Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Panggil saya Mas


__ADS_3

"Iya ya, kalau saya bilang sekarang sama Nadia apa kamu yakin Nadia akan langsung menerima saya?atau memang kamu ingin Nadia cepat-cepat jadi istri saya kemudian setelah itu kamu jadian sama pacarnya Nadia?"


"Maksud Bapak?!!!" Nara langsung menatap tajam ke arah Arya


"Wuih santai bu, takut saya jadinya kalau di lihatin seperti itu"


sseeettttttttt....Arya menepikan mobilnya ke pinggiran jalan yang lumayan sepi


"Kenapa berhenti pak?nanti saya bisa telat?"


"Kamu lupa, jam pertama di kelas kamu itu saya"


"Lalu Bapak mau apa?"


"Mas, aku mau kamu panggil Mas saat kita di luar di kampus"


"Tapi pak"


"ssstt..saya tidak suka di bantah" Ucap Arya sambil meletakan jari telunjuknya di bibir Nara, wajah mereka pun kini saling berhadapan dan sangat dekat


Ehmmm...Nara yang merasa tidak enak dengan posisi itu kemudian jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke jendela


"Maaf" Ucap Arya


"Tadi apa maksud bapak?" Ucap Nara namun seketika itu pula Arya langsung menatap tajam ke arahnya


"Iya-iya Mas Arya, tadi Mas Arya bilang, kalau Nadia jadi istri mas Arya saya akan jadian sama pacarnya Nadia, maksudnya apa Mas?apa Mas Arya mengetahui sesuatu?"


Arya hanya diam sambil tersenyum


"Mas Arya...." Panggil Nara


"Memangnya kamu nggak tahu atau pura-pura tidak tahu?saya ini laki-laki Nara jadi saya bisa tahu, dari cara Widi menatap kamu, itu aja sudah kelihatan kalau dia itu punya rasa untuk kamu, tatapannya begitu hangat beda saat dia menatap Nadia, dan aku dengar Widi dan Nadia itu baru jadian beberapa minggu, apa saya salah?Nara apa kamu juga mencintai Widi?apa kalian pernah pacaran?"


"Tidak Mas, saya tidak mencintainya" Ucap Nara sambil menatap ke arah jendela


"Kamu yakin?padahal saya berharap kamu mencintainya biar saya bisa cepat-cepat Nikah sama Nadia" Arya mencoba memancingnya


"Mas Arya nggak perlu tahu saya mencintainya atau tidak, buat saya kebahagiaan mereka itu yang utama, dengan siapapun Nadia akan berjodoh saya akan selalu mendukung dia"


"Nara hanya laki-laki bodoh yang tega menyia-nyiakan kamu" Gumam Arya dalam hati

__ADS_1


"Mas..."


"Mas Arya..."


"Hmmm iya Nara"


"Cie terpesona yah lihat kecantikan saya" Nara terkekeh


"Oh astaga pede banget ni bocah"


"Tapi saya senang lihat kamu tertawa Nara, semoga lukamu segera terobati ya?" Ucap Arya dalam hati


"Ayo berangkat mas, sebentar lagi masuk"


"Ashiap Bos"


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di parkiran kampus dan sudah terlihat sepi karena ini memang sudah saatnya mereka semua masuk kelas, sebelum turun dari mobil Nara melihat keadaan sekeliling, dia merasa lega karena sepertinya tidak ada yang melihatnya berangkat satu mobil bersama dosennya bisa jadi gosip terhangat kalau sampai ada yang memergokinya,


"Makasih mas, saya duluan" Ucap Nara kemudian turun dari mobil dan segera berlari menuju kelas


Arya pun hanya tersenyum melihat tingkah mahasiswinya tersebut.


Sesampainya di kelas dia langsung menatap ke arah Nadia, Nara sebenarnya merasa tidak enak hati karena tadi pagi namanya di bawa-bawa saat Nadia dan Widi ribut kecil di kos.


Nara semakin merasa bersalah, dia bingung harus bagaimana dan harus ngomong apa, sahabat baiknya mendadak berubah


"Nadia, kamu kenapa pindah?" Tanya Nara


"Maaf Nara, aku sedang ingin duduk di belakang"


Tap-Tap-Tap tak lama kemudian Pak Arya memasuki ruang kelas, suasana yang tadinya ramai berubah mencekam, ya Pak Arya kalau sedang mengajar auranya sangat menyeramkan dan sangat berwibawa, cara menyampaikan materi juga tegas, lugas dan mudah di pahami, beliau sangat di siplin dalam segala hal.


"Maafkan aku Nara, aku membencimu, kenapa semua orang perduli padamu, kenapa semua orang mengagumimu, kenapa kamu selalu lebih unggul dalam segala hal, aku muak Nara, aku manusia biasa" Ucap Nadia dalam hati sambil menatap sinis ke arah Nara


Di sela-sela mengajar Arya melihat situasi tersebut, di mana Nadia dan Nara yang tidak biasa-biasanya duduk berjauhan, bahkan Arya bisa membaca kalau ada sorot kebencian di mata Nadia saat melihat Nara.


Kurang lebih satu setengah jam Arya menyampaikan materi, beliau seperti biasa menutupnya dengan memberi tugas untuk para mahasiswanya yang harus di kumpulkan pada pertemuan berikutnya setelah itu beliau mulai meninggalkan ruang kelasnya, semua mahasiswa bernapas lega setelah dosen tersebut keluar dari ruang kelas.


"Sayang, kamu mau ajak aku ke kantin yah?" Ucap Nadia saat melihat Widi yang sudah ada di pintu kelasnya, Nadia pun kemudian melangkah pergi melewati Nara tanpa menyapanya ataupun mengajaknya pergi ke kantin seperti biasanya, saat itu Nara tengah membaca buku referensi untuk skripsi.


"Nadia, aku salah apa?kenapa kamu berubah?" Gumam Nara dalam hati sambil menatap nanar kepergian Nadia dan Widi

__ADS_1


"Syukur lah kalau dia baik-baik saja" Ucap Widi dalam hati sambil sedikit melirik ke arah Nara kemudian pergi ke kantin bersama Nadia, sepanjang jalan Nadia nampak menggandeng lengan tangan Widi


drrttttttttt...HP Nara bergetar, dia berharap itu pesan dari Nadia yang menyuruhnya ke kantin tapi ternyata bukan pesan tersebut dari Pak Arya


"saya tunggu di kantin"


"Maaf mas, saya nggak lapar"


"Saya tunggu dalam waktu 5 menit"


Nara hanya membacanya


"Nara...patah hati itu menguras tenaga, lihat wajah kamu di cermin apa kamu nggak malu kalau nanti tiba-tiba pingsan, pasti akan jadi berita terhangat, seorang mahasiswi kedokteran jatuh pingsan di kampus pemicunya ialah mogok makan di karenakan sedang putus cinta, seru deh kayaknya" Isi chat Arya, setelah Nara membukanya kemudian dia mengambil cermin kecil yang selalu dia bawa dalam tasnya dan benar saja wajahnya terlihat sangat pucat


"Ya ampun aku baru sadar, kalau aku dari semalam belum makan" Ucap Nara dalam hati sambil menatap pantulan wajahnya di cermin


"Iya mas saya akan ke sana"


Nara kemudian berjalan menuju kantin sesampainya di sana dia langsung memesan makanan, melihat Arya yang duduk berdekatan dengan Nadia dan Widi membuat Nara urung untuk menghampirinya, selain itu juga dia menjaga image masa iya tiba-tiba dia nyamperin dosennya, setelah makanan yang di pesan sudah berada di tangan, Nara memilih tempat duduk yang jauh dari Nadia, Widi dan Arya.


"Kamu kenapa duduk di sana?" Chat Arya


"Memang harusnya di mana?"


"Sini di sebelah saya"


"Saya lebih nyaman di sini"


"Apa kamu sama Nadia sedang berantem?"


"saya mau makan dulu pak"


"Itu Nasi yang di pipi di sisain buat saya yah?" Arya kembali chat Nara sambil tersenyum


sesekali Widi pun menatap ke arah Arya yang tengah asyik bermain HP dan senyum-senyum sendiri, kemudian dia juga menatap ke arah Nara meski hanya sekilas karena dia tidak mau ribut dengan Nadia.


Membaca pesan dari Arya Nara langsung mengusap-usap pipinya untuk membuang nasi tersebut tapi sepertinya dia sedang di kerjain soalnya dia tidak menemukan apapun di sana, kemudian dia menyalakan kamera selfie dan benar saja Arya memang sedang mengerjai dirinya.


Di sisi lain Widi juga tengah memegang HP dan membuka media sosial miliknya, tak sengaja dia melihat postingan seseorang yang ternyata kuliah di universitas yang sama dengan Niko, meski Widi tidak mengenal siapa orang tersebut, di sana orang tersebut mengupload foto-foto tengah wisuda yang itu artinya hari ini adalah hari Niko wisuda.


"Nara, kenapa dia masuk kuliah?kenapa dia tidak hadir dalam wisuda Niko" Ucap Widi dalam hati sambil menatap ke arah tempat duduk Nara tapi ternyata Nara sudah tidak ada di kantin begitu juga dengan Pak Arya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2