Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Cukup Sampai Di Sini


__ADS_3

"Ada apa ini?!!" terdengar suara bariton yang baru saja datang dari arah belakang


Arya yang baru saja kembali dari toilet langsung menuju ke arah ribut-ribut dan betapa terkejutnya dia kala melihat Nara yang sudah basah kuyup dan terlihat sedang menangis di hadapan Nadia


"Astaghfirullah!!De ini ada apa?siapa yang melakukan ini sama Ade?!" Ucap Arya panik kemudian langsung meraih tangan Nara dan memeluknya serta mengusap-usap rambutnya yang sangat kotor terkena kopi, di perlakukan demikian oleh Arya Nara pun hanya diam dan semakin terisak


prok.prok.prok...."hebat ya hebat banget, semalam pelukan sama pacar orang, sekarang pelukan sama calon suami orang, besok sama siapa lagi yah?" Sarkas Nadia sambil bertepuk tangan


"Nadia!!!" Teriak Widi yang baru datang dan dia mendengar apa yang di ucapkan dirinya barusan kepada Nara


"Nadia!jaga bicaramu!kamu sudah keterlaluan, kamu sudah dewasa tapi sungguh kelakuanmu begitu kekanak-kanakan!!!"


"Pak Arya, sebenarnya apa yang terjadi?" Widi mencoba bertanya kepada dosennya tersebut yang kini tengah memeluk Nara yang tengah menangis


"Sebaiknya kamu tanyakan pada kekasihmu!" jawab Arya dengan ketus


"Ayo De kita pulang" Arya menuntun Nara keluar dari cafe tersebut


"Bro, Maaf ya atas ketidaknyamanan ini, aku harap kita akan bertemu lagi" Ucap pemilik cafe sekaligus sahabat Arya tersebut


"Iya Bro, kita juga minta maaf ya atas kejadian yang tak terduga ini, kalau begitu kita pamit pulang dulu ya"


"sering-seringlah datang kesini Bro"


"Iya Bro"


Seluruh pengunjung cafe yang tadi berdiri menyaksikan ribut-ribut tersebut kini sudah duduk kembali menikmati jamuan masing-masing, berbeda dengan Niko yang sedari tampak gusar, dia merasa tak ada gunanya karena tak bisa berbuat apa-apa saat Nara di maki-maki oleh Nadia bahkan dia juga merasa kaget dengan kelakuan Nadia, yang Niko tahu selama ini Nadia adalah sahabat baik Nara, Niko juga bertanya-tanya dengan laki-laki yang memeluk Nara tadi sungguh rasanya dia ingin sekali menggantikan posisi laki-laki tersebut untuk memeluknya dan menghilangkan segala kesedihannya tapi Niko sadar dirinya kini sudah tak berhak terlebih Nara masih sangat membencinya dan ada Tina di sampingnya yang otomatis akan melarangnya.


"Nadia, aku tidak tahu persis apa yang terjadi barusan, aku juga tidak tahu apa masalahmu sampai segitunya sama Nara, aku nggak nyangka kamu tega melakukan itu pada Nara, maaf Nad sebaiknya hubungan kita cukup sampai di sini!kita akhiri saja semuanya, aku kecewa sama kamu Nad, sangat kecewa!!" Ucap Widi dengan segurat emosi yang nampak di wajahnya


"Sayang, kamu bercanda kan?aku nggak mau kita putus, aku cinta dan sayang banget sama kamu Wid, aku nggak mau kita pisah" Ucap Nadia sambil bergelayut memeluk Widi namun Widi segera menepisnya


"Maaf Nad, keputusan aku sudah bulat" Ucap Widi seraya pergi meninggalkan Nadia


"Karena Nara Si Perempuan Murahan itu kan" Celetuk Nadia hingga membuat langkah Widi tiba-tiba berhenti kemudian langsung berbalik menuju Nadia kembali


"Bilang apa kamu barusan?!" Widi langsung mencengkram kedua lengan tangan Nadia


"Iya kamu mutusin aku pasti gara-gara Nara yang nggak tahu diri itu kan?"


Widi hendak menampar Nadia namun dia urungkan

__ADS_1


"Kenapa nggak jadi?tampar saja aku Wid...tampar!kamu jahat Wid, kamu abaikan pesan dariku tapi kamu malah asyik berduaan dan berpelukan dengan Nara tadi malam, bertahun-tahun aku menunggumu mengharap cinta darimu apa aku salah?mengapa kamu memberiku suatu harapan jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku begitu saja, apa kurangnya aku Wid?aku cinta banget sama kamu, tapi apa balasannya sedikitpun kamu nggak pernah menghargai perasaanku ke kamu, mengapa kamu mengajakku berkomitmen kalau di hatimu hanya ada Nara.Nara dan Nara, bukan hanya kamu bahkan Pak Arya orang yang di jodohkan denganku dia juga terlihat lebih tertarik dengan Nara, salahku di mana Wid tolong kamu jelaskan padaku, mengapa semua orang menyukai Nara Wid, mengapa semua orang menyayangi Nara, mengapa tidak ada satupun orang yang menyayangiku" Nadia kemudian duduk dan menangis


Deg..hati Widi menciut seketika, yang Nadia katakan memang benar, Nadia tidak bisa di salahkan sepenuhnya, dalam masalah ini Widi lah yang lebih bersalah, dia mengajak Nadia berkomitmen tapi sejauh ini sedikitpun dia belum bisa membuka hatinya untuk Nadia, tidak di pungkiri sebenarnya Nadia itu memang baik tapi cintanya telah terpatri pada sosok Nara, ternyata nama Nara telah terukir jauh di dalam lubuk hati Widi hingga tak ada satupun yang bisa menggeser posisinya.


"Maafkan aku Nad, kamu itu baik, aku yakin kamu pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku, sebaiknya sekarang kita pulang, aku antar kamu ke kos" Ajak Widi


"kalau aku baik kenapa kamu nggak bisa jatuh cinta sama aku Wid?"


"Nadia, percayalah aku juga telah berusaha untuk bisa mencintai kamu tapi maafkan aku Nad, sejauh ini rasa sayang aku ke kamu tidak bisa lebih dari sekedar sahabat, sekali lagi maafkan aku Nad"


"Tinggalkan aku sendiri Wid, kamu pulang duluan saja, biar nanti aku pulang sendiri"


"kamu yakin?"


"Iya Wid"


"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan"


♦️♦️♦️


Sementara itu Arya dan Nara telah tiba di kos Nara, Nara juga sudah mulai sedikit tenang dan tidak menangis lagi karena selama perjalanan pulang Arya telah menenangkan dan menghiburnya.


"Benar-benar kelewatan si Nadia, Mas benar-benar nggak nyangka dia bisa ngelakuin itu sama Ade" Ucap Arya ketika turun dari mobil


"Terlepas dari salah Ade apa bukan, nggak seharusnya Nadia bersikap seperti itu semua bisa di bicarakan baik-baik De, ya sudah sekarang Ade mandi dulu sana, Mas tunggu di sini"


"Iya Mas" Nara kemudian masuk ke kamarnya dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi


Sementara itu Arya di luar memesan makanan Via online kemudian menelpon orang tuanya.


"Iya Mah, beri Arya waktu satu tahun kalau dalam waktu satu tahun Arya belum menemukan pilihan Arya sendiri, Arya akan menerima perjodohan ini tapi untuk sekarang Arya minta maaf kalau Arya tidak bisa menerimanya" ucapan terakhir Arya sebelum menutup sambungan telpon dengan orang tuanya


ceklekkkk...terdengar suara pintu di buka dan itu adalah Nara yang telah selesai membersihkan diri, dia juga tanpa sengaja mendengar pembicaraan Arya dengan orang tuanya.


"Mas Arya menolak perjodohan dengan Nadia?"


"Ade Nguping?"


"Nggak sengaja Mas" Nara kemudian duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Arya


"Ade baik-baik aja kan De?Sumpah ya Mas tuh masih nggak percaya dan benar-benar nggak menyangka ternyata Nadia bisa setega dan sekejam itu sama Ade"

__ADS_1


"Sudahlah Mas, Nadia nggak salah, semuanya memang salahku tapi ini hanya salah paham, besok aku akan jelaskan semuanya sama Nadia, oh iya Mas Arya belum jawab pertanyaan aku, Mas Arya menolak perjodohan dengan Nadia?"


"Bukan menolak De, hanya saja Mas butuh waktu lagian Nadia juga sudah punya pacar kan, jadi nggak ada salahnya kalau Mas mencoba untuk mencari yang lain pilihan Mas sendiri, lagian akhir-akhir ini Mas juga merasa nyaman dengan seseorang"


Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang datang untuk mengantar makanan yang tadi Arya pesan saat Nara sedang mandi,


"Makan dulu De, Mas lapar banget"


"Iya Mas, aku siapkan dulu ya"


♦️♦️♦️


"De"


"Hmmm, katanya laper Mas kok cuma di lihatin?" Nara sudah mulai menyantap makanan menggunakan tangan karena menu yang di pesan Arya adalah Ayam bakar komplit dengan sambal dan lalap


"Pengin di suapin" Rengeknya manja


"Nggak mau, Mas kan punya tangan, lagian kalau makan di suapin itu nanti nggak kenyang-kenyang Mas"


"Ayo dong, makan dari tangan orang lain lebih enak De" Rayunya lagi


Mendengar kata-kata tersebut Nara pun jadi teringat Widi yang dulu juga pernah berkata demikian


"De" Panggil Arya kepada Nara yang terlihat melamun kemudian segera meraih tangan Nara yang sudah berisi makanan dan memasukannya ke dalam mulut


"Mas itu punyaku"


"Lagian, siapa suruh melamun, mikirin apa sih De, Mas kan sudah ada di depan kamu" Ucap Arya sambil terkekeh


"Ish siapa juga yang lagi mikirin Mas"


"Terus mikirin apa?" Ucap Arya lagi dan kini semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nara, dan tanpa mereka tahu ternyata Widi dari pintu gerbang sedang memperhatikan mereka.


Merasa wajah Arya semakin dekat, Nara langsung menyuapi mulut Arya dengan makanan dari tangannya


"Duh sweetnya" Ucap Arya sambil menarik hidung Nara


"aw, sakit tahu mas, oh iya Mas sepertinya Nadia sudah tahu juga ya kalau Mas itu laki-laki yang sudah di jodohkan dengan dia?"


"Nara, ada hubungan apa kamu dengan Pak Arya?kenapa juga Pak Arya memanggilmu dengan sebutan De, sudah sedekat itukah kalian?" Ucap Widi dalam hati sambil terus memperhatikan mereka berdua

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2