
"Mbak Tina yang sabar ya, lelaki hidung belang seperti itu nggak pantas buat di tangisin, Mbak Tina harus bersyukur bisa lepas dari lelaki seperti itu, Mbak Tina pasti akan mendapatkan gantinya yang jauh lebih baik, Mbak harus ikhlas ya mba" Ucap Nara sambil mengusap-usap pundak Tina ketika melihat Tina yang masih menangis, kini Tina pun sudah duduk satu meja dengan Nara dan Niko
"Iya makasih ya Nara" Tina pun kemudian memeluk Nara sambil melirik dan tersenyum ke arah Niko, Niko pun hanya diam tak berkutik
"Mbak Tina kan temannya Niko, berarti mulai sekarang temanku juga, jadi jangan sungkan-sungkan ya Mbak kalau mau cerita apapun, insyaAllah aku siap jadi pendengar yang baik hehe, ya sudah sekarang kita makan dulu yuk"
"Nara, kalau kamu jadi aku, cowo kamu selingkuh dan kamu lihat dengan mata kepala sendiri apa yang mau kamu lakukan?" Tina tiba-tiba bertanya hal tersebut hingga membuat Niko yang sedang makan hampir tersedak
"sayang kamu pelan-pelan dong makannya" Ucap Nara sambil memberikan segelas air bening kemudian mengusap-usap punggung Niko
"Makasih sayang" sahut Niko
"Kamu ngga papa kan Nik?" Ucap Tina
"iya ngga papa" sahut Niko
"oh ya tadi Mbak Tina tanya sikap aku bagaimana kalau pacar aku selingkuh, kalau aku sih yakin Niko nggak mungkin menduakan aku, iya kan sayang?" Ucap Nara sambil menggenggam tangan Niko
"pasti sayang, kamu satu-satunya milikku selamanya" Niko pun mencium punggung tangan Nara, Tina pun menatapnya dengan wajah kesal dan menusuk-nusuk makanan menggunakan sendok garpu kemudian memasukannya ke dalam mulut
"Tapi kalau dia sampai selingkuh, aku akan mengakhirinya saat itu juga dan sampai kapanpun aku nggak akan memaafkannya, karena menurutku selingkuh itu bukan cobaan dalam sebuah hubungan tapi karena ada kemauan, bukankah Mbak Tina juga akan seperti itu?"
"iya Nara itu pasti, aku nggak akan kembali untuk lelaki br*ngs*k seperti itu!"
Mereka bertiga kini telah selesai makan karena waktu sudah sore mereka memilih untuk segera pulang.
Tina pulang sendiri karena dia menggunakan mobil sedangkan Nara dan Niko membawa motor, setelah sampai di kos Nara, Niko pun kemudian langsung pulang, sebenarnya dia ingin buru-buru pulang karena ingin menghubungi Tina, banyak sekali pertanyaan yang dia tahan hari ini.
__ADS_1
"sayang, aku terus pulang ya, kamu jangan lupa mandi dan istirahat" Ucap Niko sambil mencium kening Nara
"Iya sayang, kamu hati-hati ya, terimakasih untuk hari ini aku bahagia banget" sahut Nara
Niko pun berlalu dari kos Nara, sebelum masuk Nara pun melihat kamar kos Nadia yang sepertinya masih gelap
"Nadia pasti lagi pergi jalan-jalan sama Widi" Ucap Nara dalam hati sambil melangkah masuk ke kamarnya, selesai mandi ia pun duduk santai sambil menonton TV
tok..tok..tok
terdengar suara orang mengetuk pintu
"Nara apa kamu sudah pulang" Teriak Nadia dari luar kamar kemudian Nara yang sedang menonton TV pun segera beranjak dari sofa untuk membuka pintu
"Nadia, aku kira kamu lagi jalan-jalan sama Widi, soalnya aku lihat tadi kamar kamu masih gelap, ayo sini masuk"
"Nara, usahaku selama ini sia-sia saja sampai saat ini Widi masih menganggapku hanya sebagai teman tak lebih, apa aku kurang menarik, apa aku kurang cantik, apa aku nggak pantas mendapatkan hatinya?"Ucap Nadia sambil meneteskan air mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Nadia, kamu nggak boleh ngomong seperti itu, mungkin memang belum sekarang tapi aku yakin suatu saat Widi pasti akan menerima kamu di hatinya, kamu jangan menyerah ya" Nara pun kemudian memeluk Nadia
"Tapi sampai kapan Nar?"
"Nadia...Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat, yang penting kamu jangan menyerah dan jangan putus asa, buktikan kalau kamu memang benar-benar cinta sama Widi, hingga Widi bertekuk lutut padamu dan mengemis cintamu"
"Tapi aku nggak yakin Nar"
"Kamu harus yakin, aku yakin suatu saat kalian pasti akan bersama dan bahagia"
__ADS_1
"Widi.Widi sampai kapan kamu akan menutup hatimu" Ucap Nara dalam hati
"Makasih ya Nar, kamu memang sahabat baikku, kamu juga yang selalu menenangkan hatiku, aku akan sabar menunggu meski rasanya sangat berat tapi aku nggak akan menyerah" Nadia pun melepaskan pelukan Nara
"Nah gitu dong, itu baru Nadia sahabatku" ucap Nara sambil mencubit hidung Nadia, mereka pun kemudian tersenyum bersama.
Di tempat lain Niko sedang sibuk menghubungi Tina
"kamu di mana?kita perlu bicara!" Niko
"aku di rumah bebh, kamu ke rumah saja"
Niko pun kemudian segera pergi ke rumah Tina dengan wajah emosi, sesampainya di sana dia langsung di sambut oleh Tina kemudian masuk ke ruang tamu
"bebh kamu masih pakai baju yang tadi, apa kamu belum mandi?" Tina mencoba memeluk Niko tapi Niko menolaknya
"jelaskan padaku, kenapa tadi kamu bisa ada di sana?apa yang sedang kamu rencanakan?terus laki-laki tadi siapa dia?apa dia pacar kamu juga?" Ucap Niko sambil mencengkeram kedua lengan tangan Tina
Tina bukannya menjawab dia pun hanya tersenyum kemudian,
hmmfpp....Tina me*ahap bi*ir Niko dengan ra*usnya, karena dia sejak tadi siang sudah menahan gejolak cintanya yang meronta-ronta saat melihat kekasihnya bersama wanita lain, Niko pun membalas setiap gi*itan yang di lakukan oleh Tina, tak puas hanya di bi*ir kemudian Niko pun mulai menjelajahi ce*uk le*er Tina hingga membuat Tina mengge*iat dan mende*ah keni*matan, mereka pun semakin hanyut dalam kemesraan, kemudian melepaskan pa*aiannya satu sama lain dan melempar ke sembarang arah, kini tidak ada sehelai benang pun di antara mereka, deru nafas mereka saling bersahutan, e*angan dari keduanya memenuhi hampir seluruh ruangan tersebut, kurang lebih hampir 1 jam melakukan penyatuan yang penuh dengan gejolak asmara, mereka pun mencapai puncak keni*matan secara bersama-sama, saat nafas mereka sudah kembali normal, Tina pun mulai berbicara,
"bebh, laki-laki tadi bukan siapa-siapa, aku hanya menyuruhnya untuk pura-pura jadi pacarku, supaya Nara tidak curiga, aku hanya takut kehilanganmu, itu sebabnya juga aku mengikutimu, aku juga ingin berkenalan dengan Nara, tapi kamu nggak usah khawatir, kamu tenang saja aku nggak akan bocorin hubungan kita pada Nara" Ucap Tina sambil mengusap-usap rambut Niko yang kini sudah rebahan di samping Tina (sofanya sultan mah lebar gaes bisa buat berduaan😁)
"Tapi perlahan-lahan aku akan membuatmu lepas dari Nara" Ucap Tina dalam hati
Bersambung...
__ADS_1