Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Kenapa kalian bisa datang barengan?


__ADS_3

"Sayang, ada apa?" tanya Dewa, dia segera mengambil ponsel Kyra yang jatuh barusan untuk melihat hal apa yang membuat istrinya itu tiba-tiba shock.


"Kak, kita harus ke rumah sakit sekarang! Ariana membutuhkan kita!" ajak Kyra.


"Kyra, Kyra Sayang, kamu tenang lah. Aku yakin tidak terjadi sesuatu dengan mamanya Riana. Jadi, kamu tenang ya!" Dewa berusaha untuk bisa menenangkan Sang Istri.


"Tapi, Kak, lihat lah foto yang Riana kirim! Dia, dia ternyata sudah menghubungi kita berkali-berkali sejak semalam," jawab Kyra yang makin terlihat panik. "Aku yakin dia sudah kebingungan sejak tadi malam."


"Kyra aku bilang tenangkan dirimu! Ayo... tarik napas hembuskan perlahan, tarik lagi... hembuskan lagi!" seru Dewa sambil memberi komando kepada istrinya untuk melakukan instruksinya. Ia tahu saat panik, Kyra akan merasakan kesulitan untuk bernapas. Hal itu sudah Dewa amati sejak istrinya tersebut duduk di bangku SMA.


Kyra melakukan hal yang disuruh oleh suaminya hingga akhirnya ia merasakan tenang dan mampu mengendalikan diri.


"Apa kamu sudah mulai merasa tenang sekarang?" tanya Dewa memastikan.


Kyra mengangguk. "Aku sudah tenang, aku sudah tidak apa-apa. Jadi, ayo kita ke rumah sakit sekarang! Aku tidak bisa membiarkan Riana menghadapi masa-masa sulitnya sendiri!" ajak Kyra sambil memegang jas yang dipakai oleh suaminya.


"Iya, Sayang. Iya. Kita ke rumah sakit sekarang," jawab Dewa. Dia menarik istrinya tersebut ke dalam dekapan. "Percayalah, saat ini Tante Anita dalam keadaan baik. Jadi, kamu tenang ya."


Dewa mencium kening istrinya tersebut. Kyra mengangguk. Dewa tidak mungkin membawa istrinya pergi dari rumah orang tuanya kalau dia belum dalam keadaan tenang karena orang tuanya pasti akan menanyakan alasan ketidaktenangan yang dirasakan oleh menantunya. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Kyra sudah benar-benar dalam keadaan tenang. Barulah saat itu, Dewa membawa istrinya tersebut untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Kenapa tidak menginap disini lagi sih?" protes mamanya Dewa. Wanita yang sudah berumur setengah abad lebih itu bertanya. Hania, nama dari ibunya Dewa itu memang memiliki paras yang cantik, dia terlihat beberapa tahun lebih muda dari usianya.


Kebiasaan hidup sehat dan rutin berolah raga membuat bodynya masih terlihat kencang di usianya yang sekarang.


"Kyra ada pekerjaan, Ma. Dia juga sedang menyiapkan desain bersama teman dan timnya untuk ikut perlombaan di Paris dua bulan lagi. Selain itu, butik milik Kyra dan temannya itu selalu ramai dikunjungi dan tidak semua karyawan yang bekerja disana mampu menghandle pesanan mereka," jelas Dewa.

__ADS_1


Hania mengangguk mengerti. Dia sudah pernah mendengar ini sebelumnya dari kedua orang tua Kyra dan almarhum kakeknya. Kemampuan mendesain yang dimiliki Kyra konon merupakan turunan dari mendiang neneknya.


"Tapi janji ya sayang, lain kali kalian akan menginap lagi di sini!" pinta Hania kepada menantu perempuannya tersebut.


"Iya, Ma. Kapan-kapan aku akan menginap lagi di sini," jawab Kyra.


"Oh iya, soal acara resepsi kalian kapan akan diselenggarakan? Semalam kami lupa membahasnya padahal itu lah tujuan awak kami mengundang kalian makan kemarin?" tanya Hania.


Kyra melihat ke arah Dewa demikian sebaliknya. Dewa tahu kalau istrinya sedang meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan oleh mamanya.


"Mama tenang saja, kami juga sudah merencanakan itu kok. Tapi, maaf ya karena kami tidak bisa melaksanakan acara resepsi tersebut dalam waktu dekat ini. Mama tahu sendiri Kyra sibuk dan aku juga sedang sibuk mempersiapkan cabang restoran kita yang ada di luar negeri dan membuka cabang di luar negeri itu sedikit rumit soal perizinannya. Jadi aku sendiri yang mengurusnya. Meski aku memiliki asisten, aku tidak mungkin menyerahkan segala hal kepadanya kan?." Dewa memberikan sedikit alasan kepada mamanya tersebut.


Memang, dalam waktu dekat Dewa akan membuka beberapa cabang restoran barunya di beberapa negara asing. Namun, sebenarnya semua sudah ia urus jauh-jauh hari. Semua cabang itu hanya tinggal menungg untuk disahkan.


"Ya sudah kalau begitu, tapi jangan lama-lama ya sayang. Mama sudah tidak sabar ingin memperkenalkan Kyra secara resmi kepada teman-teman mama," ucap Hania.


"Ya sudah ya, Ma, kami pamit dulu. Takutnya kalau kesiangan jalannya macet. Mama tahu kan bagaimana keadaan lalu lintas di ibu kota?" pamit Dewa.


"Iya-iya. Ya sudah ya hati-hati di jalan ya sayang." Hania mengusap pundak Kyra dengan lembut.


"Kami pamit ya, Ma. Assalammualaikum," ucap Kyra.


Kyra dan Dewa segera meninggalkan rumah besar dengan desain Eropa itu setelah orang tua Dewa membalas salamnya. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Tidak lama, Dewa langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan halaman rumah kedua orangtuanya.


***

__ADS_1


Setelah hampir dua jam perjalanan akhirnya Dewa dan Kyra tiba di rumah sakit. Keduanya langsung turun dari mobil dan langsung menuju ke ruang tunggu ICU.


"Ri," panggil Kyra.


Ariana yang sedang duduk di salah satu kursi tunggu itu menoleh. Dia langsung berlari menghambur memeluk Dewa.


"Kak, aku takut. Aku takut mama kenapa-napa," ucap Ariana sambil memeluk Dewa dengan sangat erat. Tampak gurat ketakutan di wajahnya.


Dewa menatap Kyra ketika ingin membalas pelukan wanita yang masih berstatus kekasihnya itu. Meski Kyra merasakan cemburu akan itu, namun dia tetap memberikan izin kepada Dewa untuk membalas pelukan Ariana. Dia tahu, saat ini hanya pelukan Dewa lah yang mampu menenangkan sahabatnya tersebut.


"Tidak, apa-apa, Ri. Mamamu pasti baik-baik saja, dia pasti akan sembuh," ucap Dewa sambil memgusap punggung Ariana.


"Tapi, bukankah kemarin kamu bilang tidak ada yang serius yang terjadi pada mamamu? Kenapa sekarang tiba-tiba mamamu ngedrop?" tanya Dewa.


"Kemarin siang, setelah mama menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan ternyata ditemukan kanker di kepalanya. Dan itulah yang ternyata membuat mama sering mengalami pusing selama ini," jelas Ariana.


"Apa itu yang membuatmu tidak membalas pesanku dan Kak Dewa kemarin?" tanya Kyra.


Ariana mengangguk. "Aku terlalu shock mendengar kabar itu," jabarnya. "Kemarin kondisi mama masih stabil meski sudah dinyatakan memiliki kanker. Tapi, semalam tiba-tiba dia ngedrop aku takut, takut sekali. Tapi, tidak ada satu nomor dari kalian yang aktif."


"Maafkan aku, Ri. Maaf karena aku tidak bersamamu semalam," ucap Kyra.


"Aku juga minta maaf untuk itu," ujar Dewa.


"Tidak, apa-apa, Ra, tidak apa-apa, Kak. Yang terpenting sekarang Kyra dan Kakak ada di sini menemaniku," jawab Ariana. Dia kemudian mengusap air matanya. "Aku tahu kalian ada urusan dengan keluarga kalian, aku mendengar itu dari karyawan kita dan juga asisten Kak Dewa."

__ADS_1


"Ohya, kenapa kalian bisa datang ke sini barengan? Bukan kah kalian bilang ada urusan dengan keluarga kalian masing-masing?" tanya Ariana kepada Dewa dan Kyra. Dia menatap kedua orang itu bergantian.


__ADS_2