Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Dosen Baru


__ADS_3

"Nara, apa yang terjadi?matamu sembab sekali?apa ini gara-gara semalam?apa gara-gara aku juga kamu nggak masuk kuliah" Ucap Widi dalam hati ketika melihat Nara yang terlihat tak ceria.


"Nad, aku pulang dulu ya" pamit Widi pada Nadia


"Lho sayang, nggak mampir dulu?" ya setelah mereka jadian tadi pagi kini Nadia memanggil Widi dengan sebutan sayang tapi tidak dengan Widi dia belum terbiasa dengan panggilan itu apalagi sama sekali tidak ada cinta di hati Widi untuk Nadia, dia jadian dengan Nadia karena terpaksa ya lebih tepatnya karena dia selalu mengingat ucapan Nara yang menyuruhnya untuk membuka hati pada Nadia, semua itu Widi gunakan juga untuk benar-benar mengetahui perasaan Nara yang sesungguhnya terhadap dirinya, dia ingin mengetahui bagaimana reaksi Nara setelah tahu dirinya jadian dengan Nadia.


"Maaf Nad, lain kali aja ya, aku pengin istirahat" kemudian Widi naik ke motor dan memakai helm untuk bersiap pulang


"Tunggu sayang, nggak ada salam perpisahan dulu nih?" Ucap Nadia sambil memainkan jari telunjuknya di pipi kanannya


"malu ada Nara" Ucap Widi kemudian dia nyetarter motornya dan berlalu pergi meninggalkan Nadia dan Nara


"hissss dasar, untung aku cinta" Ucap Nadia dengan bibir manyun


"Cie, yang sudah sayang-sayangan, harus makan-makan nih" Ledek Nara


"ya gitu deh Nar, nanti ya aku ceritain hehehe, sekarang aku mau mandi dulu, eh iya banyak tugas juga nih hari ini kita kerjakan sama-sama ya"


Setelah selesai mandi, Nadia masuk ke kamar Nara dan menceritakan kalau dirinya memang sudah jadian dengan Widi tadi pagi, meski Widi belum mengatakan kalau dia mencintai Nadia, Widi hanya mengatakan dia ingin menjalani sebuah komitmen bersama dirinya dan ingin belajar mencintainya, Nara ikut bahagia mendengarnya, mereka pun bercerita panjang kali lebar sambil mengerjakan tugas-tugas


"Oh iya Nad, aku kayaknya mau sekalian ambil skripsi deh di semester ini, aku sudah pengen cepat-cepat wisuda, terus coas terus internship terus bekerja ah rasanya sudah tidak sabar" Ucap Nara sambil membayangkan dirinya mengenakan seragam putih-putih khas dokter, ya menjadi dokter memang impiannya sejak kecil, dia sengaja ingin mengajukan skripsi di semester ini karena ingin menyibukkan hari-harinya dan melupakan kenangan-kenangan indah bersama Niko, sebenarnya dari mulai semester sebelumnya Nara juga sudah ingin mulai ambil skripsi tapi dia memilih untuk meluangkan waktu bersama kekasihnya, berbeda dengan sekarang fokus Nara saat ini adalah lulus secepat mungkin dan mendapat gelar dokter sesuai cita-citanya.


"Yah Nar, memangnya kamu nggak ingin menikmati masa-masa indah di kampus, kita nggak lulus sama-sama dong, aku nggak mungkin ambil skripsi di semester ini, tugas-tugas ini juga udah bikin aku gila apalagi kalau di tambah skripsi bisa-bisa 24jam aku ketemu buku terus nggak sempat ketemu yayang Widi, otakku kan di bawah rata-rata beda sama kamu Nar" Nadia terkekeh ya dirinya menyadari kalau otaknya memang pas-pasan nggak secerdas Nara tapi tiba-tiba Nadia diam dan melamun


"lho kamu kenapa Nad?seperti ada yang sedang di pikirkan?" Tanya Nara ketika melihat Nadia yang tadinya ceria tiba-tiba wajahnya berubah jadi sendu


"Nara, aku nggak tahu harus bahagia atau sedih, beberapa hari yang lalu orang tuaku menelpon dan memberi aku kabar kalau aku mau di jodohkan dengan seorang dokter lulusan luar negri, dokter tersebut adalah anak dari teman ayahku, katanya usianya sudah 34 tahun, dia anak tunggal dan hidup di luar negri tapi katanya beberapa hari yang lalu juga dia kembali ke indonesia untuk menetap di indonesia ya mungkin karena perjodohan ini juga, orang tuaku tahunya aku belum punya pacar makanya setuju-setuju saja pas temannya minta perjodohan ini, ya memang saat itu nyatanya aku memang belum jadian kan sama Widi?"


"Ya ampun Nad?terus kamu sudah bilang setuju gitu?kamu juga sudah ketemu belum sama orang yang mau di jodohin itu?"

__ADS_1


"Belum lah, aku nggak tanya-tanya lebih ke orangtuaku, bayangin saja Nar usia 34 tahun pasti sudah om-om bahkan mungkin bapak-bapak, membayangkannya saja aku tak sanggup, kamu tau sendiri kan aku cintanya sama Widi, aku sebenarnya malas mikirin ini tapi ah entahlah, lah kok aku jadi curhat, maaf ya Nar"


"Ya nggak papa Nad santai saja, kalau kamu memang menolak buat di jodohkan kamu bilang baik-baik ke orangtua kamu Nad, pasti orangtua kamu memaklumi, ehh tapi seenggaknya lihat fotonya dulu nggak ada salahnya kali siapa tau ganteng hahahay" Ledek Nara


"cuma yayang Widi yang paling ganteng menurutku, asheeekkkkk, lagian kamu bayangin Nar aku sudah nunggu Widi bertahun-tahun, itu sudah jadi bukti nyata bahwa memang hanya Widi yang ada di hatiku selamanya Nar, dia pacar pertamaku dan juga cinta pertamaku, upsss..keceplosan, malunya aku yang belum pernah pacaran hehe, kalau soal foto aku sudah minta juga Nar tapi katanya biar ketemu langsung saja, suruh kenalan langsung biar lebih dekat, katanya kemarin juga orangnya mau datang ke kos tapi sampai sekarang nggak datang kan?semoga aja dia juga menolak perjodohan ini..Aamiin!hoam..ngantuk deh aku jadinya, makasih sudah mau dengerin celotehanku ya Nar, kita sambung besok lagi, jangan kapok ya, sekarang kita harus istirahat, besok jam pertama katanya ada dosen baru mau masuk" Ucap Nadia sambil membereskan buku-bukunya kemudian kembali ke kamarnya untuk istirahat begitupun dengan Nara, dia segera bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka kemudian istirahat.


Keesokan paginya


Ruang kelas di hebohkan dengan celotehan para mahasiswi yang sedang membicarakan dosen baru yang katanya masih single dan super duper ganteng dan hari ini dosen tersebut yang akan mengisi jam pertama di kelas Nara dan Nadia.


"Selamat pagi" Ucap dosen tersebut ketika memasuki ruang kelas


"Selamat pagi pak" Ucap seluruh mahasiswa sambil memandang ke arahnya kecuali Nara


"oh my god ganteng banget"


"kalau dosennya kaya gini aku sih jadi betah ngampus tiap hari"


"kuliah 6 tahun juga aku mau"


Ucap beberapa mahasiswi yang ada di kelas kecuali Nara yang masih sibuk baca-baca buku tanpa melirik ke arah dosen tersebut.


"Nar, bening banget Nar" Ucap Nadia sambil menyikut lengan Nara tapi Nara cuek saja bahkan hingga dosen tersebut memperkenalkan diri Nara masih fokus dengan buku yang sedang dia baca, tibalah waktunya dosen tersebut mengabsen satu persatu mahasiswanya.


"Larasati Nugroho"


"Hadir Pak"


"Leo Fernando"

__ADS_1


"Hadir Pak"


"Kinara Salsabila Utami"


Hening


"Nar, di panggil dosen tuh" Nadia yang duduk di sebelahnya kemudian menyikut lengannya


"Kinara Salsabila Utami" Ulang Dosen dengan suara lebih keras


"mmm...Hadir Pak" Ucap Nara sambil berdiri dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah dosen tersebut, beliau adalah orang yang kemarin bertemu dirinya saat di pantai


Nara nampak menelan salivanya


"Mati aku, ternyata dia dosen" Ucap Nara dalam hati kemudian kembali duduk dan menundukan pandangannya


begitupun dengan Arya dia sama terkejutnya ketika melihat wajah Nara, ya dosen tersebut adalah Arya Kamandanu, lelaki yang bertemu Nara kemarin di pantai.


"Ternyata dia masih mahasiswa, bisa-bisanya kemarin dia bolos cuma gara-gara putus cinta" Ucap Arya dalam hati


"Melia Susanti" Arya kembali mengabsen


"Hadir Pak"


"Nadia Mustika" hatinya bergetar saat memanggil namanya


"Hadir Pak"


"Lebih cantik, sayang sudah ada yang punya" Gumam Arya dalam hati

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2