." Dewa mengucapkan kalimat talaknya dengan suara bergetar menahan tangis. "Maafkan aku karena aku sudah menyakitimu."


Iya, akhirnya Dewa memilih melepaskan wanita yang ia cintai, meskipun itu berat baginya. Dewa akui sengaja atau tidak tetap saja dia sudah melukai hati Sang Istri.


Kyra mengangguk. Dia juga berusaha untuk tetap tersenyum, meski dengan hati yang perih.


"Ma, Pa, aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku pada kalian. Dulu setelah menikahi Kyra aku sudah berjanji akan berusaha untuk membahagiakannya. Tapi pada kenyataannya yang terjadi adalah kebalikannya, aku menyakiti putri kalian. Sekali lagi maafkan aku, Ma, Pa!" Dewa menyampaikan permintaan maafnya dengan sungguh-sungguh.


"Iya, Alfian, papa sudah memaafkanmu. Papa doakan semoga setelah ini kamu bisa menjadi suami yang lebih baik dan bertanggung jawab," jawab Arfan.


"Terima kasih, Pa." Kini tatapan Dewa beralih ke arah Kyra. "Kyra, aku doakan semoga hidupmu bisa lebih bahagia dari ini."


"Terima kasih, Kak. Aku berharap kamu juga bisa hidup berbahagia dengan Riana," ucap Kyra.


Dewa mengangguk, meski sebenarnya dia tidak tahu akan kah dia bisa hidup bahagia dengan wanita yang tidak ia cintai.


Sebelum pergi, Dewa kembali meminta maaf kepada Kyra dan keluarganya. Dia berjanji akan segera mengurus perceraian mereka secepatnya.


Setelah mobil yang membawa Dewa tak lagi terlihat, Kyra kembali menghambur kepelukan mamanya. Tangisnya kembali pecah dipelukan wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Tak pernah terlintas di pikiran Kyra dulu bahwa rumah tangganya yang baru seumur jagung akan berakhir secepat ini.


***


Kabar tentang kehamilan Ariana menjadi bahan perbincangan antar karyawan butik hingga akhirnya merembet ke karyawan restoran dan hotel milik keluarga Alfian tersebut. Dan berita itu pun pada akhirnya sampai di telinga kedua orangtua Dewa. Keduanya merasa sangat kecewa dan marah kepada putra sulungnya tersebut.


Hari ini Arif Alfian, ayah Dewa sengaja memanggil putranya ke rumah. Ia ingin memastikan tentang kebenaran dari kabar yang mereka dengar.


"Kamu pasti sudah tahu kan kenapa kami memanggilmu ke sini?" Arif mengatakan hal tersebut sambil menatap putranya dingin. Sementara Amanda (mamanya Dewa) dan Anne menanti dengan was-was jawaban yang akan keluar dari Dewa.


Dewa menghembuskan napas, dia menatap papanya sebentar kemudian mengangguk.


"Jadi, katakan pada papa, apa benar kamu sudah menghamili wanita itu?" Arif memperjelas pertanyaannya.


"Benar, Pa," jawab Dewa. "Aku minta maaf."


Bugh!


Sebuah tinjuan mendarat pipi pria tampan yang sedang berdiri dengan tatapan lesu itu.


"Pa!" teriak Anne dan Amanda.


"Bagaimana bisa kamu mengkhianati istrimu? Hah?!" Kembali Arif melayangkan pukulan. Dia kemudian mencengkram kerah baju putranya itu sambil menatapnya nyalang.


"Maaf." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Dewa, ia tidak akan membela diri karena memang ia salah. Meski kesalahan itu adalah kesalahan yang terjadi tanpa disengaja.


"Apa Kyra sudah mengetahui hal ini?" tanya Arif lagi.


"Sudah. Aku juga sudah mengembalikan dia kepada orang tuanya."


Jawaban Dewa membuat Arif kembali memukul putranya itu.


"Kamu sudah mempermalukan kami. Bagaimana kami akan mengangkat kepala kami dihadapan Arfan dan keluarganya. Hah? Bagaimana?!"


Kali ini beberapa pukulan Arif layangkan di tubuh putranya.


Diam. Itulah yang dilakukan oleh Dewa, bahkan sekedar menghindarpun tidak ia lakukan. Dewa merasa layak untuk mendapatkan pukulan itu.


"Mas, sudah hentikan! Kamu mau bunuh anak kita?"


Sebagai seorang ibu Amanda takut putra laki-lakinya itu kenapa-napa, apa lagi Arif terlihat semakin kalap.


"Dia pantas dibunuh. Tega-teganya dia mencoreng nama baik keluarga kita. Apa kata mendiang kakekmu melihat kelakuan bejatmu ini." Arif masih tetap emosi.


"Pa, aku mohon hentikan! Kasihan Kakak. Jangan pukul dia lagi, Pa!" pinta Anne. Adik perempuan Dewa itu tidak tega melihat kakaknya babak belur.


"Mas, apa dengan membunuhnya semua akan kembali seperti semula? Enggak. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar dari masalah ini. Bagaimana pun anak yang dikandung wanita itu adalah cucu kita, mau tidak mau, suka tidak suka putra kita tetap harus bertanggung jawab. Dan cara satu-satunya adalah menikahkan mereka." Amanda mencoba mencari solusi yang terbaik demi nama baik keluarga Alfian.


"Setidaknya kita beruntung karena orang lain belum mengetahui kalau Dewa sudah menikah. Jadi, mereka hanya akan menganggap kalau itu hanya kekhilafan saat mereka pacaran," lanjut Amanda.


Arif berdecak kesal, dia menatap sinis Dewa. Meski tidak suka dengan jalan keluar yang diberikan oleh Amanda, terpaksa ia mengiyakan karena memang hanya itulah yang bisa mereka lakukan untuk menjaga nama baik keluarga saat ini.


"Secepatnya kamu lamar dan nikahi dia. Pesta pernikahan yang seharusnya digelar untuk resepsi pernikahanmu dengan Kyra akan kita gunakan untuk menggelar pesta pernikahanmu dengan wanita itu."


Mendengar hal tersebut Dewa menatap papanya. "Tapi, Pa. Kenapa harus ada pesta? Tidak bisakah pernikahan itu digelar diam-diam?"


"Tidak bisa, ini semua juga demi kebaikanmu," jawab Arif dengan tegas. Bagaimana pun sudah ada beberapa orang dan rekan kerja yang sudah mengetahui rencana resepsi pernikahan Dewa sebelum ini. Mereka bisa memanfaatkan itu dengan membuat seolah-olah Dewa dan Ariana sudah menikah sebelumnya. Apalagi tidak ada orang luar yang tahu tentang siapa istri Dewa dulu.


***

__ADS_1


Anne mengobati wajah kakaknya yang penuh dengan luka lebam akibat pukulan yang dilayangkan oleh papanya tadi. Berkali-kali gadis berumur 17 tahun menghela napasnya, ia bahkan menatap kakaknya dengan tatapan iba.


"Bagaimana perasaan Kak Kyra saat mengetahui hal ini?" tanya Anne sambil mengoleskan salep di wajah kakaknya.


"Hancur. Apalagi Ariana adalah sahabatnya," jawab Dewa. Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Tapi, bukankah Kakak bilang Kakak tidak mencintai Kak Ariana? Tapi kenapa Kakak bisa menghamilinya?" tanya Anne bingung.


"Aku dalam kondisi tidak sadar saat melakukan itu," jawab Dewa. Dia pun ikut menghela napas berat.


"Maksud Kakak?"


"Malam itu aku mabuk dan ketika aku bangun, aku sudah bersama dengan Riana di atas tempat tidur. Kami berdua juga dalam keadaan.... " Meski tidak melanjutkan perkataannya, Dewa yakin adiknya paham dengan apa yang ia maksud.


"Kak Dewa yakin, Kakak sudah melakukan itu dengan Kak Riana?"


"Aku sudah katakan kan, kalau aku tidak ingat. Tapi, yang jelas saat ini Ariana memang sedang mengandung," jawab Dewa sambil tersenyum miris.


"Memangnya Kakak yakin kalau itu anak Kakak?" tanya Anne lagi.


"Kamu kebanyakan baca novel fiksi, makanya otak kamu bawaannya curiga." Dewa memukul kening adiknya dengan telunjuk.


"Ya... siapa tahu kan, dia hamilnya sama orang lain terus ngakunya hamil sama Kakak," celetuk Anne.


"Ne, 4 tahun Kakak pacaran sama Ariana. Dan selama itu kami tidak pernah melakukan hal aneh-aneh kecuali berciuman. Jadi, mana mungkin dia bisa melakukan itu dengan orang lain?"


Iya, selama berpacaran, Dewa dan Ariana memang tidak pernah melakukan hal-hal aneh selain berciuman. Padahal ada beberapa teman mereka yang meski masih berstatus pacaran sudah sering menghabiskan malam bersama di kamar hotel.


"Iya, sih. Sudahlah. Mungkin itu hanya pikiran negatifku saja," ujar Anne.


Setelah selesai mengobati luka-luka di wajah kakaknya, Anne mengembalikan kotak obat ke tempat semula.


"Ingat ya, Ne. Jangan pernah kamu meniru kesalahan Kakak ini. Sebagai seorang perempuan kamu harus bisa menjaga kehormatanmu. Hm?"


"Pasti." Anne tersenyum.


"Kakak pergi dulu ya," pamit Dewa.


"Kakak mau kemana? Kerja?" tanya Anne.


Dewa menggeleng. "Tidak mungkin aku ke resto atau ke hotel dalam keadaan bonyok begini."


"Aku butuh tempat untuk menenangkan pikiran. Nanti kalau kamu nggak ada kegiatan di sekolah, kamu bantu Amran ya. Kakak mohon!" pinta Dewa.


Anne mengangguk. Ia tahu saat ini kakaknya butuh waktu untuk menenangkan diri.


***


Sepulang sekolah Anne sudah datang ke restoran milik kakaknya. Ia mulai memeriksa beberapa laporan yang Amran serahkan kepadanya. Meski masih berstatus sebagai pelajar, Anne sudah sering membantu kakaknya memeriksa laporan. Mungkin karena ia berasal dari keluarga yang kesemunya adalah pekerja. Papa dan mamanya memiliki perusahaan masing-masing dalam bidang yang berbeda jauh dengan Dewa kakaknya.


Perusahaan Arif bergerak dibidang properti, sedangkan mamanya Amanda memiliki perusahaan yang bergerak dibidang kecantikan, terutama parfum. Parfum yang diproduksi oleh perusahaan Amanda bahkan mampu tembus ke pasar luar negeri.


"Nona Anne, barusan Anda kelebihan memasukkan angka nolnya." Arman mengoreksi laporan yang sedang dimasukkan Anne ke dalam komputer.


Anne menatap angka yang baru saja ia ketik terssbut dan ternyata memang benar, kelebihan satu nol.


"Ternyata aku masih harus banyak belajar dari Kak Dewa," keluh Anne sambil membuang napas.


"Di usiamu yang masih belia, ini termasuk hebat lho," puji Amran.


"Benarkah?" Anne menatap asisten pribadi dari kakaknya terssbut.


"Aku serius Nona. Nona hanya perlu meningkatkan ketelitian saja saat menginput data ke komputer," jawab Amran. Dia berdiri di samping tempat duduk Anne dan membantu membetulkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh adik dari bosnya itu.


"Ohya, Nona. Memangnya Tuan Dewa kemana?" tanya Amran dengan mata yang fokus menatap ke layar komputer, sementara jari-jarinya berada di atas papan keyboard.


"Kak Dewa lagi menenangkan diri," jawab Anne.


Anne dan Amran sama-sama terdiam ketika jemari mereka tanpa sengaja bersentuhan di atas papan keyboard. Keduanya kemudian saling menatap satu dengan yang lain.


"Maaf," ucap Amran. Ia kemudian menjauhkan jemarinya.


"I-iya, Kak," jawab Anne.


Entahlah, untuk pertama kalinya Anne merasa jantungnya berdetak tak karuan kala bertatapan langsung dengan laki-laki yang menjadi asisten pribadi dari kakaknya itu.


"E... kalau begitu Kak Amran saja yang masukin datanya ke komputer, takutnya aku salah masukin angka lagi." Anne bangun dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Jangan, Nona! Kan Kakak Anda yang meminta Anda untuk membantunya. Tugas saja hanya mengawasi Nona." Amran sedikit mundur. Dia menyuruh Anne untuk kembali duduk.


"Baiklah." Anne kembali duduk.


"Nona, kok diam?" tanya Amran ketika tidak ada pergerakan apa pun dari adik bosnya itu.


"E... tiba-tiba aku haus, aku mau minum dulu," jawab Anne salah tingkah.


"Itu ada air di dekat Nona!" Amran menunjuk segelas air mineral yang berada di atas meja sebelah kanan.


"Ya... Tuhan, kenapa gue jadi bego gini?" Anne merutuk dalam hati.


"Iya, maksudku. Aku mau minum kopi, iya minum kopi. Aku mau membuat awas mataku." Entah jawaban apa lagi yang keluar dari mulut Anne.


"Nona di sini saja, biar saya buatkan kopi untuk Nona." Sekali lagi Amran menahan Annw untuk bangun dari tempat duduknya.


"Baiklah, Kak Amran. Terima kasih sebelumnya," ucap Anne.


Amran segera keluar dari ruangan tersebut.


"Hah." Anne bernapas lega.


"Apa yang terjadi denganku, kenapa aku jadi deg-degan gini sih." Anne berusaha menetralisir rasa deg-degannya tersebut.


Tidak lama Amran sudah kembali dengan membawa dua cangkir kopi di tangan.


"Ini Nona," ucap Amran sambil memberikan satu cangkir kopi di tangannya kepada Anne.


"Terima kasih," jawab Anne. Ia mulai menyeruput kopi di tangannya.


"Wah, kopi Kakak enak. Pantesan pengunjung resto sering minta Kakak yang buatin kopi untuk mereka," puji Anne karena memang kenyataannya seperti itu. Beberapa kali ia datang ke restoran kakaknya itu, beberapa kali pula ia mendengar pengunjung yang memuji kopi buatan Amran.


"Nona, bisa saja."


"Sungguh. Kopi buatanmu enak, manisnya pas, begitu juga pahitnya."


"Sepertinya dibandingkan dengan Kakak Anda, Anda lebih cocok jadi cupper," balas Amran.


"Cupper? Apa itu?" tanya Anne karena ia belum pernah mendengar istilah ini sebelumnya.


"Pencicip kopi profesional, saya yakin Anda memiliki kelebihan itu," jawab Amran.


"Ku kira apaan. Tapi, memang benar kok kopi buatan kamu itu enak."


Kali ini Amran hanya membalasnya dengan tersenyum.


Tidak lama seorang pelayan datang, ia memberitahu kalau ada pengunjung hotel yang membuat kegaduhan.


"Nona, silakan Anda lanjutkan minumnya ya. Saya harus menyelesaikan pekerjaan lain dulu," pamit Amran.


"Iya, Kak," jawab Anne. Dia memang dilarang oleh Dewa untuk bersinggungan langsung dengan pengunjung yang membuat onar.


Bukan tanpa sebab Dewa melarangnya, dulu Anne pernah tertusuk saat kakaknya itu sedang menenangkan tamu hotel yang mengamuk. Beruntung tusukan itu tidak terlalu dalam merobek bagian perut, sehingaga ia masih bisa diselamatkan. Dan sejak saat itu, setiap ada tamu hotel atau pengunjung restoran yang mengamuk ia dilarang untuk melihat apalagi mendekati.


Anne kembali duduk sambil meminum kopi di tangannya.


Beberapa saat kemudian kembali terdengar keributan di luar yang membuat Anne akhirnya terpaksa meninggalkan kantor kakaknya. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Maaf, ada apa?" tanya Anne kepada pelayan yang terlihat panik.


"Itu Nona, pengunjung yang mengamuk tadi melukai Tuan Amran hingga berdarah," jawab pelayan itu.


"Apa?"


"Kamu tolong hubungi polisi! Aku akan ke sana sekarang!" suruh Anne khawatir.


"Maaf, Nona. Tuan Amran melarang Anda untuk ke sana. Dia malah menyuruh kami untuk menjaga Anda agar tidak meninggalkan ruang kerja Tuan Dewa," jelas pelayan itu.


"Tapi, aku tidak mungkin membiarkan Kak Amran dalam bahaya. Aku harus ke sana sekarang," sentak Anne.


"Nona Tuan Amran bilang, dia pasti mampu mengatasi pengunjung ini. Anda tenang saja."


"Tidak bisa! Aku harus ke kamar itu sekarang," tolak Anne. "Katakan padaku di kamar nomor berapa pengunjung itu mengamuk!" tanya Anne dengan sedikit membentak.


"Tapi, Nona.... "


"Cepat katakan!" suruhnya lagi.

__ADS_1


Pelayan itu masih diam. Dia terlihat bimbang antara harus mengatakan atau tetap pada pesan kedua atasannya tersebut.


__ADS_2