
"Nara, bagaimana kalau setelah wisuda nanti, aku melamar kamu?" Ucap Niko sambil menggenggam kedua tangan Nara
"melamar?jangan bercanda sayang" Nara pun melepaskan tangannya dari genggaman Niko kemudian hendak duduk di sofa yang ada di kamarnya namun tiba-tiba Niko memeluknya dari belakang
"aku tidak bercanda sayang, aku serius, setelah wisuda nanti aku akan membawa kedua orangtuaku ke rumah kamu untuk melamarmu, aku ingin hubungan kita sedikit melangkah ke tahap yang serius, aku sangat mencintaimu yank" Ucap Niko yang masih memeluk Nara dari belakang, sementara itu di luar secara tidak sengaja ada yang mendengar percakapan antara mereka berdua
Nara mematung bingung harus jawab apa karena jujur saja dalam hatinya belum sedikitpun terbesit untuk ke jenjang yang lebih serius apalagi dia juga masih kuliah, selain itu juga karena dia belum yakin untuk menjadikan Niko sebagai pria masa depannya meski mereka sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun karena bagi Nara hubungannya tersebut hanya sekedar cinta biasa, cinta anak muda yang belum mengarah ke tahap yang lebih serius, dulu dia memang sangat mengagumi Niko, mencintainya tapi seiring berjalannya waktu dan entah sejak kapan semua rasa itu terasa memudar, getaran itu sudah tidak ada, di luar nampak indah meski dalam hatinya terasa hambar tapi setidaknya dengan statusnya yang masih pacaran dia jadi memiliki alasan untuk menolak secara halus para cowo yang berusaha mendekatinya dan mengejar-ngejar dirinya itulah salah satu alasan Nara masih mempertahankan hubungannya dengan Niko, dia membiarkan semuanya mengalir begitu saja dan menyerahkannya Pada Sang Waktu dan Pada Yang Maha Membolak-balikan hati manusia.
"sayang, maafkan aku...saat ini aku masih ingin fokus kuliah dulu, aku belum mau terikat" Nara pun melepaskan diri dari pelukan Niko dan menghadap ke Niko
"kamu tidak mencintaiku?" Ucap Niko sambil memegang kedua lengan tangan Nara
"bukan begitu sayang"
"lalu apa?apa karena aku orang tak punya?"
"apa aku sematrealis itu?" sungut Nara sambil melangkah dan duduk di sofa
"lalu kenapa sayang?" Niko pun menghampiri dan duduk di sebelahnya
"aku penginnya kalau tunangan tak selang berapa lama kemudian menikah, aku mau jarak dari lamaran ke pernikahan itu hanya berjarak beberapa bulan tidak sampai tahunan, sedangkan jika kamu melamar aku sekarang nggak mungkin kan kita terus Nikah?aku masih kuliah dan masih harus nunggu 2 tahun lagi untuk lulus, aku hanya ingin menikah setelah aku lulus kuliah karena aku tidak mau mengecewakan kedua orangtuaku, mengertilah sayang?" Nara mencoba menjelaskan baik-baik
"baiklah kalau itu alasannya, aku akan selalu menunggumu, aku akan menunggu sampai kamu lulus kuliah dan benar-benar siap" Ucap Niko sambil menggenggam tangan Nara dan mengecup punggung tangan Nara
"Terimakasih sayang, sudah sore, pulanglah sebelum hujan tiba...aku juga harus mandi"
"mandi bareng saja yuk" Niko terkekeh
"Niko...." Nara pun melotot sambil mencubit perut Niko
"iya ampun.ampun tuan putri, ya sudah aku pulang dulu ya, selamat istirahat" Ucap Niko sambil mengusap-usap rambut Nara.
__ADS_1
Nara pun kemudian mengantarkan Niko sampai ke depan pintu kamarnya dan setelah Niko pergi dia hendak kembali masuk ke kamar tapi tiba-tiba dia melihat HP yang tergeletak tak jauh dari kamarnya entah punya siapa, dia pun meraih HP tersebut dan melihat sekeliling sepi tak ada orang akhirnya dia memutuskan untuk membawa HP tersebut ke kamarnya.
Flashback is on
Saat sedang jalan-jalan Nadia tiba-tiba merasa pusing, lemas dan badannya panas, karena hari minggu dokter pada libur akhirnya mereka pergi ke apotek untuk membeli obat kemudian kembali ke kos, sesampainya di kos Nadia pun langsung meminum obat dan Widi dengan tlaten membantu serta mengompresnya
"Widi, makasih ya maaf merepotkan kamu?" Ucap Nadia yang terbaring lemah di tempat tidur sambil memegang tangan Widi
hari itu langit jogja terlihat sangat mendung dan angin berhembus dengan kencangnya, sampai membuat pintu kamar Nadia tiba-tiba tertutup, di saat yang bersamaan pula Nara dan Niko baru sampai di kos
Nara yang melihat motor Widi terpakir di depan pun kemudian melirik ke kamar Nadia yang tertutup
"sedang apa mereka?apa mereka sudah jadian?" Gumam Nara dalam hati
Kamar Nadia
"Aku nggak merasa di repotkan Nad, kamu istirahat ya, aku pulang dulu" Ucap Widi sambil melepaskan tangannya dari genggaman Nadia
Saat hendak berjalan menuju motor secara tidak sengaja Widi tiba-tiba mendengar Niko yang tengah berbicara akan tujuannya yang ingin melamar Nara, Widi pun menghentikan sejenak langkahnya.
"Nara, aku memang benar-benar harus melupakan kamu" Ucap Widi dalam hati kemudian dia pun melanjutkan kembali langkahnya sambil meraih kunci motor yang ada di sakunya dan tanpa sadar HPnya yang saat itu ada di saku belakang celananya terjatuh di tempat yang tak jauh dari kamar Nara.
Flashback is off
Nara pun mengamati HP tersebut dan sepertinya dia mengenal pemiliknya,
"Seperti HP Widi, dasar ceroboh bisa-bisanya HP jatuh nggak kerasa" Ucap Nara sambil mengamati HP tersebut dan benar saja itu memang milik Widi karena saat di tekan tombol on/off terdapat foto Widi bersama kedua orang tuanya
"Sekarang dia pasti sedang kalang kabut mencarinya, ah biarkan saja dulu, biar tau rasa" Nara pun tersenyum kemudian meletakan HP tersebut di atas meja belajar karena HP tersebut juga di pola oleh pemiliknya jadi Nara tak bisa membukanya tapi tiba-tiba ada dorongan kuat di hatinya untuk mengetahui isi dari HP tersebut, antara ragu-ragu dan kepo akhirnya dia pun memberanikan diri untuk membuka HP tersebut, entah mengapa dia sangat penasaran dengan isinya
"duh anak itu pakai pola apa sih?" Ucap Nara sambil bertanya-tanya sendiri setelah memasukan pola W dan pola lain tapi tidak berhasil hingga dia ingin menyerah karena takut malah terblokir dia hanya memiliki satu kesempatan lagi untuk memasukan pola yang benar, Nara pun meletakan kembali HP tersebut di atas meja belajar dan tiba-tiba dia kepikiran "Nadia"
__ADS_1
"apa mungkin?" Nara meraih kembali HP nya dan memasukan pola N dan cling dia pun merasa lega karena akhirnya bisa memasukan pola yang benar namun betapa terkejutnya Nara karena ada foto dirinya bersama Widi yang di jadikan wallpaper di HP tersebut, ya foto itu adalah foto saat mereka SMA dan foto ketika mereka berada di pantai dulu, dia pun jadi teringat moment saat foto tersebut di ambil
Flashback in on
Setelah dulu Nara menceritakan semua perasaan dirinya terhadap Niko ke Widi, Nara pun merasa lega dan setelah menangis Nara merasa lapar kemudian mengajak Widi untuk mencari makan tapi tiba-tiba Widi mengajaknya untuk berfoto bersama
"Ra, kita foto dulu yu buat kenang-kenangan" Ucap Widi
"Engga mau, aku jelek habis nangis" Nara yang sedang duduk pun kemudian berdiri dan beranjak pergi
"Ra, tunggu...sekali saja ya.ya" Widi pun kemudian mengejar Nara yang sudah berjalan duluan dan minta tolong kepada salah satu pengunjung yang ada di pantai tersebut untuk memoto mereka menggunakan HP Widi dan cekrek Nara pun akhirnya mau nggak mau ikut tersenyum karena kelakuan Widi yang memaksa dirinya untuk foto bersama kala itu.
"pasangan yang serasi" Ucap orang yang telah membantu memoto mereka kemudian memberikan HPnya kepada Widi
"Makasih ya mas" Ucap Widi sambil melihat hasil fotonya dan ternyata memang hanya satu
"kamu mau lihat engga Ra?"
"Nggak mau!aku pasti jelek banget, sini ku buang saja" Nara pun mencoba meraih HP Widi tapi Widi langsung menyimpannya di saku celana depan
"ayo ambil kalau berani" Widi terkekeh
"Ishh dasar, ya sudah ayo kita makan saja, aku sudah sangat lapar" Ucap Nara
Flashback is off
tak terasa Nara pun menitikan air mata sambil tersenyum mengingat masa dulu kemudian dia terus membuka gallery foto dan dia juga langsung terduduk lemas karena seluruh gallery isinya hampir semua foto-foto dirinya dari SMA hingga sekarang, Nara pun terus sibuk menscrol foto-foto tersebut sambil menitikan air mata dan merasakan dadanya begitu sakit
"Widi...apa maksud semua ini, apa kamu?" Gumam Nara namun kemudian dia merasa kaget karena tiba-tiba ada panggilan masuk ke HP Widi dan juga chat dari Nadia
Bersambung...
__ADS_1