
Kyra juga memilih untuk langsung pulang ke rumah. Pertemuannya dengan Dewa membuat ia merubah segala rencana. Tadinya setelah penandatanganan kontrak dia ingin menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan mengunjungi kedua orang tuanya di kota yang penuh dengan kenangan tersebut.
Iya, sejak kecil Kyra lahir dan besar di Bandung, dia meninggalkan kota yang mendapatkan julukan Kota Kembang itu saat ia melanjutkan kuliah di Jakarta. Begitupun dengan perasaan cintanya, dimulai dan berakhir di kota itu juga saat ia meminta talak dari Dewa. Bohong jika cinta itu sudah hilang karena cinta itu masih terpatri dengan kuat di hati terdalamnya.
"Kenapa dengan diriku ini? Bisa-bisanya aku masih bersikap seperti ini padahal sudah lama kami bercerai." Kyra menyalahkan diri sendiri yang belum bisa melupakan perasaan cintanya kepada Dewa. Ia sadar, rasa sakit itu masih terasa karena ia masih belum move on dari mantan suami sekaligus cinta pertamanya itu.
"Apa sebaiknya aku penuhi keinginan Mama tentang perjodohan itu ya?" Tiba-tiba Kyra ingat dengan niat sang mama beberapa waktu yang lalu. Waktu itu sang mama berniat menjodohkan Kyra dengan anak temannya yang kebetulan baru kembali dari luar negeri dan waktu itu Kyra menolak dengan alasan ingin fokus membesarkan Arsya. Semalam pun mamanya sudah menyuruhnya untuk berkenalan mumpung ia masih berada di kota Paris Van Java ini. "Tidak! Aku tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak berdasarkan dari hati. Aku tidak mau menyesal nantinya." Kyra meralat.
__ADS_1
Kyra tetap datang mengunjungi rumah kedua orangtuanya mumpung masih berada di kota yang juga memiliki julukan Bandung lautan api.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mau datang sayang? Kalau tahu kamu akan mengunjungi mama hari ini, mama akan buatkan janji dengan Nak Bayu. Dia bilang dia ingin berkenalan langsung dengan kamu," ujar Maya setelah mempersilakan putrinya masuk.
"Ma, sudah kubilang. Aku tidak ingin menikah lagi."
"Sayang, kamu itu masih muda. Kamu berhak bahagia, Nak. Jangan terus-terusan memikirkan laki-laki tukang selingkuh seperti Dewa." Maya masih menyimpan amarah dengan mantan menantunya tersebut.
__ADS_1
"Iya sih, tapi Arsya juga membutuhkan figur seorang ayah. Apa kamu tidak kasihan sama dia?" Kali ini Maya berusaha memanfaatkan cucunya.
"Selama ini Arsya bahagia kok, dia juga tidak pernah menanyakan soal siapa papanya," jawab Kyra santai.
"Dasar kamu ini, setiap disuruh nikah selalu saja begitu jawabannya." Maya akhirnya menyerah. Dia akhirnya tidak memaksa putrinya untuk mau menerima perjodohan dengan Bayu.
Keduanya kini membicarakan tentang hal lain. Malam itu Kyra akhirnya menginap di rumah orang tuanya. Sebelum tidur di menyempatkan diri untuk berteleponan dengan putra semata wayangnya, Arsya.
__ADS_1
Kali ini, Kyra merasa ada yang aneh dengan putranya. Anak itu tidak mau diajak bervideo call, padahal biasanya setiap ia keluar kota Arsya selalu meminta bervideo call sebelum tidur. Katanya ia tidak bisa tidur sebelum melihat wajah mama tercintanya.
"Kenapa Arsya malam ini aneh ya? Tapi, Ryan bilang dia baik-baik saja," batin Kyra setelah telepon itu berakhir. "Sudahlah, mungkin Arsya ngambek karena aku telat menelponya." Pikir Kyra lagi. Karena cukup lelah, Kyra pun akhirnya tertidur.