
Suasana di ruangan itu menjadi sedikit tegang, apalagi ketika Ariana ikut campur dan berusaha mengusir Kyra dan anaknya. Namun, Dewa dengan cepat meminta Amran dan adiknya untuk membawa Ariana dan Caca ke tempat lain. Saat ini ada hal yang lebih penting yang harus segera ia selesaikan.
"Papa, aku mau makan sama siang bareng Papa!" Caca terus merengek.
"Caca Sayang, papamu ada sesuatu yang penting yang harus dibicarakan. Caca makan siang bareng Tante dulu ya. Ayo!" Anne tetap berusaha membawa bocah cilik yang belum genap 5 tahun itu untuk pergi dari sana.
"Aku juga tidak mau pergi dari sini." Ariana ikut-ikutan rewel. Wanita itu malah kembali ke tempat duduknya.
"Kamu mau pergi dari sini atau aku buka sekalian rahasia tentang Caca?!" Terpakasa Dewa mengancan menggunakan nama Caca.
Ariana mendengkus kesal. Semua orang memang belum mengetahui bahwa Caca bukanlah anak kandung Dewa karena Dewa sengaja merahasiakanya. Dewa tidak mau membuat anak kecil yang tidak berdosa itu sedih mengetahui fakta bahwa ia bukan ayah kandungnya.
"Ayo Ca, kita pergi dari sini!" ajak Ariana sambil menarik tangan putrinya.
"Tidak mau, Caca mau mau disini sama Papa." Caca masih kekeh menolak. Namun karena tidak mau rahasianya dibongkar di depan umum. Ariana tetap membawa anak itu keluar dari sana.
"Kyra, sebaiknya kalian bicarakan ini berdua. Kami akan menunggumu di tempat lain," ujar Maya. "Arsya, Arsya ikut nenek dulu ya, biarkan mama dan papa bicara sebentar." Maya membujuk cucunya untuk ikut bersamanya.
"Tidak mau, Nek. Arsya masih rindu sama papa. Ini pertama kalinya Arsya bisa bertemu dan memeluk papa. Arsya nggak mau pisah sama papa, Nek." Arsya juga menolak. Anak itu memeluk kaki Dewa dengan erat.
Dewa kemudian berjongkok. Dia mengusap pipi Arsya pelan, matanya berkaca-kaca.
"Ma, biarkan Arsya di sini," kata Dewa.
"Tapi.... "
"Aku mohon, Ma!" pinta Dewa.
"Baiklah. Tapi, jika kamu sampai menyakiti hati cucuku. Mama tidak akan memaafkanmu!" Maya mengancam.
Dewa mengangguk. "Mama jangan khawatir, aku tidak akan menyakiti dia," jawabnya tanpa melepaskan pandanganya dari wajah putra yang baru diketahuinya.
"Ryan, kita juga harus bicara! Kamu ikut kami, ayo!" ajak Maya dengan adik angkat Kyra.
__ADS_1
Ryan mengangguk pasrah. Ia yakin setelah ini ibu dan ayah angkatnya tersebut akan memakinya habis-habisan.
Kini hanya ada Kyra, Dewa, dan Arsya di ruangan itu.
"Kenapa kamu tidak mengatakan tentang dia, Ra? Kenapa kamu membuatku menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab?" Dewa mulai membuka suara.
"Papa, jangan marahi Mama! Selama ini setiap malam Mama selalu nangis sambil memandangi foto papa."
Tidak hanya Dewa yang terkesiap mendengar penuturan Arsya, tetapi Kyra juga. Ia tidak menyangka jika selama ini diam-diam putra kesayanganya tersebut memperhatikanya.
"Tidak, Sayang. Papa tidak marah sama mama, papa hanya bertanya saja," jawab Dewa sambil tersenyum.
"Maafkan aku, Kak. Aku hanya tidak mau kamu terpaksa menunda perceraian kita, jika tahu aku sedang mengandung anakmu," jawab Kyra karena memang itulah salah satu alasan ia bungkam dulu.
"Apa sebegitu bencinya dirimu hingga ingin segera lepas dariku? Hm?" Dewa kembali menatap Kyra.
"Bukan itu, Kak. Kamu ingat kan bagaimana situasinya saat itu? Ariana hamil anak kamu dan dia minta segera untuk dinikahi. Jika aku bilang aku sedang hamil, pasti kamu tidak mau menceraikanku. Sementara aku tidak mau berbagi suami dengan siapa pun," jelas Kyra.
"Selama ini aku sibuk memberikan kasih sayang kepada anak yang ternyata bukan anaj kandungku. Sementara anak kandungku sendiri malah tidak mendapatkanya. Aku benar-benar ayah yang jahat!" Dewa memaki dirinya sendiri.
"Tidak, Kak. Kamu tidak salah, akulah yang salah karena tidak memberitahumu. Maafkan aku." Kyra menunduk. Di sini memang dialah yang salah. Jika dulu ia memberitahu Dewa tentang kehamilanya pasti putra mereka bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
"Tunggu! Tadi Kakak bilang kalau Kakak memberikan kasih sayang Kakak kepada anak orang lain? Apa maksudnya?" tanya Kyra penasaran.
"Caca bukan anak kandungku, Ra. Dia anak Riana dengan orang lain," jawab Dewa.
"Apa?!" pekik Kyra. Dia sedikit tidak percaya dengan hal yang baru saja didengarnya.
"Arsya Sayang, kamu sama nenek dulu ya sebentar. Mama mau bicara sama papa!" Kyra meminta putranya untuk menjauh. Dia tidak mau Arsya mendengar hal yang belum sepatutnya ia dengar.
"Tapi, Ma, Arsya masih kangen sama papa." Arsya terlihat cemberut.
"Sayang, mama janji setelah ini Arsya bisa main sama papa sepuasnya. Hm?" Kyra kembali membujuk.
__ADS_1
Arsya beralih menatap wajah papa kandungnya.
"Papa janji, kita akan main lagi setelah ini," ucap Dewa untuk membuat putranya itu tenang.
Arsya menatap wajah mama dan bergantian. "Baiklah, Arsya keluar dulu. Tapi, Papa harus janji nggak akan ninggalin Arsya lagi!"
"Iya, sayang. Papa janji." Dewa memeluk putranya. Dia kemudian melepaskanya kembali. "Sana ke tempat nenek dulu ya!" ujarnya sambil menepuk bahu putranya.
"Iya, Pa." Arsya kemudian keluar dari sana.
"Kak, apa benar anak Riana bukan anak kandung Kakak?" tanya Kyra. Dewa mengangguk. "Kakak bicara begini bukan karena tahu kalau kita punya anak kan?"
Dewa menggeleng. "Aku juga baru mengetahui hal ini seminggu yang lalu," jawabnya.
"Maksud Kakak, Riana sengaja berbohong hanya untuk memisahkan kita?"
"Begitulah."
Kyra tersenyum getir. Ia tidak menyangka jika sahabatnya tersebut tega melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan Dewa.
"Aku mohon padamu, Ra, jangan pergi dariku lagi. Aku tahu dulu aku salah karena sempat tidur dengan Ariana meski itu dalam keadaan tidak sadar. Tapi... aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa bersamamu lagi! Aku masih sangat mencintaimu, Ra. Tidak ada satu hari pun aku lewati tanpa memikirkanmu. Selama 5 tahun ini aku terus berusaha mencari keberadaanmu. Aku selalu ingin tahu bagaimana kehidupanmu setelah berpisah denganku. Apa kamu bahagia? Apa kamu baik-baik saja tanpa aku? Atau kamu sudah mendapatkan penggantiku? Pikiran-pikiran itu selalu hadir setiap hari."
Kyra menatap wajah lelaki yang masih bertahta di hatinya tersebut.
"Tolong, Ra, beri aku kesempatan untuk bisa bersamamu lagi! Membesarkan Arsya bersama-sama. Aku mohon!" pinta Dewa dengan sungguh-sungguh.
"Tapi, saat ini kamu masih suami Ariana. Aku tidak mungkin merebutmu darinya."
"Ra, aku masih sangat mencintaimu dan aku tahu kamu juga masih mencintaiku kan?"
"Kak.... "
"Kyra, aku mohon pertimbangkanlah! Sejujurnya sebelum bertemu lagi denganmu pun aku sudah memikirkan untuk bercerai dengan Riana. Apalagi sejak aku tahu kalau Caca ternyata bukan putri kandungku. Aku tidak bisa hidup dengan wanita pebohong seperti dia. Wanita yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan hal yang dia inginkan. Jadi, aku mohon kembalilah kepadaku! Berikan aku kesempatan untuk bisa memberikan kasih sayang kepada Arsya, aku mohon, Ra! Aku mohon!" pinta Dewa dengan sungguh-sungguh. Dia bertekad untuk bisa bersama dengan Kyra lagi. Tidak hanya demi dia sendiri, tetapi juga demi putra yang baru diketahuinya sekarang, Arsya.
__ADS_1