
"Alhamdulillah keadaan Ibu Anda baik-baik saja, hanya kaki kanannya saja yang mengalami patah tulang dan itu bisa disembuhkan secara perlahan. Untuk luka di kepalanya juga tidak terlalu parah karena tidak terjadi perdarahan di kepala," jelas Sang Dokter.
Ariana akhirnya bernapas dengan lega. "Dok, aku bisa menemui ibuku sekarang?" tanyanya.
"Silakan. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang perawatan dan Anda bisa menemuinya di sana," jawab Sang Dokter.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Mbak. Saya permisi ya." Setelah mengatakan hal tersebut, Dokter itu pun pergi dari sana.
"Alhamdulillah ya, Kak, karena keadaan Mama nggak begitu mengkhawatirkan," ucap Riana kepada Dewa.
"Sudah ku bilangkan kalau Mamamu pasti baik-baik saja."
Riana mengangguk.
"Ayo kita ke ruang perawatan Mamahmu!" ajak Dewa.
"Iya, Kak. Ayo!"
__ADS_1
Keduanya pun kemudian berjalan beriringan menuju ruang perawatan mamanya Riana hingga akhirnya tibalah mereka di ruang perawatan tersebut.
Riana langsung berlari memeluk ibunya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Ma, Mama nggak apa-apa kan?" tanya Riana sambil mendongak menatap wajah ibunya yang masih kelihatan sayu.
"Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama sudah baikan sekarang. Maafkan Mama ya, Nak, karena sudah membuatmu khawatir," ujar wanita separuh baya dengan kaki kanan di pasang gips.
Riana menggeleng. "Harusnya Riana yang minta maaf sama Mama karena gara-gara Riana nggak denger panggilan Mama, Mama jadi jatuh dari tangga. Maafin Riana ya, Ma," ucap Ariana, dia terlihat sangat menyesali keteledorannya yang satu itu.
"Kamu nggak salah kok, Nak. Jadi, jangan salahkan dirimu ya." Ibunya Ariana mengusap lembut pipi putri tercintanya. Wanita paruh baya tersebut terlihat menghela napas panjangnya. Wajahnya tiba-tiba terlihat muram.
"Mama hanya mengkhawatirkan keadaanmu," jawab ibunya Ariana. Ibu Ariana bernama Anita, memiliki usia sekitar 46 tahun.
"Ma, kenapa Mama mengkhawatirkan Riana? Riana kan baik-baik saja," ucap Riana.
"Mama tahu kamu baik-baik saja sekarang, tetapi kita kan tidak tahu bagaimana kehidupanmu ke depan." Kembali Anita menghela napasnya.
"Saat Mama jatuh tadi yang Mama pikirkan hanya keadaan kamu. Selama ini kita hanya hidup berdua, bagaimana kalau tiba-tiba Mama dipanggil Tuhan apa kamu akan baik-baik saja nantinya." Anita menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Ma, Mama jangan ngomong gitu dong. Riana yakin Mama akan selalu ada di samping Riana."
"Tapi, tetap saja, Nak, Mama selalu mengkhawatirkanmu. Apalagi Mama melihat hubunganmu dan Dewa tidak ada kemajuan, masih di situ-situ saja. Dewa bahkan belum mengenalkanmu kepada orang tuanya," jawab Anita. Dia kemudian beralih menatap Dewa yang berdiri di sebelah kursi yang diduduki oleh Riana.
Dewa tidak menampik perkataan Anita barusan karena memang hubungannya dengan Riana terlihat jalan di tempat. Padahal hubungan mereka sudah berjalan selama hampir 4 tahun. Mungkin, jika hubungan mereka sedikit saja ada kemajuan dirinya tidak akan menikah dengan Kyra sekarang. Iya, meski tidak mencintai Riana dengan sepenuh hati setidaknya dulu Dewa berniat menikahi wanita itu. Sayangnya, Riana menolak dengan alasan karirnya baru dimulai.
"Itu kan karena Riana yang mau, Ma. Riana nggak mau hubunganku dengan Kak Dewa menghambat karirku. Makanya setiap Kak Dewa ngajakin Riana buat kenalan sama keluarganya, Riana selalu menolak." Riana membela Dewa dan memang itulah yang terjadi. Sudah sering Dewa mengajak kekasihnya itu untuk berkanalan dengan keluarganya terutama mama dan papanya, akan tetapi Riana terus menolak untuk berkenalan dengan mereka. Dan hal itulah yang menjadi salah satu penyebab dia tidak bisa menolak ketika ia dijodohkan dengan Kyra.
"Riana bakalan kenalan sama keluarga Kak Dewa dan nikah sama dia setelah lomba desain itu selesai," tambahnya.
"Sungguh, Nak?"
Riana mengangguk. "Iya, Ma," jawab Riana.
"Benar itu Dewa?" kini Anita melempar pertanyaan tersebut kepada Dewa.
Dewa terdiam. Memang itulah rencana mereka dulu, tetapi jalan takdir tidak ada yang tahu. Kini dia justru sudah menikah dengan Kyra, wanita yang dulu menjadi cinta pertamanya.
"Dewa, apa itu benar?" tanya Anita mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Dewa masih diam. Dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa kepada ibu dari kekasihnya tersebut.