
Sekian Tahun Kemudian
π§ "Sayang, besok kan hari minggu terus 3 minggu lagi aku wisuda, kita jalan-jalan yuk sekalian cari kain batik buat bikin baju seragam untuk kita juga orang tuaku?" Isi Chat Niko pada Nara
π§"Iya sayang oke" Nara
π§"Besok aku jemput jam 9, jangan lupa dandan yang cantik ya" Niko
π§"Memang biasanya aku tidak cantik?" Nara
π§"Ya bukannya begitu sayang, setiap hari kamu selalu cantik apalagi kalau tersenyum kecantikanmu semakin terpancar sayang" Niko
π§"Tau ah!" Nara
π§"ih jangan marah dong, nanti hilang lho cantiknya" Niko
π§"Kalau aku tidak cantik lagi apa kamu akan terus mencintai aku?" Nara
π§"Tentu dong sayang, sampai kapanpun aku akan terus mencintai kamu, hanya kamu yang ada di hatiku, hari ini, esok dan seterusnya" Niko
π§"Mulai deh gombalnya" Nara
π§"aku lagi nggak gombal sayang, aku serius, kamu nggak percaya sama aku?apa aku perlu membelah dadaku?" Niko
π§"mati dong sayang kalau dadanya di belahπ" Nara
π§"mati karena cintamuπ" Niko
π§ "sudah.sudah kamu istirahat ya sayang, aku tunggu besok di kos" Nara
π§"Iya sayang, kamu juga istirahat ya, aku sangat mencintaimu" Niko
π§"aku juga mencintaimu yank, mimpi indah ya" Nara
Keesokan paginya
__ADS_1
Saat Nara tengah duduk didepan kamarnya untuk menunggu Niko, dia melihat Widi yang sedang memarkirkan motor
"Nara, kamu semakin cantik saja dan ikat rambut itu ternyata kamu masih menyimpannya, Nara semoga hidupmu selalu bahagia" Ucap Widi dalam hati
"Hai Wid, mau jemput Nadia yah?" Ucap Nara saat Widi melintas untuk menuju kamar Nadia dan melewati dirinya
"Iya Ra" Jawab Widi sambil tersenyum kemudian kembali melangkahkan kakinya"
"Widi, tunggu" Ucap Nara yang tiba-tiba memegang tangan Widi hingga membuat langkah Widi terhenti dan menoleh ke arah Nara
"Ada apa Ra?"
"duh Nara, mengapa jantung ini tidak pernah berubah setiap kali berada di dekatnya dan menatap matanya, berdebar tak menentu" Ucap Nara dalam hati sambil terus memegang tangan Widi
"Nara" Widi pun meninggikan suaranya sambil menatap ke arah tangan Nara yang sedang memegang tangannya
"Mmmmm...maaf.maaf Wid" Nara pun reflek langsung melepaskan tangannya dan langsung salah tingkah
"Ada apa?"
"Bahagiakan Nadia ya, Jaga dia baik-baik"
"Ya habisnya ka...." belum sempat Nara melanjutkan perkataannya tiba-tiba Nadia keluar dari kamarnya dan menyapa mereka berdua
"Widi, kamu sudah lama di sini?"
"Belum kok baru datang?"
"Ya sudah ayo kita langsung pergi saja" Ucap Widi
"Nara, kamu mau pergi juga?apa kita ngedate bareng saja?"
"kalian duluan saja, lagian aku mau pergi ke toko kain batik sama mau ke penjahit"
Tak lama kemudian Niko pun datang menggunakan motornya,
__ADS_1
"oh ya sudah kalau begitu kita duluan ya" Ucap Nadia sambil melangkahkan kakinya, namun saat hendak turun dari teras kosnya yang terdiri dari 2 tangga berjalan tiba-tiba, dia terpeleset dan hampir terjatuh Niko pun tanpa sengaja menahan tubuh Nadia agar tidak terjatuh karena saat itu memang jarak yang paling dekat dengan Nadia adalah Niko.
"Nadia, kamu nggak papa?" Ucap Nara sambil mendekat ke arah Nadia, kemudian reflek Niko pun melepaskan Nadia hingga hampir membuat Nadia terjatuh kembali namun dengan cepat Nadia langsung mencoba untuk berdiri
"Ayo Nad, sudah siang" sungut Widi
"Iya.iya, cemburu yah?"
"Astaga, nggak penting banget"
"buruan naik"
Nadia pun kemudian naik ke motor Widi dan melingkarkan tangannya ke perut Widi kemudian mereka pun berlalu dari kos meninggalkan Nara dan Niko, tak lama berselang Nara dan Niko pun segera pergi menuju tempat tujuan, setelah menemukan kain batik kemudian mereka pun pergi ke jasa pengiriman barang untuk mengirimkan sebagian kain batik kepada kedua orang tua Niko supaya di jahit sendiri di rumah setelah itu mereka pun lanjut jalan-jalan.
Sementara itu di tempat lain Tina sedang merasakan perutnya begitu mual, sebenarnya sudah 1 mingguan lebih dia merasakan hal tersebut setiap pagi hari namun dia hanya berpikir kalau itu masuk angin biasa semakin hari mualnya tersebut semakin bertambah dan anehnya selalu terjadi pada pagi hari menjelang siang biasanya mualnya akan hilang dengan sendirinya, karena penasaran kemudian Tina pun searching-searching dan menemukan artikel tentang morning sicknes dan tanda-tanda kehamilan, Tina pun kemudian mengingat-ingat kapan terakhir kali dia haid dan "berhubungan" dengan Niko
"ah benar saja aku sudah telat 2 minggu, apa mungkin aku...Oh Tuhan inikah jalanku untuk benar-benar mendapatkan Niko seutuhnya, aku harus secepatnya memastikan" Ucap Tina dengan rona bahagia dan dia dengan sedikit sempoyongan pergi ke apotek yang tak jauh dari rumahnya untuk membeli tespeck, tak hanya membeli satu dia membeli 10 sekaligus setelah kembali ke rumahnya dia pun langsung membaca petunjuk penggunaan dan tidak sabar langsung mengetesnya dan benar saja hasilnya GARIS DUA alias POSITIF, Tina pun langsung menangis bahagia tapi di sisi lain dia juga bersedih karena sampai saat ini masih ada Nara di antara mereka, sejak dulu Tina memang berencana untuk menikah muda dan dia sangat yakin kalau itu adalah hasil buah cintanya dengan Niko karena memang dia selama ini hanya melakukannya dengan Niko seorang, Tina pun mengingat terakhir kali mereka "berhubungan" dan itu terjadi saat mereka di nyatakan lulus ujian skripsi yang super berat menurut mereka, saat itu baik Niko maupun Tina memang lupa tidak menggunakan pe*gaman seperti biasa dan siapa menyangka cocok tanam waktu membuahkan hasil.
"aku harus kasih tahu Niko, tapi sebelumnya aku juga harus segera memisahkan dia dari kekasihnya, ya sudah cukup bebh, sudah cukup selama ini aku jadi yang kedua, setelah ini ku pastikan kamu hanya milikku seutuhnya, tidak ada yang berhak memilikimu selain diriku, aku harus cari cara...hoekkkk" Tina pun kembali merasakan mual, dia mencoba menghubungi kekasihnya tersebut tapi nomornya tidak aktif.
"Kemana kamu bebh, apa kamu sedang jalan-jalan sama cewe ingusan itu!sabar dulu ya Nak" Ucap Tina sambil mengelus-elus perutnya yang masih ramping
Sore harinya setelah puas jalan-jalan, Niko pun mengantar Nara kembali ke kos
"sayang, terimakasih untuk hari ini ya"
"iya sayang sama-sama, ya sudah langsung pulang gih, aku mau mandi"
"apa nggak mau kasih salam perpisahan dulu?" Niko menundukan sedikit badannya dan memanyunkan bibirnya
"sayang, apaan sih sudah sana pulang?" Ucap Nara sambil mendorong wajah Niko
"ayolah sayang, sekali saja, please kenapa sih kamu sekarang nggak pernah mau kalau kita ciuman?" Niko mencoba bertanya, ya sejak beberapa tahun terakhir Nara memang jadi menjaga jarak dengan Niko namun itu tidak mengurangi keromantisan antara mereka berdua, tidak ada na*su di sana, semenjak Nara memiliki rasa curiga terhadap Niko, dia seperti enggan untuk melakukan penyatuan bibirnya lagi atau yang lainnya dengan Niko, dia pun selalu beralasan kalau takut keblablasan dan dia juga selalu bilang sama Niko, kalau memang Niko tulus mencintainya, tidak berpelukan/ciuman pun rasa cinta tersebut akan selalu ada, selama itu pula Niko pun memakluminya, kalau untuk kesucian fix sejak awal Nara memang selalu menjaganya, namun di sisi lain selama itu pula sebenarnya semakin melihat kedekatan Nadia dan Widi selama itu pula Nara tersadar kalau ternyata dia memiliki perasaan lebih ke Widi, setiap melihat mereka berduaan dadanya terasa semakin sesak tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah ada Niko di sisihnya itulah juga sebabnya dia kadang menepis rasa curiga terhadap Niko karena dia sadar dirinya juga sudah mengkhianati Niko, ya hatinya telah mendua, Nara merasa dirinya juga telah berselingkuh, Nara membenci dirinya sendiri karena telah jatuh cinta kepada Niko dan Widi secara bersamaan, di sisi lain dia juga tidak mau menyakiti sahabat baiknya yaitu Nadia yang sangat mencintai Widi, sebenarnya secara diam-diam Nara juga selalu mencari bukti apakah kecurigaannya terhadap Niko memang benar tapi selama itu pula dia tidak menemukan bukti apapun termasuk IPhone yang dulu pernah dia lihat selama itu pula dia tidak pernah melihatnya lagi sampai dia melupakannya dan tidak pernah mencoba bertanya kepada Niko (Nara yang bodoh atau Niko dan Tina yang pintar?entahlah terserah author saja?)πβ
Nara hanya berpikir postif, kalau Niko memang benar-benar mengkhianatinya suatu saat pasti akan ada jalan untuk membukanya.
__ADS_1
"Nara, bagaimana kalau setelah wisuda nanti, aku melamar kamu?"
Bersambung...