
"Apa ini?" tanya Ariana saat ia menemukan surat di laci meja Kyra. Dia mengambil surat itu lalu membukanya. Ternyata itu adalah surat pernyataan cinta Dewa untuk sahabatnya.
"Tidak! Surat ini tidak boleh dibaca oleh Kyra, jika mereka jadian maka akan sulit untukku mendekati Kak Dewa." Ariana memikirkan cara agar surat itu tidak sampai di tangan Kyra. Jika harus membuang atau menyembunyikan surat itu pasti akan ketahuan jika ia yang mengambilnya karena saat ini hanya dia yang masuk lebih dulu ke dalam kelas. Dan akhirnya, Ariana memiliki ide lain.
Gadis yang memang sejak dulu terobsesi ingin menjadi pacar Dewa itu sengaja membasahi surat di bagian yang terdapat nama Kyra sehingga nama itu tidak bisa terbaca dengan jelas. Ariana pun kemudian menaruh surat dari Dewa itu ke lacinya sendiri. Dia sangat paham dengan sikap Dewa, leki-laki itu tidak akan mungkin mempermalukan wanita di depan banyak orang, apalagi dia adalah teman Kyra.
Saat ini Dewa memang sudah lulus dari SMA tersebut dan kemungkinan Dewa menyuruh orang untuk menaruhnya di sana atau dia sendiri yang manaruh amplop berwarna pink ke dalam laci itu sebelum semua siswa datang. Dan Ariana tidak mempedulikan itu. Yang terpenting, dia sudah berhasil memindahkan surat itu ke lacinya sendiri. Tinggal nanti bagaimana dia berakting dan berpura-pura baru menemukan surat itu ketika semua siswa masuk ke dalam kelas.
Bel masuk berbunyi, semua siswa masuk ke kelas masing-masing termasuk Kyra. Saat itulah Arian berpura-pura memgambil sesuatu dari dalam laci dan membuat surat itu jatuh.
"Ri, apa itu?" tanya Kyra sambil memungut amplop berwarna pink yang jatuh di lantai.
"Aku juga nggak tahu, Ra," jawab Ariana mulai berakting.
"Tapi, itu jatuh dari lacimu lho," ujar Kyra.
"Ya udah, coba kamu buka, Ra. Aku juga penasaran itu apa." Ariana menimpali.
Amplop berwarna pink itu pun Kyra buka, dia sempat terdiam setelah membuka isi amplop itu.
Melihat hal itu diam-diam Ariana tersenyum. Dia senang melihat wajah Kyra yang tiba-tiba berubah sedih. "Apa isinya, Ra?" tanya Ariana.
"Sepertinya ini surat pernyataan cinta buat kamu," jawab Kyra.
"Benarkah? Dari siapa?" kembali Ariana berakting.
"Itu dari Kak Dewa."
"Kak Dewa suka sama aku?" Ariana berpura-pura terkejut. Dia bahkan menutup mulut dengan telapak tangan seolah tidak percaya dengan isi yang ada dalam surat itu. "Aku masih tidak percaya."
"Tapi, itulah yang tertulis di surat ini." Kyra menunjukan isi di dalamnya. Tentu saja hal itu semakin membuat Ariana senang karena ia berhasil mengelabuhi Kyra.
__ADS_1
"Tapi, nama yang tertera di surat ini terhapus kena air. Jangan-jangan itu bukan namaku dan surat ini memang bukan surat untukku." Tentu saja Ariana harus berpura-pura tidak meyakini surat tersebut. Setidaknya biar ada orang yang nanti bisa meyakinkan teman-teman yang lain bahwa surat itu memang ditujukan untuknya.
"Kalau surat itu bukan untukmu, kenapa ada di lacimu? Aku yakin itu memang surat untukmu, nanti pulang sekolah coba kita konfirmasi ke Kak Dewa langsung." Kyra menjelaskan.
Riana memperhatikan ekspresi Kyra melalui lirikan. Ia tahu Kyra sedih. Tapi, ia juga tidak peduli. Bagi Riana bisa menjadikan Dewa sebagai pacar adalah hal yang paling dinanti tak peduli walaupun hati pria tersebut bukan untuknya.
Sepulang sekolah ternyata Dewa sudah menunggu di depan sekolah. Pria berwajah mempesona itu berdiri sambil membawa buket bunga mawar di tangan. Senyum pria itu mengembang kala melihat Kyra dan Ariana berjalan ke arahnya.
"Bagaimana kamu sudah baca surat itu?" Pertanyaan ini Dewa tujukan untuk Kyra.
Namun, justru Ariana yang menjawabnya. "Sudah, Kak. Aku sudah membaca surat dari Kakak itu," jawab Ariana dengan wajah merona. Tentu saja hal tersebut adalah akting karena Ariana tahu, surat itu memang bukan untuknya.
"Kok kamu yang baca? Bukankah harusnya surat itu dibaca oleh Kyra," ujar Dewa bingung.
"Aku juga udah baca kok Kak. Dan aku senang kalau ternyata Kakak mencintai Ariana."
Tentu saja jawaban Kyra semakin membuat Dewa bingung. Pasalnya surat itu ia tulis untuk Kyra, bukan Ariana.
"Ini, Kak." Ariana memberikan surat dari Dewa tersebut kepada pemiliknya.
"Ini memang suratku, tapi kenapa bukan Kyra yang menerimanya dan malah Ariana?" batin Dewa setelah melihat amplop surat tersebut. Ia pun kemudian membuka surat itu dan ternyata bagiana yang tertera nama Kyra terhapus karena surat itu terkena air.
"Aneh. Kenapa bagian dalam surat ini justru yang basah kena air?" Dewa kembali bermonolog. Dia menatap Ariana dan dan Kyra bergantian.
"Ri, sebelumnya aku minta maaf sebenarnya surat itu.... "
"Selamat ya, Kak. Semoga hubungan Kakak dan Ariana langeng. Aku akan sangat membenci Kakak kalau sampai Kak Dewa nyakitin hati Ariana. Dia bukan hanya sahabat untukku, tapi dia sudah seperti saudara ku dan aku tidak bisa jika harus melihat saudaraku bersedih. Jadi, Kak. Tolong bahagiakan Ariana!" Kyra memotong perkataan Dewa.
"Kau benar-benar akan membenciku jika aku menyakiti Riana?" tanya Dewa sembari menatap dua bola mata Kyra.
"Tentu. Aku akan sangat membenci Kakak jika Kakak berani menyakiti Ariana. Jadi, aku mohon Kakak bahagiakan dia ya. Buatlah agar Riana selalu happy!" pinta Kyra dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Kyra tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Dan mungkin ini saatnya ia menyerah akan perasaan cintanya terhadap Dewa. Meski butuh waktu, ia yakin cepat atau lambat cinta itu akan hilang sendiri dari dalam hatinya.
Ya, akhirnya Dewa tidak jadi meluruskan kesalahpahaman tersebut. Dia membiarkan Ariana tetap mengira jika surat itu memang untuknya.
Di dalam kamar pengantinnya Riana tersenyum. Akhirnya sekali lagi ia bisa mengalahkan Kyra dan membuat wanita itu menjauh dari Dewa.
Usai acara resepsi tadi, Ariana langsung diboyong ke rumah Dewa. Wanita yang masih memakai gaun pengantin tersebut sudah duduk di tepi ranjang tempat tidur. Ia sudah membayangkan betapa bahagianya ia karena malam ini akan menghabiskan malam panjang bersama Dewa, laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya.
Tidak lama Dewa masuk. Pria itu hanya mengambil batal dan selimut dari dalam lemari.
"Kak, Kakak mau kemana?" tanya Ariana saat Dewa hendak keluar dari kamar.
"Aku mau tidur di kamar tamu."
"Kenapa? Bukan kah kita ini suami istri?" Ariana menatap Dewa menuntut penjelasan.
"Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa menghabiskan malam bersama dengan wanita yang tidak aku cintai."
"Tapi, malam itu kita sudah pernah menghabiskan malam berdua, kenapa sekarang tidak bisa?"
"Malam itu aku tidak sadar. Sampai sekarang pun aku tidak ingat apa yang sudah kita lakukan sampai membuatmu hamil," jawab Dewa.
"Jadi, Kakak meragukan kalau anak ini adalah anak Kakak?"
"Aku tidak pernah meragukan itu, makanya aku menikahimu. Hanya saja, aku tidak bisa tidur di tempat tidur yang sama denganmu. Kamu tahu kenapa?"
"Memang kenapa, Kak?" tanya Ariana.
"Kerana aku akan selalu mengingat Kyra. Setiap melihat wajahmu, aku jadi mengingat Kyra dan menyesali perbuatanku yang mabuk malam itu. Jika saja aku tidak mabuk, pasti aku tidak akan berbuat khilaf dan aku masih bisa bersama dengan Kyra sekarang," jelas Dewa. "Tapi, kamu tenang saja aku akan tetap bertanggung jawab terhadapmu dan bayi itu." Setelah mengatakan hal tersebut Dewa benar-benar meninggalkan Ariana sendirian di kamar. Ia bahkan tidak mempedulikan panggilan dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut.
"Kyra. Meski aku sudah berhasil menyingkirkanmu, tetapi kamu tetap menjadi penghalang untukku meraih kebahagiaan. Aku semakin membencimj, Kyra! Sangat benci!" Ariana menggenggam tangannya kuat.
__ADS_1