
"Nggak usah bohong sama mamah, Widi anak mamah, darah daging mamah, jadi apapun yang Widi rasakan mamah juga bisa merasakan, mama tahu Nadia bukan pacar kamu kan?"
Widi pun merasa kaget mengapa mamahnya bisa mengatakan hal tersebut
"mah, dari mana mamah tahu?"
"kan mamah sudah bilang, mamah ini mamah kamu, orang yang melahirkan kamu, ya jelas mamah tahu, kamu cinta sama Nara kan?"
"ishh mamah kaya dukun"
"benar kan kamu cinta sama Nara?mamah tahu soalnya mamah nggak sengaja pernah buka HP kamu isinya foto-foto Nara semuanya, maaf ya mamah lancang buka-buka HP anak mamah?hehe, terus saat dulu kita dari jakarta ketemu Nara dan keluarganya di rumah makan, mamah perhatikan kamu, bagaimana kamu memandang Nara, kamu memandangnya dengan penuh cinta, terlebih saat mamah tahu Nara kuliah di Jogja juga, mamah jadi semakin yakin kalau anak mamah sedang jatuh cinta dan jadi paham ternyata itu alasan kamu nggak mau kuliah di Jakarta karena kamu nggak mau kan jauh-jauh dari Nara, tapi ternyata Nara mencintai pria lain dan kamu nggak bisa move on?apa mamah salah?"
"Benar semuanya mah, Widi memang mencintai Nara, sangat mencintainya tapi Widi tak mampu untuk mengungkapkannya karena buat Widi kebahagiaan Nara di atas segalanya, biarlah semua rasa ini Widi pendam dalam hati mah"
"Nak, sekarang yang terpenting kamu fokus kuliah, kejar cita-cita kamu, jangan kecewakan mamah sama papah, masa depanmu masih panjang, kalau Nara memang jodoh kamu suatu saat dia pasti akan kembali padamu, mungkin untuk saat ini kamu hanya bisa menjaganya dalam doa"
"Iya mah, makasih ya mah, mamah memang the best" Widi pun memeluk mamahnya (manjanya si anak bontot)😁
"Eh tapi nggak ada salahnya juga kamu membuka hati untuk yang lain Nak, Nadia misalnya, mamah lihat dia sangat mencintai kamu, anaknya juga sepertinya baik, membuat nasi kuning nggak gampang lho sayang, hargai itu semua"
"Nggak tahu lah ma, justru itu ma Nadia anak yang baik, Widi takut mengecewakan Nadia, Widi takut hanya menyakitinya karena nggak bisa membalas cintanya, dia pantas mendapatkan yang lebih dari Widi"
"Ya sudah, ya sudah terserah anak mamah saja, apapun keputusannya mamah dukung, yang penting ingat selalu pesan mamah ya"
__ADS_1
"Siap Boss" Widi terkekeh
Saat Nara dan Niko hendak pergi ke warung makan yang ada di pinggir pantai, di jalan Nara bertabrakan dengan seorang cewe dan ternyata cewe tersebut adalah Tina, Tina memang sengaja mengikuti Niko dan dia sudah merencanakan semuanya, dia ingin mendekati Nara dan menjadi teman baik Nara.
brakkkk
"aw, maaf-maaf mba saya nggak sengaja" Ucap Nara sambil membantu cewe tersebut untuk bangun, karena memang dia yang menabrak duluan dan membuat Tina jatuh ke pasir hingga membuat badannya berlumuran pasir pantai, Tina pun sibuk membersihkan pasir yang ada di lengan tangannya dan bajunya,
"iya nggak apa-apa😊Niko...di sini juga?" Tina pun menyapa Niko
"Tina, ngapain dia disini?jangan-jangan dia mau membocorkan kepada Nara tentang hubungan aku sama dia?engga-engga, ini nggak boleh terjadi, aku belum siap untuk kehilangan Nara" Ucap Niko dalam hati, dia pun merasa takut, nggak tenang, gugup dan deg-degan karena Tina ada di hadapannya saat dia sedang bersama Nara dan ini untuk pertama kalinya Nara bertemu dengan Tina.
"Ayo sayang katanya kita mau makan, aku sudah lapar banget" Ucap Niko sambil melangkah dan menggandeng tangan Nara untuk segera pergi ke warung makan namun sebenarnya itu hanya alibi Niko karena dia takut kalau Tina hendak bicara macam-macam sama Nara tentang hubungan mereka.
"Tunggu sayang, dia siapa?kalian saling kenal?" Nara pun mencoba bertanya pada mereka berdua
Niko pun kemudian berhenti
"dia teman sekelas aku yank"
"iya mba, aku teman sekelas Niko di kampus" Tina mencoba mendekat kembali kepada mereka
"perkenalkan, Tina" Ucap Tina sambil mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Kinara, panggil saja Nara" mereka pun kemudian saling berkenalan dan berjabat tangan
"senang berkenalan denganmu" Tina
"Mba sendirian?" Nara
"Engga Ra sama teman-teman tapi nggak tahu lagi pada di mana, ya sudah aku mau cari teman-temanku dulu ya" Tina pun berbohong, kemudian melangkah pergi meninggalkan Nara dan Niko.
Nara dan Niko telah masuk ke sebuah warung makan, saat sedang memilih-milih menu tiba-tiba di tempat duduk yang tak jauh dari tempat duduk mereka ada dua sejoli yang sedang bermesraan namun tiba-tiba datang seorang perempuan marah-marah sambil nangis
"oh jadi ini sayang kelakuan kamu di belakang aku!akhir-akhir ini kamu jarang hubungi aku, katanya sibuk ternyata sibuk sama perempuan lain!kamu tega sayang!apa salahku?" Ucap wanita tersebut sambil menangis dan wanita yang baru datang tersebut ternyata adalah Tina, dia sengaja menyewa orang untuk berpura-pura sebagai kekasihnya yang berselingkuh kemudian meninggalkan Tina di sana, Tina pun kemudian menangis, dia yakin jika Nara melihat dirinya menangis serta melihat kisah cintanya barusan pasti Nara akan merasa kasihan.
"ayo Nara, mendekat padaku, ajak aku gabung bersama kalian" Ucap Tina dalam hati sambil terus pura-pura nangis, saat itu pun dia sudah sendirian karena lelaki yang pura-pura menjadi kekasihnya sudah memutuskan hubungannya dan meninggalkan dirinya di rumah makan tersebut.
"sayang, itu kan Tina, kasihan sekali, aku ke sana dulu ya"
melihat Tina yang sedang menangis sendirian, Nara pun tidak tega kemudian mendekati Tina dan benar saja Nara mengajak Tina untuk bergabung bersama dirinya.
"Sayang, nggak papa kan kalau Tina makan bareng kita?teman-temannya katanya sudah pulang duluan" Nara memohon kepada Niko
"terserah kamu" Niko merasa kesal
"Tina apa yang sedang kamu rencanakan, awas saja kalau kamu macam-macam sama Nara, aku tidak akan tinggal diam! Ucap Niko dalam hati sambil menatap wajah Tina, kemudian Tina pun nampak tersenyum kepada Niko.
__ADS_1
Bersambung...