Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 58


__ADS_3

Kyra dan Anne datang ke kamar Dewa dan anak-anaknya yang sedang beristirahat. Ketika tiba di sana Arsya dan Caca sudah tidur dengan pulas dan Dewa tidur di tengah-tengah mereka.


"Sepertinya mereka senang bisa tidur bersama Kak Dewa," ujar Anne sambil menatap kedua keponakanya.


"Aku juga senang," jawab Dewa, ia menatap kedua putra-putrinya bergantian sebelum akhirnya menatap Arsya.


"Pasti sulit bagimu membesarkan Arsya sendirian?" pertanyaan ini Dewa tujukan kepada Kyra tanpa menatap mantan istrinya itu.


"Tidak juga. Arsya anak yang pengertian dan mandiri. Dia tidak pernah membuatku repot," jawab Kyra.


"Mm... aku yakin ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan berdua. Kalau gitu aku pamit ya buat bantu pekerjaan Kak Amran nanti aku balik ke sini lagi," pamit Anne. Dia yakin ada banyak hal yang ingin dibicarkan oleh kakak dan mantan kakak iparnya. "Ohya, tapi jangan awas ya kalau kalian macam-macam! Aku bakalan kena omel sama mama-papa Kak Kyra."


Kyra dan Dewa terkekeh mendengarnya.


"Aku pamit ya Kak Kyra, Kak Dewa." Anne segera pergi dari sana.


Pelan-pelan Dewa melepaskan pegangan tangan Arsya dan Caca. Ia kemudian bangun dari tempat tidur. Ia duduk di sofa yang ada di seberang Kyra.

__ADS_1


"Aku ingin mendengar segala hal tentang Arsya. Bisakah kamu menceritakan tentang dia!" pinta Dewa.


"Memang apa yang ingin kamu ketahui tentang Arsya?"


"Semuanya. Aku ingin tahu semua hal tentang putraku," jawab Dewa.


"Setelah bercerai denganmu, aku pindah ke Surabaya. Aku memulai semua hal di sana." Kyra mulai bercerita. "Awalnya agak susah sih, tapi lama kelamaan aku bisa menjalani semuanya dengan mudah."


"Apa kamu kesulitan saat ngidam?" tanya Dewa. Ia ingat bagaimana sikap Ariana saat ngidam dulu. Meski Dewa tidak menyukai Ariana, bahkan tidak pernah menyentuh wanita itu setelah menikah. Namun, saat wanita itu sedang menginginkan sesuatu ia selalu berusaha untuk memenuhi.


Sesak. Itulah yang hati Dewa rasakan. Seandainya dia dulu tidak mabuk, pasti ia bisa menemani Kyra pada saat itu.


"Maafkan aku, Kyra. Maafkan aku karena aku tidak berada di sampingmu," lirih Dewa.


"Itu bukan salah Kakak. Aku yang merahasiakan semuanya dari Kakak. Seharusnya aku yang minta maaf." Kyra menatap Dewa kemudian tersenyum kecil.


"Tidak. Kamu tidak akan pergi, jika aku tidak mabuk dan Riana tidak mengaku kalau ia hamil anakku. Jadi, itu salahku." Dewa menghembuskan napas berat kemudian balas menatap Kyra.

__ADS_1


"Kak, semua yang terjadi di masa lalu tidak akan mungkin bisa kita rubah. Tapi, apa yang akan terjadi di masa depan itu tergantung dari usaha kita hari ini." Kyra menarik napas kemudian mengehembuskanya. "Anak itu mungkin memang bukan anak kandung kamu. Tapi faktanya kamu adalah suami Riana. Dan... kita tidak akan mungkin bisa bersama selama kalian belum bercerai."


"Aku tahu. Sebenarnya sebelum kita bertemu pun, aku sudah berencana bercerai dari Riana. Hanya saja, aku belum menemukan solusi untuk bisa mengambil alih Caca. Aku tidak tega meninggalkan Caca bersama dengan Riana. Ada aku saja, Riana masih tega nyakitin anaknya, gimana kalau aku tinggalin dia," ujar Dewa.


"Memangnya Tante Anita kemana?" tanya Kyra.


"Tante Anita sudah meninggal 4 tahun yang lalu," jawab Dewa.


"Innalillahi wa innailaihi roji'un. Maaf ya Kak aku tidak tahu." Dewa mengangguk mengerti. "Tapi, Kak. Bukannya waktu itu keadaan Tante Anita sudah membaik? Kenapa bisa sampai meninggal? Apa dia ngedrop lagi?"


"Aku juga tidak tahu. Padahal keadaan Tante Anita sudah sangat baik sejak aku dan Riana menikah. Tapi, 4 tahun yang lalu tiba-tiba penyakit jantungnya kambuh dan akhirnya beliau meninggal dunia saat sedang menjalani perawatan di rumah sakit," jelas Dewa.


"Pasti saat itu Ariana sangat sedih."


"Entahlah. Aku tidak begitu melihat kesedihan di matanya," ujar Dewa.


Dewa dan Kyra terus melanjutkan obrolan mereka hingga sebuah panggilan telepon masuk di ponsel Dewa menginterupsi pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2