
Dear Kak Dewa,
Kak, maaf. Aku harus menghilang dari kehidupan Kakak untuk sementara. Tidak usah mencariku karena aku pasti kembali saat waktunya tiba. Jaga diri Kakak baik-baik selama aku pergi.
^^^Dariku yang selalu mencintaimu,^^^
^^^Kyra^^^
...----------------...
Dewa kebingungan ketika nomor Kyra tak bisa lagi dihubungi. Berkali-kali ia mencoba dan berkali-kali pula operatorlah yang menjawab panggilan tersebut.
"Ra, kenapa kamu tiba-tiba meninggalkan aku? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Dewa sambil memegang erat surat dari Kyra.
"Tidak. Apa ini ada hubungannya dengan Riana? Apa malam itu mereka membicarakan sesuatu?" Dewa kembali bermonolog. Dia ingat sikap aneh istrinya terjadi setelah Kyra berbicara dengan Ariana malam itu. Bahkan kemarin Ariana juga tidak menghubungi mereka mereka berdua, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dewa segera bangun dari tempat duduknya. Dengan mengendarai mobil ia meninggalkan rumah untuk menemui Ariana. Ia yakin kepergian Kyra pasti ada hubungannya dengan kekasihnya tersebut.
Setelah memarkirkan mobil, Dewa langsung berlari menuju ke ruang perawatan ibu dari Ariana. Tadi pagi wanita itu memberi kabar kalau ibunya sudah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan biasa.
Tanpa mengetuk pintu, Dewa langsung masuk ke ruang VIP no 3A Cempaka, tempat ibunya Ariana sedang dirawat sekarang.
"Kak Dewa, Kakak sudah datang?" Ariana yang sedang menyuapi mamanya menyapa.
"Kak, ada apa?" tanyanya ketika tidak ada jawaban dari Sang Kekasih.
"Ma, Mama lanjutkan makan Mama sendiri dulu ya. Aku mau bicara dengan Kak Dewa sebentar." Ariana memberikan piring makan di tangannya kepada mamanya.
"Iya, Nak," jawab Anita.
Setelah mendapat jawaban, Ariana pun mengajak Dewa untuk berbicara di tempat yang sepi.
"Ada apa, Kak? Sepertinya ada yang ingin Kakak tanyakan kepadaku?" tanya Ariana penasaran.
"Kyra pergi."
__ADS_1
Ariana langsung terdiam.
"Sepertinya kamu tidak terkejut mendengar ini," lanjut Dewa sambil menatap Ariana. "Apa kamu ada hubungannya dengan kepergian Kyra?" tanya Dewa lagi.
"Ku kira Kakak datang untuk meminta maaf atas perbuatan Kakak kepadaku. Tapi, ternyata Kakak buru-buru datang kesini hanya karena Kyra pergi," ucap Ariana. "Tidak apa-apa, aku akan memaafkan Kakak dan menganggap semua tidak pernah terjadi."
"Jangan-jangan kamu sudah tahu kalau aku dan Kyra sudah menikah?" tanya Dewa yang kembali menatap Ariana.
Ariana kembali diam.
"Ri, aku minta maaf karena aku merahasiakan pernikahanku dan Kyra," ucap Dewa. "Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Selain kami menikah karena takdir, kami juga saling mencintai," lanjutnya. Kali ini Dewa tidak ingin lagi berbohong soal perasaannya.
"Takdir? Saling mencintai?" Ariana mengulang perkataan Dewa. "Kamu sadar nggak sih kalau kamu udah mengkhianati aku?"
"Aku minta maaf, aku tahu seharusnya mengakui perasaanku pada Kyra sejak awal. Maafkan aku!" pinta Dewa dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak mau dengar!" teriak Ariana, sambil memejamkan mata, ia menutup kedua telinga dengan kedua tangannya.
"Ri, aku tidak pernah mencintaimu. Aku mempertahankan hubungan kita karena aku takut Kyra membenciku. Maafkan aku, aku tahu aku salah. Kamu boleh menghukumku dengan hukuman apa pun. Sekali lagi maafkan aku, Ri," jelas Dewa panjang lebar. Dewa tahu ia salah karena tidak jujur tentang perasaannya sedari awal.
Ariana membuka matanya dan menatap Dewa. "Aku tidak mau mengakhiri hubungan kita dan menganggap kalau aku tidak pernah mendengar pengakuan Kakak barusan."
"Tidak masalah jika cinta Kakak kepadaku hanya pura-pura asal selamanya Kakak masih tetap menjadi milikku."
"Ri."
Riana melepaskan cekalan tangan Dewa. Seolah tak perduli dengan semua hal yang Dewa katakan, ia kemudian meninggalkan Dewa dan kembali ke ruang perawatan mamanya.
"Aaarrrggg!" teriak Dewa.
***
"Lho, Nak. Dewa mana? Kak nggak ikut masuk?" tanya Anita ketika melihat putrinya kembali ke ruang perawatan tanpa kekasihnya.
"Kak Dewa ada keperluan, Ma. Dia ke sini cuma mau mastiin kalau Mama udah sehat. Nanti saat Mama sudah diperbolehkan pulang, Kak Dewa bilang, dia yang akan jemput Mama," jawab Ariana berbohong.
__ADS_1
"Dewa benar-benar baik ya, Ri. Mama harap kamu bisa mempertimbangkan untuk segera menikah dengannya." Binar kebahagiaan terpancar di sorot wanita yang tak lagi muda itu.
Sejak dulu Anita memang menginginkan putri semata wayangnya menikah muda. Apalagi ia tahu bahwa Dewa berasal dari keluarga kaya yang mampu menopang kehidupan Ariana ke depan. Ariana yang berasal dari keluarga yang pas-pasan membutuhkan sokongan finansial dari Dewa dan keluarganya. Anita tidak mau anaknya akan bernasib sama dengan dirinya yang tidak memiliki apa pun.
"Pasti, Ma," jawab Ariana. "Mama sudah selesai makan kan? Ayo sekarang Riana akan bantu Mama untuk meminum obat!"
Ariana mengambil 3 butir obat yang berada di atas nakas dekat ranjang pasien. Obat itu sudah disediakan oleh perawat saat mengecek kondisi mamanya pagi tadi. Dia kemudian menuangkan segelar air mineral ke dalam gelas dan memberikannya kepada Sang Mama.
Anita mengambil gelas air berisi air mineral dan 3 butir obat dari tangan putrinya, ia kemudian menenggak obat sekaligus air itu bersamaan. Ia kemudian mengembalikan gelas yang sudah kosong itu kepada Riana.
"Ri, kapan mama bisa pulang ke rumah? Mama bosan berada di sini." Anita bertanya kepada putrinya sembari mengeluh.
"Yang sabar ya, Ma. Mama belum diizinkan pulang karena harus menjalani kemo lagi. Semoga setelah beberapa kali menjalani kemo keadaan Mama akan semakin membaik. Jadi, Mama bisa cepat pulang," jelas Ariana. Dia meletakkan kembali gelas kosong di tangannya di atas nakas.
"Yah, Mama bakalan bosan lagi dong," keluh Anita. Beberapa hari di rumah sakit saja sudah membuatnya tidak betah.
"Makanya Mama harus bisa menjaga kesehatan Mama. Sekarang Mama istirahat ya. Jangan sampai kondisi Mama ngedrop lagi. Ingat! Mama masih harus menjalani kemo lagi pekan depan." Riana mengingatkan kondisi mamanya saat ini.
"Iya, Mama pasti akan menjaga kesehatan Mama," jawab Anita. "Ohya Sayang kok Mama belum melihat Kyra. Apa keadaan butik saat ini lagi rame?"
"Kyra mungkin tidak akan ke sini dalam waktu lama."
Anita terkejut mendengar jawaban dari putrinya. "Kenapa?" tanyanya.
"Dia harus ke luar kota dalam waktu yang lama."
"Kalian tidak sedang bertengkar kan?" Anita menatap serius putrinya.
"Tidak, Ma. Kita tidak bertengkar. Tapi, memang ada sesuatu hal yang harus ia lakukan," jawab Ariana lagi.
"Syukurlah kalau kalian tidak bertengkar." Anita menyampaikan kelegaannya. "Ingat ya sayang, jangan biarkan persahabatanmu dengan Kyra rusak karena hal apa pun. Pertahankan persahabatan kalian dengan cara apa pun."
Ariana tidak menjawab. Dia memilih untuk merapikan selimut mamanya.
"Ariana tinggal dulu ya, Ma. Nanti kalau urusanku di butik sudah selesi aku akan ke sini lagi." Ariana berpamitan. Setelah mendapatkan izin dari mamanya tersebut, ia pun segera keluar dari ruang perawatan mamanya.
__ADS_1
Riana mengambil ponsel dari dalam tas untuk melihat pesan yang dikirim oleh Kyra beberapa saat yang lalu. Pesan itu berisi foto Kyra yang sedang menunjukkan tiket kereta kepada petugas check in. Dan sebuah kalimat yang berbunyi: "Aku sudah turuti kemauanmu. Semoga saat kita ketemu lagi nanti kamu sudah bisa memaafkan kesalahanku dan Kak Dewa serta bisa menerim kami sebagai sepasang suami istri. Sekali lagi, maafkan kami ya, Ri."
Riana menggenggam erat ponsel di tangannya. "Tidak semudah itu Kyra. Aku tidak akan membiarkan usahaku selama ini sia-sia. Aku pastikan, aku akan merebut Kak Dewa dari tanganmu lagi. Suatu saat bukan kamu yang akan berstatus sebagai istrinya, tapi aku. Dengan cara apa pun akan kubuat Kak Dewa menikah denganku. Lihat saja!" Ariana mengatakan hal tersebut dengan tatapan penuh keyakinan.