
Beberapa karyawan Ariana sudah menunggu bosnya itu di tempat parkir dekat butik. Mereka sengaja menunggu Ariana di sana karena di depan butik sudah banyak pendemo yang datang untuk menuntut ganti atas desain mereka yang diproduksi tanpa seizin mereka. Ariana yang baru turun dari mobil segera dibawa masuk ke dalam butik melalui pintu belakang.
"Kalian gimana sih nyelesain masalah kayak gini aja nggak becus." Ariana menggeberak meja dan menatap karyawanya satu per satu.
"Maaf, Bu. Tapi, ibu bisa melihat sendiri kan, jumlah mereka banyak dan kita nggak akan bisa menghadapi mereka." Neli yang tahu akan menjadi sasaran kemarahan Ariana mencoba menjelaskan.
"Seharusnya kalian hubungi polisi untuk mengusir mereka," sahut Ariana.
"Sekali lagi maaf, Bu. Mereka datang bersama dengan pengacara dan mereka bilang siap menuntut Ibu jika Ibu tidak segera menghentikan produksi dan membayar royalti dari desain yang sudah Ibu ambil," tambah Neli.
Ariana menghela napas panjang. Hari ini menjadi hari tersial dalam hidupnya. Baru saja Kyra dan anaknya kembali dan kini? Butiknya pun mengalami masalah.
"Sudah menghubungi pengacara kita?" tanya Ariana.
__ADS_1
"Sudah, Bu. Tapi, Pak Priyanto malah menyarankan agar Ibu segera membayar royalti itu sebelum masalah menjadi besar. Karena jika kasus ini sampai ke meja hukum, kata beliau Ibulah yang akan dirugikan." Neli memberitahu hal yang diterangkan oleh pengacara perusahaan.
"Membayar?" Ariana menatap sengit Neli.
"Itu saran yang Pak Priyanto berikan," jawab Neli lagi. "Ohya ini daftar kerugian yang kemungkinan akan Ibu dapat, jika Ibu memaksa untuk melawan mereka." Neli memberikan buku laporan kepada Ariana.
"Dari siapa ini?" tanya Ariana sambil mengambil buku itu dari tangan Neli.
"Pak Priyanto."
"100 milyar? Gila ini sudah gila!" Ariana melempar kertas di tangannya ke lantai.
"Kata Pak Priyanto itu masih bisa bertambah kalau mereka bisa membuktikan baju yang ada di butik Anda adalah hasil rancangan mereka. Apalagi hal ini sudah berlangsung selama 3 tahun," tambah Neli.
__ADS_1
Ariana kembali menghela napas. "Kalau Pak Priyanto nggak bisa nyelesain masalah ini, cari pengaca lain yang lebih hebat dari dia!" seru Ariana. "Kenapa masih diam? Sana cari!" suruh Ariana lagi. Dia bahkan meninggikan suaranya.
"Ba-baik, Bu. Saya akan coba menghubungi pengacara lain," jawab Neli.
"Satu lagi panggil polisi untuk mengusir mereka semua dari butikku! Aku tidak mau pelangganku melihat kejadian hari ini!" Suruh Ariana lagi.
"Baik, Bu. Permisi." Neli dan karyawan lain meninggalkan ruang kerja Ariana.
"Aku tidak mau bangkrut dan jatuh miskin. Tidak!" gumam Ariana. Dia mengingat semua usaha yang sudah dia lakukan untuk sampai di titik ini. Mulai dari menyingkirkan Kyra hingga harus kehilangan ibunya.
Iya, 4 tahun yang lalu ibunya, Anita, meninggal dunia karena serangan jantung mendadak. Hal itu terjadi saat tanpa sengaja Anita mendengar Ariana menyebut Caca bukan anak kandung Dewa, tapi anak kandung laki-laki lain yang sampai detik ini tidak ia ketahui siapa orangnya. Anita memang sempat dilarikan ke rumah sakit, namun dia tetap tidak bisa diselamatkan. Satu sisi Ariana sedih karena harus kehilangan ibu kandungnya, tetapi di sisi lain dia merasa lega karena tidak ada orang lagi yang mengetahui rahasia tentang Caca. Tapi yang namanya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga, rahasia besar yang sudah berusaha ia tutupi akhirnya tetap diketahui oleh Dewa. Dan semakin rumit ketika ternyata Dewa memiliki anak kandung dari Kyra.
"Tidak! Aku tidak bisa diam seperti ini. Tidak akan kubiarkan Kyra dan anaknya bahagia. Jika aku harus kehilangan Kak Dewa, maka aku akan lenyapkan mereka berdua terlebih dulu. Tidak akan kubiarkan hidup Kyra lebih bahagia dari aku, tidak akan!", ujar Ariana dengan sorot kebencian.
__ADS_1
Ariana mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang. "Kalian sudah tahu kan apa yang harus kalian lakukan? Lakukan dengan rapi! Jangan sampai ada orang lain yang tahu atau aku tidak akan membayar kalian!" setelah mengatakan hal itu, Ariana kembali menutup sambungan teleponnya.