
Malam harinya Dewa dan Kyra bersiap-siap untuk menghadiri makan malam yang digelar oleh keluarga besar Dewa. Hal itu biasa dilakukan oleh Keluarga Besar Alfian untuk memperkenalkan menantu baru mereka.
"Kenapa, Ra?" tanya Dewa saat melihat istrinya gelisah. Dan entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke kamar mandi.
"Aku gugup, Kak. Aku takut membuat kesalahan saat bertemu dengan keluarga besar Kakak," jawab Kyra dan itu tidak bohong.
"Sayang, kenapa harus gugup kan ada aku," ujar Dewa sambil menautkan jemarinya di jari Kyra.
"Tetap saja, Kak. Meski pas acara akad nikah kita, aku sudah bertemu dengan papa-mama kamu, tapi untuk anggota keluarga yang lain kan aku belum pernah. Aku takut mereka tidak akan menyukaiku," jelas Kyra.
"Sayang, kenapa berpikir begitu? Buktinya mama-papa saja langsung menyukaimu kan? Padahal mereka tidak pernah bertemu denganmu sebelumya. Jadi, aku yakin anggota keluarga yang lain pun juga akan menyukaimu." Kembali Dewa menenangkan. Dia menyentuh pipi Kyra dengan tangan kanannya.
"Tapi, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya, Kak. Entahlah, aku benar-benar sangat takut," ucap Kyra. "Aku benar-benar takut kalau ternyata keluarga besar Kakak tidak.... "
Belum selesai Kyra berbicara sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Kyra.
"Jangan memikirkan hal yang belum terjadi!" larang Dewa. "Dan seandainya ketakutan itu menjadi kenyataan, maka biarlah aku yang menjadi satu-satunya orang yang menyukaimu," tambahnya. Dewa kembali mendaratkan bibirnya sekilas di atas bibir Kyra.
"Modus."
"Biarin, namanya juga sama istri sendiri," jawab Dewa yang justru menggoda Kyra dengan menaik turunkan alis.
Kyra memeluk suaminya dengan pipi kemerahan.
"Terima kasih ya, Kak, karena Kakak sudah mencintaiku selama bertahun-tahun ini. Terima kasih karena tetap menjaga hati itu hanya untukku meski ada Riana di samping Kakak," ucap Kyra.
__ADS_1
Dewa membalas pelukan wanita yang menjadi cinta pertamanya tersebut tak kalah erat. "Aku sangat mencintaimu Kyra, baik dulu, sekarang, atau pun nanti. Aku akan pastikan bahwa cinta itu selamanya untumu." Dewa mengecup pucuk kepala Kyra bertubi-tubi.
Dan pemandangan mesra itu harus terganggu dengan kemunculan Anne yang tiba-tiba.
"Sorry," ucap Anne sambil memutar tubuhnya dan berdiri membelakangi kakak dan kakak iparnya.
"Ne, aku bilangkan berkali-kali kalau masuk ke rumahku ketuk pintu dulu, jangan asal main nyelonong gitu!" Dewa memberi peringatan kepada adiknya.
"Iya, Kak, sorry, aku kan nggak tahu kalau kalian lagi mau anu." Anne tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya sedikit memajukan bibirnya sambil menggerakan bibirnya.
"Ngapin kamu ke sini kan sebentar lagi aku dan Kyra juga akan segera menuju ke sana?"
"Mama-papa sudah nggak sabar mau ngenalin Mbak Kyra ke keluarga besar, makanya aku disuruh ke sini buat jemput kalian," jawab Anne.
"Kenapa nggak telepon aja?"
Dewa mengambil ponsel miliknya dari atas nakas, ternyata ponsel miliknya tersebut dalam keadaan silent bahkan tanpa getar. Ada sekitar lebih dari 10 panggilan tak terjawab dan 100 lebih chat yang dikirim oleh Anne melalui pesan whatsapp.
"Nomor Mbak Kyra nggak aktif," lanjut Anne sebelum Kakaknya menanyakan hal tersebut.
Dewa menatap Kyra untuk mengkonfirmasi hal tersebut.
"Maaf, ponselku masih ku charger," jawab Kyra sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
"Ya udah, kita berangkat sekarang yuk mama-papa sudah menunggu!" ajak Anne.
__ADS_1
"Tunggu, Ne!" cegah Dewa.
"Ada apa lagi, Kak?"
"Perasaan kunci yang ada di tanganmu sudah kuminta tadi, kenapa kamu bisa masuk?" tanya Dewa sambil menatap Anne.
"Pintunya nggak dikunci, aku ketuk beberapa kali gak dibukain ya udah aku masuk aja," jawab Anne. Dia kembali melenggang keluar dari kamar kakaknya.
"Tapi, lain kali meski gak dikunci kalau aku atau Kyra belum menyuruhmu masuk, jangan masuk dulu, tunggu di luar!" suruh Dewa. "Untung saja kita cuma lagi ciuman tadi, coba kalau kita lagi melakukan hal yang lain? Bisa gagal kamu punya ponakan."
Kyra mencubit lengan Dewa sambil melotot.
"Iya-iya," jawab Anne sedikit mengeraskan suaranya karena dia sudah berada di luar.
"Sakit, Sayang," ujar Dewa sambil berpura memegangi lengannya yang dicubit oleh Kyra barusan.
"Makanya jaga itu mulut, Anne masih 17 tahun. Jangan bicara yang aneh-aneh!" tegur Kyra.
"17 tahun juga sudah bisa bikin anak kali Sayang."
Kembali Kyra mencubit Dewa dan kali ini yang mendapat cubitan itu adalah perut.
"Iya-iya, aku akan lebih berhati-hati saat berbicara dengan Anne. Oke istriku," jawab Dewa yang kali ini menunjukan cengiran kudanya.
Dewa dan Kyra bergandengan tangan kemudian keluar dari kamar mereka. Setelah mengunci pintu rumah, Dewa, Kyra, dan Anne meninggalkan rumah tersebut dengan mengendari mobil sport warna hitam milik Dewa.
__ADS_1
Perjamuan makan malam itu berjalan tertib dan lancar. Tak seperti yang Kyra takutkan, ternyata hampir semua anggota keluarga besar dari Alfian itu menyukainya. Mereka juga sangat ramah kepada Kyra.