Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 42


__ADS_3

Demi mencari keberadaan Kyra, Dewa mengepakan sayap ke dunia fasion. Ia yakin wanita yang masih bertahta di hatinya tersebut masih menggeluti bidang itu.


Dengan berkacak pinggang Dewa mengamati gedung yang ia bangun khusus untuk menjual pakaian brand lokal. Selain bisa memperbesar pemasaran brand lokal dengan begini ia bisa lebih cepat menemukan wanita impiannya itu.


"Bagaimana, Pak, bangunannya apa sudah sesuai dengan kriteria Bapak?" tanya seorang staf kontraktor yang hari itu ditugaskan untuk menemani Dewa.


"Bagus. Aku suka gedungnya. Semoga dengan begini produk brand lokal bisa semakin diminati masyarakat," jawab Dewa. Dia menatap gedung megah di depannya.


"Ohya Pak, kami sudah membuatkan Anda janji untuk bertemu dengan beberapa desainer dan satu desainer terbaik yang produksinya akan di pajang di sini." Salah seorang staf Dewa memberitahu.


"Kapan?"


"Nanti siang saat jam makan siang."


"Apa setelah ini masih ada pertemuan lain?" Dewa mengalihkan pandangan ke arah stafnya.

__ADS_1


"Tidak ada, Pak. Bapak bisa langsung meninggalkan kota ini malam nanti."


Dewa menghembuskan napas panjangnya dan berpikir mungkin kali ini pun sama dia tidak akan mendapatkan kabar apa pun tentang Kyra.


"Kamu urus saja semuanya." Dewa dan beberapa staf ikut pergi meninggalkan lokasi itu mereka langsung menuju ke restoran tempat Dewa melangsungkan pertemuanya dengan beberapa desainer lokal.


Pertemuan Dewa dengan para desainer itu berjalan lancar, meski ada satu desainer yang belum datang karena mobil yang membawanya mogok.


"Wah, tidak disangka ya ternyata Pak Dewa masih sangat muda. Saya kira Pak Dewa sudah kayak om-om." Puji salah seorang desainer muda bernama Risa.


"Terima kasih atas pujiannya, tapi saya sudah memiliki seorang putri yang usianya hampir 5 tahun." Dewa sengaja memberitahu tentang statusnya sebagai ayah karena tidak mau ada dari salah satu para desainer tersebut memiliki pikiran lain.


"Wah, sayang sekali. Saya kira Pak Dewa masih jomlo. Tapi, jadi yang kedua pun saya bersedia lho, Pak." Risa mengedipkan matanya dengan genit.


Dewa memilih untuk tidak menanggapi. Dia kembali fokus dengan tujuan pertemuan tersebut. Rencananya sebelum pembukaan toko akan diadakan fasion show untuk memperkenalkan desain lokal kepada masyarakat dan para desainer diharapkan akan menampilkan karya terbaik mereka.

__ADS_1


"Desainer dari AD fasion apa sudah datang?" tanya Dewa kepada salah satu stafnya.


"Belum, Pak. Sepertinya dia belum menemukan kendaraan lain yang bisa mengantarnya ke tempat ini setelah kendaraan yang membawanya mogok." Staf itu menjelaskan.


Dewa melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya sebuah jam tangan mewah seharga 1 M lebih melingkar di sana. Jam tersebut sudah menunjukan pukul 17.00 WIB yang artinya sudah setengah lebih ia menunggu.


"Kalau lima menit lagi dia belum datang juga, batalkan kontrak kerjasama dengannya. Banyak brand lokal yang ingin memajang karya mereka di sini ngapain harus menunggu orang yang tidak profesional." Dewa berasumsi jika desainer yang belum datang itu tidak memiliki niatan untuk bekerjasama.


"Tapi, Pak. Model buatannya yang saat ini paling diminati pasar." Salah satu staf Dewa mengingatkan.


"Kita bisa mempromosikan brand lain lebih gigih lagi," pungkas Dewa.


Lima menit itu pun akhirnya berlalu, Dewa bangun dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Maaf, saya terlambat." Suara seseorang dari pintu masuk memaksa Dewa menatap ke arah sana.

__ADS_1


__ADS_2