
"Maafkan aku Nara, Maafkan aku..aku sudah tahu semuanya tentang kamu dan Niko, maafkan aku yang tidak ada di sampingmu saat kamu sedang terluka" Ucap Widi sambil terus memeluk Nara
Deg...Nara sangat terkejut mendengarnya
"Widi tahu dari mana" Ucap Nara dalam hati, jantungnya sudah semakin tak karuan, dia bingung harus mengatakan apa lidahnya mendadak kelu, kemudian melepaskan diri dari pelukan Widi
"iya Wid, aku memang sudah putus dari Niko dan aku baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir, sekarang pulanglah aku mau istirahat" Ucap Nara sambil tersenyum meski hatinya begitu teriris akan nasibnya tapi dia mencoba untuk baik-baik saja di depan Widi
"Nara..." Widi kemudian memegang tangan Nara yang sedang membuka kunci pintu kamarnya
"Wid, please...mengertilah, sebaiknya kamu pulang sekarang, aku nggak mau Nadia salah paham lagi tentang kita" Nara kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu,
"Nara, buka pintunya Ra, aku ingin bicara" Widi terus mengetuk pintu berharap Nara mau membukanya,
"Lain kali saja Wid, aku benar-benar ingin istirahat" Ucap Nara dari balik pintu kamar nya, tak lama kemudian datang seorang laki-laki mengantarkan makanan yang tadi sudah Widi pesan Via online
"oke-oke aku pulang, tapi kamu jangan lupa makan ya, aku tadi sudah pesenin kamu makanan, aku taruh di meja depan kamar, aku pulang dulu Ra, sekali lagi maafkan aku Ra"
"Iya Wid, Terimakasih ya, Terimakasih untuk segalanya"
Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil di nyalakan dan itu artinya Widi telah pergi dari kos Nara
Nara terduduk lemas di lantai sambil mengeluarkan air mata dan merutuki nasibnya
"Maafkan aku Wid, sungguh aku tak sanggup berhadapan lama-lama denganmu saat ini, aku takut tak bisa mengendalikan perasaanku, aku nggak mau merusak hubunganmu dengan Nadia"
Setelah itu Nara pergi ke kamar mandi untuk mandi, selesai mandi dia ingat kalau tadi Widi meletakan makanan di depan, Nara pun bergegas keluar untuk mengambilnya dan ternyata makanan tersebut ada dua porsi, Nara kembali masuk ke dalam kamarnya, sebelum menyantapnya Nara terlebih dulu membuka HP dan ternyata ada pesan dari Widi
"Sudah di makan belum Ra?" chat Widi
"Ini baru mau di makan Wid tadi aku mandi dulu, kok ada dua sih?kamu makan apa kalau ini di tinggal?"
"Aku tadi udah mampir beli nasi goreng Ra" bohong Widi
"Serius?"
"Duarius malah😜Ya sudah kamu makan dulu gih, selesai makan aku video call boleh ya?"
__ADS_1
Nara hanya membacanya tanpa berniat untuk membalasnya
"sudah selesai belum makannya Ra?oke nggak apa-apa kalau kamu nggak mau video call, tapi kalau kamu butuh teman untuk cerita, aku selalu siap untuk menjadi pendengar setia Ra, kamu bisa hubungi atau temui aku kapanpun kamu mau"
Lagi-lagi Nara tak membalas pesan tersebut bahkan dia juga belum membacanya.
Keesokan paginya
Hari ini adalah hari sabtu dan kebetulan jadwal kuliah hari ini di kelas Nara hanya satu mata kuliah dan di isi pada jam pertama jadi Nara bisa pulang cepat dan selesai kuliah Nara berencana pergi ke perpustakaan mencari buku referensi untuk mengerjakan skripsi, namun sebelum pergi ke perpustakaan Nara mencoba mengajak Nadia untuk pergi ke kantin secara bersama-sama tapi Nadia hanya diam saja bahkan terlihat jelas ada sorot kebencian di mata Nadia untuk Nara dan itu semua membuat Nara semakin bingung harus berbuat apa supaya persahabatan mereka kembali seperti dulu.
Nadia terlihat meninggalkan ruang kelas terlebih dahulu, tanpa mengucapkan satu patah katapun kepada Nara
drtttr HP Nara bergetar
"Kinara, nanti malam temani aku ke suatu tempat ya" chat dari Arya
"kemana Mas?"
"nanti kamu akan tahu, aku jemput jam 7 ya"
"Maaf mas kayaknya nggak bisa deh, aku mau ngerjain skripsi"
"ishh, dasar tukang maksa!" gerutunya kesal kemudian dia bergegas ke perpustakaan, dan di jalan tanpa sengaja dia malah bertemu dengan Arya yang sedang berjalan dengan teman dosen yang lainnya
"sepertinya kita berjodoh" bisik Arya di telinga Nara sambil menyunggingkan senyumnya ketika berjalan melewati Nara
Nara pun hanya melotot dan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan dosennya tersebut kemudian segera masuk ke ruang perpustakaan, setelah menemukan apa yang di cari Nara berdiam diri di perpustakaan sambil membuka laptop dan mengerjakan skripsi serta tugas yang lain, setelah berjam-jam berada di perpustakaan dengan buku dan tugas seabreg, Nara berniat untuk kembali ke kos.
"sudah siap-siap belum De?" chat Arya pada Nara
"De???" balas Nara
"ya De, mulai sekarang kalau di luar kampus aku manggil kamu Ade, Mas sama Ade"
"Terserah Mas aja"
"Bentar lagi aku sampai"
__ADS_1
"jadi serius tuh dosen ngajak aku pergi, duh gimana ini"
titttt...titttt...titttt terdengar suara klakson mobil
"Ohhh astaga, cepet banget sampainya"
kemudian Nara membuka pintu dengan penampilan santai karena dia memang belum siap-siap
"Belum siap-siap?!" Kesal Arya
"Ya lagian bapak, eh Mas bilangnya kan jam 7 ini masih kurang 10 menit Mas, memangnya kita mau kemana sih Mas?"
"Mas pengen ke cafe yang ada musiknya, udah buruan Ade siap-siap apa mau Mas masuk milihin baju buat Ade?" ledek Arya
"Apaan sih nggak lucu, ya udah aku siap-siap dulu Mas"
kurang lebih 10 menit Nara bersiap-siap dan sekarang mereka sudah berada di cafe dan tanpa di duga-duga ternyata pemilik cafe tersebut adalah sahabat baik Arya semasa kuliah dulu, mengingat dulu saat kuliah Arya sangat hobi bernyanyi dan suaranya juga sangat merdu, sang pemilik cafe sekaligus sahabatnya tersebut meminta Arya untuk menyumbangkan sebuah lagu, awalnya Arya menolak karena dia sudah lama sekali tidak bernyanyi tapi sahabatnya begitu memaksa kemudian dia mengiyakan dan mengajak Nara juga untuk berduet, tanpa di sangka ternyata Nara juga memiliki suara yang sangat bagus dan khas, mereka berduet menyanyikan lagu "buih jadi permadani" dengan petikan suara gitar, terdengar riuh penonton bertepuk tangan setelah mereka menyelesaikan penampilan mereka.
"De, Mas ke toilet dulu ya, Ade tunggu dulu di meja sebelah sana"
Nara kemudian menuju meja kosong tersebut dan ternyata tanpa sengaja dia melihat Niko dan Tina yang baru saja datang,
"Sial kenapa harus ada mereka sih, Mas Arya buruan balik Mas, aku nggak mau lama-lama di sini" Ucap Nara dalam hati
"Oh ya ampun ternyata ada pelakor juga di sini, teman-teman sekalian minta perhatiannya hati-hati ya sama perempuan ini, perhatikan wajah pelakor ini baik-baik, jangan sampai cowo kalian di embat sama ni cewe yang nggak tahu diri!" Ucap Nadia yang baru saja datang dengan penuh emosi, dia datang bersama Widi namun Widi masih ada di parkiran karena tadi orang tuanya menelpon, Nadia mendahului masuk ke cafe untuk memesan makanan/minuman terlebih dulu tapi tanpa di sangka saat baru saja masuk dia malah melihat Nara dengan Arya yang baru saja turun dari panggung habis bernyanyi.
"Nadia, maksud kamu apa Nad?" Nara begitu merasa syok dengan ucapan Nadia dia langsung mengeluarkan air mata dan seketika itu pula langsung menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe tersebut, begitu juga dengan Niko yang saat itu ada di sana melihat Nara di perlakukan demikian Niko hendak beranjak untuk membantu Nara namun Tina melarangnya.
Tak menjawab tiba-tiba Nadia menyiramkan secangkir minuman ke rambut Nara
"Kamu nggak usah pura-pura so suci Nara, aku udah muak!lihat..kamu lihat ini apa ini yang di namakan sahabat?!!!sahabat macam apa kamu, berpelukan dengan kekasih sahabatmu sendiri!dasar nggak tahu malu!dan hai lihat di sebelah sana Niko pacar kamu terlihat sangat bahagia sama cewe lain, atau jangan-jangan selama ini kamu di jadikan simpanan oleh Niko dan akhirnya Niko sadar kalau kamu itu bukan perempuan baik-baik kemudian dia pergi ninggalin kamu, Nara...Nara aku nggak nyangka yah ternyata kamu sebejad itu, aku menyesal" Ucap Nadia dengan emosi yang menggebu-nggebu yang telah ia tahan sejak kemarin malam.
Ya kemarin malam saat dia hendak ke kos lamanya untuk mengambil barang yang ketinggalan, dia melihat Widi dan Nara yang sedang berpelukan, Nadia kemudian mengambil gambar mereka dan membatalkan niatnya untuk mengambil barang yang ketinggalan, Nadia begitu emosi, Nadia juga merasa sangat kesal karena Dia tau kalau Pak Arya adalah laki-laki yang di jodohkan dengan dirinya tapi Pak Arya malah cuek dan sama sekali tidak menghubunginya atau memberitahu dirinya yang ada dia malah terlihat dekat dengan Nara.
"Nadia, aku bisa jelasin foto itu Nad, kamu salah paham Nad" Ucap Nara sambil memegang kedua tangan Nadia sambil terisak
"Ada apa ini?!!" terdengar suara bariton yang baru saja datang dari arah belakang
__ADS_1
Bersambung...