Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Hidup terus berjalan


__ADS_3

Nara masih terduduk lemas sambil menangis di balik pintu kamarnya, langitpun seakan ikut mendengar jeritan hati kedua insan yang tengah berjuang untuk melepaskan perasaannya satu sama lain, hujan turun sangat deras pada malam itu.


Niko masih terus mengetuk pintu kamar Nara, berharap Nara masih mau menemuinya, dia ingin memeluk Nara untuk terakhir kalinya, sendainya ada kesempatan untuk memilih Niko akan memilih Nara saja yang menjadi pendamping hidupnya karena dia sangat mencintai Nara, berkali-kali Niko mengetuk pintu kamar tersebut namun si empunya kamar tak kunjung membukakan pintu kemudian Niko pun menyerah dan akhirnya pulang, tak lama kemudian Widi dan Nadia juga baru pulang habis jalan-jalan terlihat mereka basah kuyup karena kehujanan meski sudah mengenakan mantel


"Sayang, kamu tolong berikan nasi itu pada Nara ya, aku ke kamar ganti baju dulu" Ucap Nadia kemudian masuk ke kamarnya


Widi kemudian mengetuk pintu kamar Nara


"kamu mau ngapain la...." Ucap Nara sambil membuka pintu kamarnya, karena dia berpikir yang mengetuk pintu tersebut adalah Niko soalnya sejak tadi meski dari dalam kamar Nara sudah menyuruhnya pulang, Niko masih saja meminta untuk di bukakan pintu, saat pintu di buka dan ternyata itu bukan Niko melainkan Widi, Nara langsung merasa kaget begitu juga dengan Widi, sontak Nara langsung menghapus air mata dengan tangannya, Widi sangat teriris hatinya melihat wanita yang sangat di cintainya sedang menangis dan entah oleh sebab apa dia tak tahu, ingin tanya tapi tak berhak, mereka saling menatap satu sama lain.


"aku cuma mau nganterin ini dari Nadia" Ucap Widi sambil memberikan satu kantong kresek yang berisi paket ayam bakar


"oh ya makasih" Nara meraih kantong kresek tersebut


"Ra..Wid" Ucap mereka berbarengan


"kamu dulu" Widi memberikan kesempatan Nara untuk bicara terlebih dahulu


"aku minta maaf" Ucap Nara


"Sayang, ini handuk buat ngeringin tangan dan kaki kamu biar nggak masuk angin" Teriak Nadia sambil keluar kamar membawa handuk untuk kekasihnya


"makasih ya" Ucap Nara sambil mengangkat sedikit kantong kresek tersebut kemudian langsung menutup pintu kamarnya, dia nggak mau Nadia melihat dirinya yang sedang menangis,


"Sayang, nasinya sudah di kasih?" Tanya Nadia yang kini sudah ada di samping Widi


"Sudah Nad, tapi katanya dia sudah makan dan mau istirahat tadi aku lihat dia habis bangun tidur" Widi berbohong pada Nadia


"ah kebiasaan jam segini sudah tidur, akhir-akhir ini dia memang sering tidur lebih awal, mungkin cape kali yah soalnya dia ambil skripsi di semester ini, sibuk kaya kamu yang jarang ada waktu buat aku" Ucap Nadia sambil memanyunkan sedikit bibirnya dan bergelayut manja pada Widi.


"sudah malam kalau gitu aku pulang dulu ya, besok aku jemput kamu, kita berangkat sama-sama"


"Tapi sayang, ini masih hujan, nanti saja nunggu redaan dikit, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa"


"sudah kamu tenang saja, kan pakai mantel" Ucap Widi sambil memegang lengan tangan Nadia kemudian bergegas pergi untuk pulang


Dalam perjalanan pulang dia terus memikirkan Nara yang tadi terlihat begitu sedih


"Nara apa yang terjadi?" Ucap Widi dalam hati

__ADS_1


Tak lama kemudian Widi sampai di kosnya, dia langsung melepas helm dan mantel kemudian masuk ke kamar dan ganti baju, setelah itu dia menghubungi Nara namun Nara mengabaikannya.


Keesokan paginya


Widi datang ke kos Nadia untuk menjemputnya, sambil menunggu Nadia, sesekali dia menatap ke arah kamar Nara, berharap Nara keluar, dia ingin melihat Nara apakah Nara baik-baik saja soalnya sejak semalam pesan dan telfonnya di abaikan oleh Nara apalagi terakhir dia melihat Nara sedang menangis.


"Ayo sayang, aku sudah siap" Ucap Nadia yang baru keluar dari kamarnya dan sudah mengenakan pakaian yang rapih dan membawa tas


"Nad, kamu nggak bilang sama Nara dulu kalau kamu berangkat sama aku, nanti dia nungguin" padahal itu karena Widi sangat ingin melihat Nara


"Sudah sayang nggak papa nanti aku kasih tahu dia lewat telfon"


"Tapi..." Widi menjeda ucapannya


"Tapi apa sayang?kamu kenapa sih?sudah biasa juga kan kita berangkat sama-sama, pasti dia paham kok"


"Iya tapi nggak ada salahnya juga kalau bilang sekarang?"


"Kamu kenapa sih?kamu pengin ketemu sama Nara"


"Bukan itu maksud aku Nad"


"Oke aku minta maaf kalau aku salah"


"Widi, aku tahu kamu sahabatnya Nara, tapi aku ini pacar kamu Wid, mulai hari ini aku nggak suka kamu dekat-dekat lagi sama Nara"


"Maksud kamu?"


"Apa aku kurang jelas, aku mau kamu jauhin Nara"


"Ya nggak bisa gitu dong Nad"


"Oh jadi kamu nggak mau, kamu cinta sama dia?"


"Nadia..." Bentak Widi


Nadia pun kemudian menitikan air mata, dia tak menyangka kalau Widi akan semarah ini


"Sorry Nad, aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu" Ucap Widi sambil memegang kedua lengan tangan Nadia, kemudian Nadia langsung memeluk Widi

__ADS_1


"Aku cinta banget sama kamu Wid, aku nggak mau kehilangan kamu, aku nggak mau kamu bahas wanita lain di depan aku, sekalipun wanita tersebut adalah Nara"


"Iya aku minta maaf, ya sudah ayo berangkat nanti kita telat"


Sementara itu Nara dari dalam kamar tak sengaja mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamarnya.


"Nadia, maafkan aku" Gumam Nara, Nara sudah bersiap untuk berangkat kuliah meski matanya masih terlihat sembab karena semalam dia tak berhenti menangis untuk menutupinya dia menggunakan kacamata, sebenarnya hari ini kakinya terasa berat untuk melangkah mengingat hari ini adalah hari di mana Niko dan Tina akan melangsungkan pernikahan, dia ingin lari dari kenyataan tapi itu tak mungkin terjadi, bagaimanapun dia harus menghadapinya sekuat tenaga jiwa dan raga karena hidup harus terus berjalan.


Setelah Nadia dan Widi pergi, Nara kemudian membuka pintu dan bersiap untuk berangkat kuliah betapa terkejutnya dia kala melihat Arya sudah ada di halaman kosnya, ini bukan kali pertama beliau datang, beberapa hari yang lalu beliau juga pernah mengantarkan Nara pulang meski mobilnya tidak sampai masuk ke halaman, Arya dan Nara memang lumayan dekat bahkan Arya telah menceritakan tentang perjodohan dirinya dengan Nadia kepada Nara, namun Arya meminta Nara untuk merahasiakannya dari siapapun bahkan Nara juga tidak di ijinkan untuk memberitahu Nadia kalau laki-laki yang di jodohkan dengan dia adalah Pak Arya.


"Pak Arya, ngapain di sini?" Ucap Nara


"Mau jemput kamu, kita berangkat bareng ya"


"Nggak mau, nanti pada salah paham sama saya"


"kamu takut banget yah?ya biarkan saja toh kita sama-sama free kan?"


"Tapi saya nggak mau pak"


"Sudah ayo masuk" Arya menarik tangan Nara kemudian memaksanya masuk ke dalam mobil


"Santai aja mukanya, tegang banget" Ucap Arya sambil melirik ke arah Nara


"Kalau bapak seperti ini, bapak mana mungkin bisa dapetin Nadia yang ada nanti Nadia malah mikir kalau bapak suka sama saya, kenapa bapak nggak langsung ngomong aja sih pak sama Nadia kalau pria itu bapak?"


"Nara aku sudah berapa kali bilang sama kamu, kalau di luar kampus kamu jangan panggil saya bapak"


"Saya belum terbiasa, Bapak ngalihin pembicaraan saya?!" Sungut Nara


"Serem amat kalau lagi marah" Ucap Arya sambil tersenyum


"Bapak Arya Yang Terhormat......"


"Iya ya, kalau saya bilang sekarang sama Nadia apa kamu yakin Nadia akan langsung menerima saya?atau memang kamu ingin Nadia cepat-cepat jadi istri saya kemudian setelah itu kamu jadian sama pacarnya Nadia?"


"Maksud Bapak?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2