Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Jaga perasaan lebih baik


__ADS_3

Nara pun hanya bisa menangis dan pasrah, tak ada yang bisa di lakukan lagi, Dia tak pernah menyangka sama sekali akan ada pada situasi seperti sekarang ini, Dimas benar-benar seperti orang kesetanan, Dimas pun mulai mengusap-usap wajah Nara dengan lembut dan penuh bi*ahi, Kini Nara pun sudah duduk di meja yang ada di ruang kelas tersebut sambil terus menangis dan berusaha untuk melepaskan diri tapi Naas tangan dan kakinya sudah terikat.


"Sayang, kamu cantik sekali" Ucap Dimas sambil mengusap-usap pipi Nara dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nara


Nara pun hanya bisa menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya


Saat Dimas hendak membuka kancing baju milik Nara, tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang dengan sangat keras hingga membuat Dimas pingsan, dan seseorang tersebut adalah Widi.


Widi memang sengaja tidak langsung pulang, saat tadi hendak pulang dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Nadia dan Nara saat Nara bilang kalau dia akan di jemput Niko, Widi merasa khawatir karena saat itu hari sudah sore apalagi akan turun hujan, akhirnya Widi pun memutuskan untuk tetap berada di kampus juga tanpa sepengetahuan Nara, ia hanya ingin memastikan kalau Nara baik-baik saja sampai Niko menjemputnya, saat Dimas datang Widi sedang berada di kamar mandi, selesai dari kamar mandi Widi melihat ruangan di mana Nara sedang menunggu kekasihnya, ruangan tersebut kini telah tertutup Widi pun kemudian memastikan apakah Nara sudah pergi atau masih ada di dalam namun ia malah mendapatkan Nara dalam keadaan seperti itu, Widi pun kemudian mengambil tabung pemadam kebakaran yang ada di depan ruang kelas tersebut kemudian memukulkannya pada Dimas sampai Dimas pingsan, beruntung saat itu pintu tidak di kunci jadi Widi tidak perlu susah payah untuk membukanya.


"Nara, kamu nggak papa kan?" Ucap Widi sambil melepas lakban dari mulut Nara dan melepas ikatan yang ada pada tangan dan kaki Nara


Nara pun hanya menangis tanpa mengeluarkan satu patah katapun, sepertinya dia masih sangat shock dengan apa yang terjadi pada dirinya sore ini.


Widi pun kemudian memeluk Nara dengan sangat erat


"Nara, kamu jangan takut, kamu sudah baik-baik saja, ada aku di sini" Ucap Widi sambil memeluk erat tubuh Nara, Nara pun hanya terdiam dan terus menangis


"Kita keluar dari sini ya, kita cari tempat lain dulu yang lebih nyaman supaya kamu merasa lebih tenang" Ucap Widi sambil memapah Nara keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Dimas yang sedang pingsan


Widi pun melihat sekeliling kampus untuk memastikan tak ada yang melihat kejadian tersebut, ia kemudian mengajak Nara ke ruang auditorium yang ada di kampus tersebut tak ada satupun orang di sana hanya ada mereka berdua


"kamu minum dulu ya" Ucap Widi sambil mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnya, ia memang selalu membawa persediaan botol air mineral, karena saat ada waktu luang dia sering pergi untuk main basket atau futsal bersama teman-temannya, itulah sebabnya dia selalu membawa handuk kecil dan botol minuman dalam tasnya untuk persedian setelah olahraga.


Widi pun mengusap keringat dingin Nara menggunakan handuk kecil miliknya, kemudian Nara tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Widi


"Widi, makasih ya, aku nggak tahu apa jadinya aku tadi kalau nggak ada kamu" Ucap Nara dan sepertinya kini dia sudah mulai tenang perasaannya


"Iya sama-sama Nar, itu hanya kebetulan saja tadinya aku mau latihan basket di gor kampus sama teman-teman tapi aku nggak sengaja lihat kamu dan si breng*ek itu!besok kita laporkan saja Dimas ke rektor biar di keluarkan"


"Nggak usah Wid, aku nggak mau ada yang tahu tentang kejadian hari ini, cukup kita berdua saja yang tahu"


"Tapi Ra, ini sudah kelewatan"


"Widi, sudah biarkan saja, semoga dengan kita memaafkannya dia tidak akan macam-macam lagi sama aku, lagian aku yakin tadi dia melakukan hal tersebut karena pengaruh alko*ol, karena aku mencium aromanya dan aku juga sangat yakin dia tidak akan mengingat kejadian tersebut, kamu percaya ya sama aku"


"Tapi Ra, pengaruh alko*ol apa bukan tetap saja dia sudah berusaha untuk melecehkanmu, Dia harus dapat hukuman yang setimpal supaya jera!"


"Wid, please ini aibku juga, aku engga mau ada satu orangpun yang tahu termasuk Niko dan Nadia" Ucap Nara sambil meletakan jari telunjuknya di bibir Widi kemudian Widi pun memegang tangan Nara dan menggenggamnya


"Oke baiklah kalau itu mau kamu, maafin aku ya"


"Nara, hatimu terbuat dari apa sih, bisa-bisanya kamu memaafkan laki-laki breng*ek seperti Dimas" Ucap Widi dalam hati dengan perasaan nggak rela kalau Nara menutupi kelakuan Dimas


"Ra, kalau boleh tahu kenapa kamu tadi belum pulang?" Widi mencoba bertanya pada Nara meski sebenarnya Dia sudah tahu alasan mengapa Nara masih di kampus sore itu

__ADS_1


"Aku nunggu di jemput Niko, dia bilang dia akan menjemputku tapi hampir setengah jam aku menunggunya dia tak kunjung datang dan nomornya susah di hubungi, mungkin dia ketiduran atau sedang apa aku nggak tahu, malah Dimas yang datang tadi" Nara pun kembali mengeluarkan air mata


"laki-laki tak bertanggung jawab seperti itu masih kamu pertahankan?kalau menurutku sih pertimbangkan lagi, maaf bukannya apa-apa, mana ada laki-laki yang katanya pacar membiarkan wanitanya menunggu sendirian sore hari tanpa kabar pula"


"Widi jaga bicaramu!biar bagaimanapun dia kekasihku dan aku sangat mencintainya"


"hmm iya maaf, susah memang kalau sudah jatuh cinta"


"kamu benar Wid, aku memang akan mempertimbangkan hubunganku kembali dengan Niko, tapi maaf kamu nggak perlu tahu dan maaf kalau aku harus membohongimu" Ucap Nara dalam hati


"kayaknya ini sudah malam, kita pulang yuk, kamu pakai ini yah?kuat jalan engga, kalau nggak kuat aku gendong" Ucap Widi sambil memakaikan jaket ke Nara


"Kuat lah, kamu pikir aku bayi pakai di gendong segala"


"Emang" Widi terkekeh


"Sialan" Nara pun tersenyum


"Gitu dong senyum kan cantik"


"Berarti daru tadi aku nggak cantik?"


"baru sadar?" Ucap Widi sambil menarik hidung Nara


"Widi...."


"Ra, kita mampir makan malam dulu ya?" Ucap Widi sebelum menyalakan motornya


"Nggak mau, aku malu?" Jawab Nara


"Malu kenapa?"


"Kamu lihat dong, mukaku sembab gini, aku awut-awutan nggak jelas, memangnya kamu nggak malu?"


"biasanya juga seperti itu, tetap cantik kok, ya makan dulu ya aku lapar banget tau berjam-jam lihat cewe nangis"


"Widi....Ya sudah terserah kamu saja"


Mereka pun akhirnya mampir ke salah satu warung gudeg yang ada di pinggir jalan dan cukup jauh dari kota


"Wid, rame banget aku malu, lagian kamu mau makan aja jauh banget" Ucap Nara sambil memegang lengan tangan Widi


"katanya kamu malu jadi ya aku ajak kamu ke tempat yang jauh biar nggak ada yang kenal sama kita, dan nggak ada yang lihat kita"


"pintar juga kamu" Ucap Nara sambil nyengir

__ADS_1


"baru tahu?"


"Iya"😁


"Sialan...Ya sudah ayo masuk"


Selesai makan, mereka pun kemudian pulang ke kos


"Wid, kamu antar aku sampai pinggir jalan saja ya, aku nggak mau Nadia tahu aku pulang sama kamu"


"memangnya kenapa?"


"pokoknya aku nggak mau"


"terserah aku dong, kalau aku maunya sampai depan kamar bagaimana?"


"Widi..." Ucap Nara sambil mencubit perut Widi


"aw, sakit tau" Ucap Widi sambil memegang tangan Nara dan kali ini membuat jantung Nara berdebar-debar seakan hendak lepas dari tempatnya


"Widi, sejak dulu sampai sekarang aku selalu merasa nyaman dan tenang saat ada di sampingmu, perasaan yang tidak aku dapatkan saat aku bersama Niko, dan betapa bodohnya aku tak menyadari semua rasa itu, Nadia maafkan aku, aku janji aku dan Widi hanya sebatas sahabat"


Mereka pun hampir sampai ke kos Nara


"Stop Wid, sudah di sini aja"


"Iya ya, ya ampun takut banget"


"jaga perasaan lebih baik" Ucap Nara sambil melepas jaket


"terserah kamu"


"sekali lagi makasih banyak ya Wid buat segalanya, ingat hari ini cukup kita berdua yang tahu"


"Iya.iya bawel, ya sudah kamu masuk sana, istirahat ya, kalau belum siap ke kampus besok kamu bisa libur dulu"


"Iya Wid, kamu hati-hati ya"


"Iya, sana masuk dulu, aku akan pergi kalau kamu sudah benar-benar masuk kamar"


Nara pun kemudian masuk ke kamarnya, beruntung Nadia saat itu tidak ada di luar jadi dia tidak melihat Nara yang baru pulang malam hari, Nara pun langsung masuk ke kamarnya dengan pelan, saat hendak menutup pintu dia pun melihat ke arah Widi dan melambaikan tangan sambil tersenyum kemudian menutup pintu.


ia pun kembali menangis mengingat kejadian hari ini, kemudian dia pergi mengecharge HPnya yang ngedrop.


Jam 21.00 WIB

__ADS_1


"arggghhhh kenapa kepalaku rasanya berat sekali, jam berapa ini" Ucap Niko saat dia baru bangun tidur sambil memegang kepalanya


Bersambung...


__ADS_2