Desain Cinta Kyra

Desain Cinta Kyra
Pergi


__ADS_3

"Itu cincin pernikahan bukan?" Pertanyaan Ariana membuat Kyra tersentak.


"Ini bukan.... "


Plakk!


Sebuah tamparan melayang di pipi kanan Kyra. "Aku tidak menyangka Kyra kalau kamu tega menusukku dari belakang! Kamu tega mengkhianatiku!" sentaknya.


"Ri, aku.... "


"Kamu tahu kan kalau aku sangat mencintai Kak Dewa? Kenapa kamu tega merebutnya dariku, Ky? Kenapa?!" sentak Ariana.


"Ry, aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Tapi, takdirlah yang menyatukan kami menjadi sepasang suami istri. Aku mohon, Ri. Maafkan kami!" Kyra tak mau membela diri. Dia hanya berharap sahabatnya itu mau mengerti dan menerima pernikahannya dengan Dewa secara ikhlas.


"Kamu tega, Kyra! Kamu tega! Kamu sangat tahu bagaimana perasaanku terhadap Kak Dewa dan bagaimana hubungan kami selama ini. Tapi, kenapa kamu begini? Kenapa kamu merebut Kak Dewa dariku? Apa salahku sama kamu, Ky? Apa?" Ariana terisak dan itu semakin membuat Kyra merasa bersalah.


"Maaf. Maafkan aku, aku betul-betul minta maaf," ucap Kyra.


Ariana menghapus air mata yang ada di kedua pipi dengan tangannya.


"Aku akan memaafkan kamu. Tapi, kamu harus bercerai dengan Kak Dewa. Ceraikan dia, jika kamu memang merasa bersalah!" seru Ariana dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


"Aku tidak bisa, Ri. Aku tidak bisa. Aku minta maaf," tolak Kyra. "Kamu boleh menghukum aku apa pun asal jangan memintaku untuk bercerai dari Kak Dewa. Sama halnya dengan dirimu, aku pun mencintai dia, Ri. Maafkan aku!" aku Kyra seraya meminta maaf.


"Apa? Jadi, selama ini kamu mencintai dia?" tanya Riana dengan geram.


Kyra mengangguk. "Aku jatuh cinta sama Kak Dewa, jauh sebelum kalian berdua menjalin hubungan," jawabnya.


"Jika kamu bisa memendam perasaanmu dulu? Kenapa sekarang kamu tidak bisa memendamnya? Hah? Kenapa?" Ariana sedikit meninggikan volume suaranya. "Padahal kamu tahu bahwa dia adalah pacarku dan kami saling mencintai. Harusnya kamu menolak perjodohan tersebut!"


"Maafkan aku, Ri. Tapi, bukan hanya aku yang jatuh cinta dengan Kak Dewa, akan tetapi Kak Dewa juga sebenarnya mencintaiku."

__ADS_1


"Apa?" Ariana memicing. "Jelaskan apa maksud perkataanmu itu!" suruhnya.


Kyra menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Ia kemudian menatap sahabatnya tersebut.


"Ri, sebenarnya sama halnya dengan diriku yang menyembunyikan perasaan cintaku sama Kak Dewa, Kak Dewa pun sama. Dia juga sebenarnya mencintaiku."


"Tidak mungkin! Itu pasti hanya hayalanmu saja!" elak Ariana. "Jika dia tidak mencintaiku, kenapa dia memberikan surat dulu? Jika dia tidak mencintaiku bagaimana hubungan kami bisa bertahan sampai 4 tahun? Kamu sungguh lucu, Kyra!"


"Surat itu salah sasaran. Sebenarnya surat itu untukku bukan untukmu!"


"Apa Kak Dewa yang mengatakan ini?" tanya Ariana dan dijawab denhan anggukan oleh Kyra.


"Bodoh! Aku yakin, Kak Dewa berkata seperti itu hanya ingin menghiburmu agar kamu tidak merasa bersalah. Kak Dewa adalah pria yang baik, dia tidak mungkin membuatmu merasa bersalah sendirian, makanya dia pura-pura mengaku kalau dia mencintaimu."


Kyra terdiam. Benarkah pengakuan cinta Dewa terhadapnya adalah bohong? Tapi, jika itu bohong kenapa bisa merasakan rasa cinta itu?


"Begini saja. Tinggalkan Kak Dewa selama satu tahun, jika memang selama ini dia mencintaimu dan menyimpan perasaan cintanya kepadamu itu selama empat tahun ini. Maka ku rasa dia juga pasti bisa menahan peraan cinta itu satu tahun lagi. Aku janji, jika saat itu tiba dan Kak Dewa masih menjaga hatinya untukmu, maka aku akan dengan ikhlas melepaskannya. Bagaimana?"


Kyra kembali menatap Ariana. Dia terlihat ragu saat akan mengambil keputusan.


"Baiklah. Aku setuju."


"Bagus. Jadi, kita berdua bisa sama-sama membuktikan siapa wanita yang sebenarnya Kak Dewa cintai!"


Malam itu Kyra dan Ariana sepakat. Kyra akan pergi meninggalkan Dewa selama setahun.


***


Pagi itu susana stasiun lumayan ramai tak seperti hari-hari biasanya. Akhir pekan menjadi salah satu penyebabnya. Kyra menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Rasanya begitu berat karena ia harus meninggalkan kota yang menjadi tempat tinggal keduanya setelah kampung halaman. Apalagi di kota ini ia sedang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya.


"Beneran, Nak, kamu mau meninggalkan kota Jakarta?" tanya Maya dari ujung sana.

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku sudah janji sama Riana."


"Lalu bagaimana dengan suamimu? Nak, harusnya kamu cerita semuanya kepada Alfian tentang permintaan Riana kepadamu. Bagaimana pun, dia berhak tahu alasan kenapa kamu memilih pergi darinya." Maya kembali menasehati Kyra.


"Ini semantara, Ma. Anggap saja ini untuk menebus rasa bersalahku sama Riana karena aku udah ngerebut Kak Dewa dari dia," jelas Kyra.


"Tapi, Kyra.... "


"Ma, seperti yang Riana katakan. Jika memang Kak Dewa benar-benar mencintaiku, maka perpisahan sementara ini tidak ada artinya. Riana cuma memintaku meninggalkan Kak Dewa untuk satu tahun dan dia berjanji, jika dalam setahun Kak Dewa tetap setia terhadap pernikahan kami, maka Riana akan mundur dengan senang hati. Dan yang paling penting, aku tidak akan lagi merasa bersalah kepadanya," potong Kyra.


"Lalu bagaimana jika suamimu ternyata kembali pada Riana? Apa kamu sudah rela kehilangan dia?" tanya Maya lagi. "Kyra sayang. Kadang dalam cinta kita perlu bersikap egois, jika kamu mencintai Alfian dan yakin kalau Alfian juga mencintaimu. Kamu tidak usah hiraukan perasaan Riana, kalau dia sahabat yang baik, dia akan menyerah saat tahu bahwa sebenarnya kamu dan Alfian saling mencintai, apalagi kalian sudah menikah. Bukan malah menyuruhmu meninggalkan Alfian, meski itu hanya untuk sementara." Maya berbicara panjang lebar.


"Ma, anggap saja ini untuk menebus rasa bersalahku pada Riana. Setidaknya, jika aku dan Kak Dewa berhasil melewati ini, kami bisa bersama tanpa ada beban," jawab Kyra.


Meskipun berat, Kyra terpaksa melakukan ini. "Dan jika akhirnya Kak Dewa kembali dengan Riana, itu artinya memang bukan aku yang Kak Dewa cintai. Tapi, Riana," lanjutnya.


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Mama berharap kamu dan Dewa bisa melewati ini dan bisa bersama-sama kembali." Terdengar helaan napas Maya dari ujung sana.


"Sudah ya, Ma. Keretaku sudah hampir tiba. Aku mau check in dulu. Nanti aku hubungi Mama begitu aku sudah sampai."


"Kalau begitu hati-hati ya Sayang. Mama akan ke sana saat papamu tidak sibuk.


"Iya, Ma. Kyra tunggu. Ohya, tolong rahasiakan tempat Kyra pergi dari Kak Dewa!" pinta Kyra.


"Iya, Sayang. Jaga diri baik-baik ya."


"Iya, Ma. Assalammualaikum."


"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Belum sempat Kyra memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas, ada panggilan masuk dan itu dari Dewa. Cukup lama Kyra menatap layar teleponnya hingga akhirnya dia memilih untuk menonaktifkan poonselnya tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kak. Semoga perasaan Kakak tetap sama nanti." Kyra memasukkan ponsel nya ke dalam tas.


Kyra menunjukkan tiket kereta kepada petugas check ini.


__ADS_2