
"Kamu sudah bangun, Sayang? Ayo sekarang kamu makan dulu, mama tahu kamu belum makan siang kan tadi," kata Maya ketika melihat putrinya sudah duduk di atas tempat tidur sambil menatap pemandangan di luar melalui jendela kamar.
"Aku tidak lapar, Ma," jawab Kyra tanpa menoleh.
Maya duduk di sebelah putri kesayangannya tersebut. Ia lalu mengusap rambut panjangnya itu.
"Sayang. Mama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Tapi, kamu harus ingat. Saat ini kamu bukan hanya hidup untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk anak yang ada di dalam kandunganmu. Memangnya kamu tega membuat calon anakmu itu kelaparan. Hm?" Maya berusaha mengingatkan putrinya.
Kyra menatap perutnya lalu mengusap dengan lembut. Iya, saat ini ia hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk calon anaknya.
"Ma, apa dia akan marah jika kelak dia hanya akan hidup berdua denganku?"
Pertanyaan Kyra membuat Maya mengernyit heran. "Tapi, kenapa? Bukan kah dia memiliki ayah?" tanyanya.
Kyra menggeleng. "Mulai sekarang dia hanya memiliki aku," jawab Kyra. Dia berusaha agar air matanya tidak kembali jatuh. Namun sayangnya, cairan bening itu jatuh begitu saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti ini?" Maya belum bisa memberikan tanggapan atas pernyataan putrinya barusan karena belum mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Apalagi, Sang menantu juga belum memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Kak Dewa mengkhianatiku, Ma," jawab Kyra.
Tentu saja Maya terkejut mendengar jawaban dari putrinya itu. "Apa maksudmu, Sayang?" tanya Maya, dia ingin tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga putri semata wayangnya
"Riana... dia hamil anak Kak Dewa, Ma."
"Apa?!" Maya tentu terkejut mendengarnya.
"Aku... aku sudah putuskan untuk mengakhiri rumah tanggaku dengan Kak Dewa, Ma. Tidak apa-apa kan aku begitu?" Kyra menatap mamanya.
"Lalu bagaimana dengan anakmu?"
"Anakku tidak membutuhkan seorang ayah pengkhianat. Aku akan membesarkan dia seorang diri. Aku yakin, aku bisa memberinya limpahan kasih sayang melebihi kasih sayang yang diberikan oleh ayahnya," jelas Kyra.
Iya, Kyra memang sudah menutup hatinya untuk Dewa.
"Nak.... "
__ADS_1
"Memamg Mama mau kalau aku berbagi suami dengan Riana?" potong Kyra.
Sebagai orangtua, Maya tentu tidak rela putrinya diduakan. Tetapi, sebagai seorang calon nenek yang mengkhawatirkan bakal calon cucunya, tentu dia tidak ingin anak yang masih berada di dalam perut Kyra itu besar tanpa kasih sayang dari ayah kandungnya.
"Tapi, kamu istri sahnya. Kamu dan anak kamu yang lebih berhak bersama dengan Alfian. Bukan Riana!" tegas Maya.
"Aku yang tidak mau, Ma," jawab Kyra tak kalah tegas.
"Sayang. Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi, pikirkan dengan kepala dingin." Kembali Maya menasehati.
"Aku sudah memikirkannya, Ma."
"Tapi, Sayang.... "
"Aku mohon, Ma. Aku tidak bisa hidup bersama laki-laki yang sudah mengkhianati aku. Anggap saja, itu hukuman karena aku sudah menikah dengan pacar sahabatku. Aku hanya mohon Mama dan Papa mau mendukung keputusanku ini dan merahasiakan kehamilanku dari Kak Dewa dan keluarganya. Aku mohon, Ma! Aku mohon!" pinta Kyra.
"Baiklah, Sayang. Jika itu keputusanmu, mama dan papa pasti akan mendukungmu," jawab Maya yang mengiyakan permintaan putrinya.
"Terima kasih, Ma. Terima kasih," ucap Kyra.
*
Maya sudah menceritakan semua hal yang terjadi kepada suaminya, Arfan. Sebagai seorang ayah, Arfan tentu marah mengetahui putrinya dikhianati. Dia pun tidak rela jika putri semata wayangnya harus merajut kembali mahligai rumah tangganya dengan menantu yang sudah menyakiti putrinya itu.
"Sebenarnya, aku ingin kamu langsung mengembalikan putriku kepada kami. Tapi, sepertinya itu akan terlihat tidak adil bagimu karena kami belum memberimu kesempatan untuk menjelaskan atau pun membela diri," ujar Arfan kepada Dewa ketika pemuda tersebut akhirnya datang ke rumah mereka. Sebagai seorang kepala keluarga, ia harus bisa bersikap seobjektif mungkin.
"Sekarang katakan kepada kami apa benar kamu telah mengkhianati putriku? Dan apa benar jika wanita itu mengandung benihmu?" tanya Arfan. Dia ingin mendengar jawaban langsung dari mulut menantunya.
"Maaf, Pa. Aku tahu, aku tidak pantas untuk membela diri karena apa pun alasannya aku telah mengkhianati putri Papa meskipun itu tanpa di sengaja." Dewa menghirup napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita.
"Malam itu setelah beberapa hari aku tidak berhasil mendapatkan kabar tentang Kyra, aku sedikit putus asa, dan akhirnya aku ke bar untuk minum. Dan akhirnya aku mabuk. Jujur aku tidak ingat apa yang terjadi antara aku dan Riana malam itu, tapi saat aku bangun, aku sudah berada di tempat tidur yang sama dengan Riana dalam keadaan tanpa busana."
Hati Kyra tercabik mendengar itu. Air matanya kembali jatuh dari sudut matanya.
"Jadi benar kalau Ariana saat ini sedang mengandung anakmu?" tanya Arfan lagi.
__ADS_1
Dewa mengangguk. "Aku tidak akan menyangkalnya. Karena sadar atau pun tidak sadar nyatanya aku sudah tidur dengannya. Aku minta maaf, Pa," jawab Dewa.
"Jadi, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Arfan ingin tahu keputusan apa yang akan diambil oleh menantunya sebagai jalan keluar dari masalah yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
"Apa pun yang diminta oleh Kyra, aku akan memberikannya. Karena sengaja atau tidak, kenyataannya aku sudah menyakitinya," jawab Dewa.
Dewa tahu kesalahan yang ia lakukan memang besar dan ia merasa tidak pantas untuk membela diri. Jadi, apa pun yang akan diminta oleh istrinya, Dewa akan berusaha untuk mengabulkan asal Kyra mau memberinya maaf.
"Meski yang diminta Kyra adalah kebebasannya?"
Jawaban Arfan membuat Dewa yang sejak tadi menunduk sedikit mengangkat kepala. "Maksudnya, Pa?"
"Kyra ingin kamu mengambalikan dia sama Papa," jelas Arfan.
Dewa menggeleng. "Ra, tolong jangan minta itu. Tolong jangan minta aku menceraikanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kyra. Aku mohon!" pinta Dewa dan untuk pertama kalinya pria itu menangis.
"Kak, bukankah kamu harus bertanggung jawab atas janin yang ada di rahim Riana. Lalu bagaimana cara kamu bertanggung jawab kepadanya, jika kamu tidak melepasku?"
"Aku.... "
"Kak, aku tidak mau berbagi suami dengan siapa pun, termasuk dengan Ariana. Jadi, aku mohon lepaskan aku!" pinta Kyra.
Mendengar permintaan Kyra tersebut, Dewa kembali menggeleng. Dia tidak rela jika harus melepaskan wanita yang ia cintai.
Sebenarnya Kyra tidak tega melihat Dewa seperti itu. Akan tetapi, dia juga tidak bisa jika harus berbagi suami dengan sahabatnya sendiri.
"Nak Alfian. Jika kamu memang mencintai Kyra, maka lepaskanlah dia! Kembalikan dia kepada Papa karena nyatanya kamu tidak bisa membahagiakannya!"
Arfan secara lugas meminta Dewa untuk mengembalikan Kyra kepadanya.
"Pa.... "
"Papa mohon Nak Alfian, tolong lepaskan putri Papa!" pinta Arfan sekali lagi.
Dewa masih diam. Satu sisi dia merasa sangat berat jika harus melepaskan istri tercintanya tersebut. Tetapi di sisi lain, dia merasa permintaan mertuanya tersebut adalah permintaan yang wajar sebagai seorang ayah yang menginginkan kebahagiaan untuk putrinya.
__ADS_1