Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
DCK - Bab 39


__ADS_3

5 tahun kemudian....


"Papa...," panggil seorang anak perempuan berumur 4,5 tahun. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak ke kiri dan ke kanan saat ia berlari ke arah Dewa.


"Hai, Sayang. Gimana kabarnya hari ini?" Dewa langsung menggendong gadis kecil tersebut dan membawanya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Baik, Pa. Caca kangen sama Papa. Kenapa Papa jarang pulang?"


Marischa Putri yang biasa dipanggil Caca, gadis kecil itu sudah mulai peka dengan keadaan sekitar. Dia sering protes karena hampir setiap hari Dewa selalu lembur, bahkan seminggu dalam sebulan ia selalu ada dinas keluar kota.


"Papa harus kerja, Sayang." Selalu itu jawaban yang diberikan oleh Dewa. Padahal kenyataannya ia sengaja menyibukan diri agar tidak sering bertemu dengan Ariana.


Iya, meski sudah 5 tahun hidup bersama dengan Ariana, Dewa masih belum bisa melupakan Kyra. Terlebih ketika ia tahu bahwa Caca bukanlah putri kandungnya.


Hal tersebut terungkap seminggu yang lalu saat Caca mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan banyak darah membutuhkan pendonor. Saat itulah diketahui bahwa ternyata Caca bergolongan darah O dan seharusnya hal tersebut paling tidak mungkin terjadi apalagi golongan darah Dewa dan Ariana sama-sama AB.


"Kak Dewa kamu pulang? Mau makan apa biar aku masakin." Ariana yang baru saja keluar dari kamar ikut beegabung dengan Dewa dan Caca.


"Aku tidak lapar," jawab Dewa tanpa menatap wajah Riana.


"Tapi, Kak, Caca pingin makan bareng kamu. Benar kan, Sayang?" Ariana sengaja menjadikan putrinya alasan agar Dewa mau makan bersamanya.


Ariana tahu Dewa sangat menyayangi Caca dan ia tidak mungkin menolak apa pun jika bersinggungan soal Caca. Bahkan alasan Dewa belum menceraikan Ariana karena wanita itu selalu mengancam akan membawa Caca pergi jika Dewa berani menceraikan dirinya.


"Iya, Pa. Makan bareng yuk! Caca pingin disuapin sama Papa." Caca merengek.


Dewa menghela napas. Ia memberikan lirikan sinis kepada Ariana, dia tahu wanita itu sengaja memanfaatkan kelemahannya.


"Ya, Pa, ya!" sekali lagi Caca merengek.


"Baiklah. Untuk putri kesayangan papa apa sih yang tidak?" Dewa menggendong putrinya menuju ke ruang makan.

__ADS_1


Disana ia hanya menyuapi dan berbicara dengan Caca dan tidak mempedulikan Ariana.


"Kak. Sampai kapan sih Kak Dewa akan bersikap dingin kayak gini?" tanya Ariana. Dia mulai kesal karena selalu dianggap tidak ada oleh lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


Dewa menghela napas panjang. Dia tahu maksud Ariana membicarakan itu didepan Caca. Dia pasti ingin memanfaatkan Caca untuk memperoleh simpatinya.


"Caca Sayang, kamu ke kamar dulu ya main sama Bik Surti. Nanti papa nyusul!"


"Tapi, Papa nggak akan berantem kan sama Mama?" Caca memang sudah mulai peka dengan keadaan sekitar. Dia bahkan sudah mulai paham kalau papa-mamanya sedang tidak akur.


"Nggak Sayang. Papa cuma mau ngobrol sama mama." Sambil tersenyum Dewa mengusap rambut putrinya.


Caca menatap papa dan mamanya bergantian. Dia masih ragu untuk pergi dari sana. Dewa kemudian memanggil Bik Surti untuk membawa putri kecilnya itu ke kamar.


"Bik, Bik Surti," panggil Dewa.


Tidak lama wanita paruh baya itu datang tergopoh-gopoh dari arah belakang. "Iya, Tuan. Ada apa?"


"Baik, Tuan. Ayo Non Caca kita ke kamar, bibik temani Non Caca main!" Bik Surti membawa nona mudanya ke kamar yang ada di lantai dua.


"Siapa dia?" tanya Dewa tanpa menatap Ariana.


"Siapa apanya?"


"Ayah kandung Caca," jawab Dewa.


"Sudah aku katakan, aku tidak tahu siapa dia," jawab Ariana.


"Kamu tidak tahu siapa orang yang sudah menghamilimu? Benar-benar lucu!" sentak Dewa. Dia mencebik.


"Aku memang tidak ingat siapa dia, malam itu saat aku tidak berhasil tidur denganmu, aku langsung pergi ke tempat hiburan malam. Aku sengaja mencari orang yang mau menghabiskan malam denganku dan menaruh benihnya di rahimku. Siapa pun itu aku tidak peduli karena pada akhirnya kamu yang akan aku mintai pertanggung jawaban," jelas Ariana.

__ADS_1


"Kamu benar-benar wanita yang tidak waras!"


"Terserah apa katamu! Yang penting akhirnya kamu tetap menikah denganku kan?" balas Ariana santai. "Jangan coba-coba menceraikan aku sekarang karena jika itu kamu lakukan, aku akan membawa pergi Caca jauh darimu!"


Seperti sebelumnya, Ariana kembali memberikan ancamannya kepada Dewa. Sejak kecil Ariana memiliki impian menjadi orang kaya dan dihormati semua orang. Dan mimpi itu akhirnya bisa ia wujudkan dengan menikah dengan Dewa, meski harus mencurangi Kyra sahabatnya sendiri.


Entahlah. Ariana bahkan tidak pernah menganggap Kyra sebagai sehabatnya. Dia sengaja mendekati Kyra agar ia dipandang oleh teman-temannya yang lain. Sebelum ia berteman dengan Kyra, tidak ada satu pun teman di kelas yang melihat keberadaanya karena dia hanya anak miskin. Ariana bisa sekolah di SMP elite itu karena belas kasih dari orang. Salah satunya adalah Maya, ibu Kyra.


Maya dan teman-teman arisannya memiliki program orang tua asuh bagi siswa-siswa berbakat yang tidak memiliki biaya dan salah satunya adalah Ariana.


Jangankan dilihat, Ariana bahkan tidak pernah dilirik oleh teman-teman sekelasnya karena semua mata hanya tertuju pada Kyra. Gadis cantik yang penuh talenta.


Tidak hanya cantik, Kyra juga dikenal sebagai murid yang pintar, tidak sombong, dan mau bergaul dengan siapa pun. Dia juga tidak melihat dari mana temannya itu berasal. Itulah sebabnya ia bersahabat dengan Ariana.


"Kamu benar-benar wanita berhati iblis. Aku yakin kepergian Kyra juga sudah masuk dalam daftar rencanamu," tebak Dewa.


"Kamu benar," jawab Ariana sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dia terlihat bangga karena berhasil menyelesaikan semua rencananya itu.


"Dan satu lagi. Aku lah orang yang sudah membuat Kyra dijauhi oleh teman-teman yang lain. Aku ingin hanya aku yang terlihat sempurna di mata mereka, bukan Kyra!" Dewa tercengang mendengar pengakuan Ariana kali ini. Dia tidak menyangka, gadis yang ia kira polos ternyata ular berbisa.


"Kau pikir kau sudah terlihat sempurna di mata mereka?"


"Tentu saja. Kenapa tidak? Buktinya tidak ada satu orang pun yang mau berteman dengan Kyra selama di sekolah. Aku hebat, kan?" Ariana tersenyum bangga. "Ohya, meski Kakak tidak ingin lagi hidup denganku Kakak tetap harus bersabar. Kenapa? Karena kalau Kakak berani menceraikan aku, selain aku akan membawa pergi jauh darimu. Aku juga akan menyiksanya perlahan sampai anak itu mati."


"Caca adalah putri kandungmu, aku yakin kamu tidak akan tega melukainya."


"Benarkah? Bagaimana kalau aku tidak peduli?"


Ariana terlihat serius saat mengatakan hal tersebut.


Meski bukan anak kandungnya, Dewa sudah sangat menyayangi Caca. Dia tidak mungkin membiarkan Caca disakiti oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


Dewa tahu tak ada gunanya berbicara dengan Ariana, akhirnya dia memilih untuk meninggalkan Ariana dan menemui Caca di kamarnya.


__ADS_2