
Di balik kaca helm yang di kenakan Nara masih saja mengeluarkan air mata, dia masih nggak percaya Niko tega melakukan semua itu, saat dia baru sampai di gerbang kosnya, lagi-lagi dia melihat pemandangan yang begitu mengejutkan mata yaitu Widi dan Nadia yang tengah berpelukan di depan kamar Nadia.
"Cih!!!dasar pria!semalam bilang cinta, sekarang sudah pelukan dengan wanita lain" Gumam Nara dalam hati, dia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kos, sebelum Widi dan Nadia menyadari kedatangannya, Nara memutar balik motornya untuk pergi ke suatu tempat, hari ini rasanya dia ingin bolos kuliah saja padahal jadwal kuliah hari ini super padat karena dia sudah masuk semester 7, tapi rasanya dia ingin menenangkan diri sejenak dan akhirnya Nara memutuskan untuk pergi ke pantai seorang diri, sesampainya di pantai dia mencari tempat yang sepi untuk meluapkan amarahnya, di tengah hamparan pasir yang luas dan suara deburan ombak Nara teriak sekencang-kencangnya menumpahkan segala rasa sesak di dada dengan air mata yang masih saja terus mengalir membasahi pipinya.
"Niko, kamu jahat, kamu bre*gsek, aku nggak akan pernah memaafkan kamu!!!aaaarrrrrghhhhhhh" Ucap Nara sambil berteriak seakan memberitahukan pada alam bahwa dirinya tengah kecewa
"air mata ayolah berhenti, kamu terlalu berharga untuk menangisi seorang pria macam dia" Ucap Nara ketika dirinya merasa sedikit lega setelah menyuarakan isi hatinya dan melihat pemandangan yang sangat menyejukan mata yang ada di hadapannya,
HP Nara terus berdering berisi panggilan dari Niko, Nara melihat sekilas ke HPnya setelah mengetahui siapa yang memanggil kemudian dia mengacuhkan panggilan tersebut
"Sudah cukup Nik, mulai hari ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, jangan ganggu hidupku lagi dan jangan pernah menemuiku!!!" Nara mengirim chat kepada Niko kemudian memblokir nomor Niko.
Tanpa Nara sadari ternyata di sana ada sepasang mata yang juga tengah menyendiri di tempat yang tak jauh dari tempat Nara berdiri.
"Hai Nona, suara anda sangat mengganggu telinga saya!" Celetuk seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dari arah belakang
"oh astaga, apa dari tadi di sini ada orang, mati aku, apa dia melihat dan mendengar semuanya" Gumam Nara dalam hati ketika mendengar suara yang entah dari mana asalnya karena sebelumnya dia tak melihat ada satupun orang di sana, kemudian dia juga belum sadar kalau orang tersebut datang dari arah belakang, Nara pun merasa merinding dia kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah namun tiba-tiba laki-laki tersebut ada di samping Nara.
"a.anda siapa?apa yang sedang anda lakukan di sini?" tanya Nara dengan perasaan takut karena dia tidak merasa mengenal laki-laki tersebut
"minumlah, aku liat dari tadi kamu berteriak-teriak sambil menangis, takutnya kamu dehidrasi terus pingsan, nanti saya juga yang repot soalnya di sini nggak ada siapa-siapa" Ucap laki-laki tersebut sambil menyodorkan sebotol air mineral
Nara kembali mengedarkan pandangannya sejenak ke sekeliling dan benar saja di sana hanya ada mereka berdua tempat itu lumayan sepi dan memang lumayan jauh dari pusat keramaian, seketika itu Nara pun mendadak merasa takut apalagi dia tidak mengenal laki-laki tersebut, ia kembali teringat akan kejadian dulu saat berdua dengan Dimas.
"Terimakasih pak, tapi maaf saya harus pergi" pamit Nara sambil melangkahkan kakinya
"Tunggu!!apa kamu bilang...pak?kamu panggil saya pak?memangnya aku bapakmu!" sungut laki-laki yang bernama Arya tersebut hingga membuat langkah Nara kembali terhenti
"Ambilah, tenang saja nggak di racun kok, lihat segelnya masih utuh, warung dari sini jauh dan tenang saja aku nggak akan macam-macam sama kamu" Ucap Arya sambil berjalan ke arah Nara dan kembali menyodorkan air mineral
Sejujurnya Nara memang merasa sangat haus dan juga sangat lapar karena dari pagi dia belum sempat minum atau makan apapun
"Terimakasih pak" Ucap Nara dan akhirnya setelah di pikir-pikir akhirnya dia mengambil botol minuman tersebut kemudian glek.glek.glek dia meminumnya hampir habis.
__ADS_1
"Jangan panggil pak, saya belum tua-tua banget, panggil saja saya Arya" Ucap laki-laki tersebut sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana
"sudah berhubungan berapa lama sampai segitunya?"
"maksud bapak?eeeee...maksud anda?"
"Putus cinta kan?" Tegas Arya
"So tau"
"Saya mendengar semuanya"
"jadi anda nguping pembicaraan saya?tidak sopan!" Sungut Nara
"Siapa suruh curhat di tempat terbuka, apa kamu tidak malu sama rumput yang bergoyang?"
"anda sendiri ngapain di sini?" Tanya Nara
"cari calon istri"
"apa ada yang salah?"
"sepertinya anda salah tempat"
"apa kamu mau jadi istri saya?"
"apa?istri?dasar sinting!!anda jangan bercanda pak, memangnya saya cewe apaan!maaf saya harus pamit, terimakasih minumannya, ambilah ini sebagai gantinya" Ucap Nara sambil memberikan selembar uang kertas yang dia ambil dari saku celananya kemudian berlalu pergi meninggalkan laki-laki tersebut
"Hei nona tunggu kamu belum memberitahu nama kamu" Teriak Arya
"dasar laki-laki sinting, bisa-bisanya baru ketemu ngajak Nikah" Gerutu Nara kemudian menyalakan motornya dan berlalu pergi, karena merasa sangat lapar setelah berjalan beberapa kilometer, Nara pun mampir ke warung makan untuk sarapan, ahh lebih tepatnya sarapan sekaligus makan siang karena saat itu waktu sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, sambil menunggu pesanan Nara pun mengambil HPNya dan ternyata banyak panggilan yang masuk serta pesan dari Nadia yang mengkhawatirkannya karena dia tidak masuk kuliah, tidak ada di kos dan juga tidak ada kabar sama sekali.
"Nara, kamu di mana?kok nggak berangkat kuliah?kamu baik-baik saja kan?"
__ADS_1
"Nara, please angkat dong, jangan bikin aku cemas"
"Nara setelah kamu baca pesanku, please langsung kabari aku ya?"
Begitulah pesan chat dari Nadia yang sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Maaf ya Nad, hari ini aku ada urusan penting dan maaf kalau aku nggak ngasih tau kamu, maaf juga aku baru sempat buka HP, aku baik-baik saja ko Nad, kamu tenang aja ya" Balas Nara
Tanpa sadar Nara juga melihat foto profil Nadia terlihat dua tangan laki-laki dan perempuan yang saling menggenggam erat, dan foto profil tersebut juga sama dengan milik Widi, melihat itu Nara kembali mengingat apa yang di lihatnya tadi pagi,
"Widi, Nadia...apa kalian sudah jadian?secepat itu kah Wid?kamu bilang aku satu-satunya wanita yang kau cintai dan kamu bilang kamu akan menungguku" Gumam Nara sambil terus memandangi foto tersebut
"aish mikir apa sih aku, Nara kamu nggak boleh egois, bukankah itu yang kamu inginkan sejak dulu, kamu harus ikut bahagia Nara..harus bahagia" Nara pun kemudian menarik nafas dalam-dalam dan tak lama kemudian makanan yang di pesan pun datang, Nara menyantapnya dan setelah merasa kenyang dia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kos, sesampainya di kos dia pun langsung merebahkan dirinya di kasur rasanya hari ini begitu lelah, lelah hati, jiwa dan raga.
Klonteng...HP Nara berbunyi dan dia langsung membukanya
"Ya ampun Nara akhirnya kamu kasih kabar juga, aku khawatir tau engga sih, kamu dari mana aja sih?nggak biasanya kamu seperti ini?btw maaf juga ya baru di balas, ini baru kelar kuliah, kamu sekarang di mana Nar?"
"iya Nadia maaf ya, aku sekarang di kos Nad"
"Uhh aku nggak sabar pengen ketemu kamu, banyak yang mau aku ceritain, yang jelas hari ini aku lagi bahagia banget Nar dan kamu harus tahu Nar, tapi ceritanya nanti saja ya kalau kita ketemu"
"Uluh.uluh ada apakah gerangan dengan sahabatky yang satu ini?ya sudah nanti kita ngobrol sampai pagi ya hehehe"
"ashiapppp sahabatku, wait ya, satu makul lagi"
Nara hendak membuang foto-foto dirinya bersama Niko yang terpajang di kamarnya rasanya dia sangat jijik dan sangat sakit melihatnya, namun dia mengurungkan niatnya karena takut Nadia bertanya macam-macam, Nara rencananya ingin menyembunyikan dulu kabar putus dirinya dengan Niko meski entah sampai kapan dirinya bisa menyembunyikannya, dia pun nggak yakin, karena setiap melihat foto tersebut dia seakan mengingat semuanya, tapi biarlah...biarlah untuk sementara dia menahan semuanya.
Saat Nara sedang membuang sampah di depan, seketika itu juga datang Widi dan Nadia yang baru pulang kuliah, mereka nampak begitu mesra.
"Nara...." Teriak Nadia sambil memeluk Nara
"Nara, apa yang terjadi?matamu sembab sekali?apa ini gara-gara semalam?apa gara-gara aku juga kamu nggak masuk kuliah" Ucap Widi dalam hati ketika melihat Nara yang terlihat tak ceria.
__ADS_1
Bersambung...