
"Nara, ada hubungan apa kamu dengan Pak Arya?kenapa juga Pak Arya memanggilmu dengan sebutan De, sudah sedekat itukah kalian?" Ucap Widi dalam hati sambil terus memperhatikan mereka berdua.
♦️♦️♦️
Nara yang tak sengaja menatap ke arah pintu gerbang melihat Widi yang tengah memperhatikan dirinya dan Pak Arya
"Widi" Ucap Nara dalam hati
Menyadari kalau Nara mengetahui keberadaannya Widi kemudian menghampiri mereka.
"Ra, kamu baik-baik saja kan?apa ada yang luka?aku minta maaf ya Ra?" Ucap Widi seraya memegang kedua lengan tangan Nara serta memperhatikan Nara dari ujung rambut sampai ujung kaki
"Ehmmm!!" Arya berdehem dan nampak kesal melihat Widi yang so perhatian pada Nara
"eh ada Pak Arya, Terimakasih ya pak sudah membantu Nara" Ucap Widi yang pura-pura baru menyadari keberadaan dosennya tersebut padahal jelas-jelas dari tadi dia sudah tahu
"Sudah tugas saya menjaga dan melindunginya, kamu ngapain ke sini?!" tanya Arya dengan ketus
"Wid, Pak Arya benar kamu ngapain di sini bukannya lagi sama Nadia, aku baik-baik saja Wid, Nadia mana?" Nara mencoba menatap sekeliling mencari sosok Nadia
"Aku sudah putus" jawab Widi singkat
"Apa?!putus?jangan bercanda kamu Wid, jangan bilang kamu putus gara-gara kejadian tadi, aku nggak mau Wid Nadia semakin benci sama aku, aku baik-baik saja kok, semua memang salahku Wid, nggak seharusnya kalian putus, semua itu hanya salah paham Wid, kamu jelaskan ke Nadia kalau kemarin malam kita nggak sengaja bertemu, kamu jelaskan semuanya Wid" Cerocos Nara, dia begitu kaget mendengar Widi putus dengan Nadia, begitu juga dengan Pak Arya
"Nara...stttt" Widi meletakan jari telunjuknya di bibir Nara
__ADS_1
"Udah ngomongnya?Nara, oke aku jujur aku mutusin Nadia yang pertama memang gara-gara tadi, aku kecewa banget sama Dia, tapi di sisi lain aku juga nggak bisa membohongi perasaanku Ra, aku sudah berusaha untuk bisa mencintai Nadia tapi sejauh ini rasa sayang aku ke Dia nggak lebih dari sekedar sahabat Ra, aku memang salah telah mengajaknya berkomitmen tapi asal kamu tahu aku jadian dengan Nadia karena ingin membuatmu bahagia Ra, karena kejadian malam itu kalau kamu lupa, dan kamu selalu bilang kalau kamu akan bahagia jika aku bisa jadian dengan Nadia, aku terus memikirkan kata-kata itu Ra hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Nadia berpacaran, aku hanya ingin membuatmu bahagia Ra tapi nyatanya setelah aku jadian, Nadia malah menjauh dari kamu bahkan lebih parahnya lagi dia memperlakukanmu seperti tadi, aku ikut sakit Ra, aku nggak terima kamu di perlakukan seperti itu, aku tahu aku salah karena telah memberinya harapan tapi percayalah aku juga sudah berusaha untuk bisa mencintainya Ra tapi sampai detik ini hatiku tetap tak bisa berpaling, karena seluruh hatiku hanya ada kamu Ra, hanya kamu yang aku cinta, Aku Sangat Mencintaimu, Maafkan aku Ra" Ucap Widi sambil memeluk Nara, jantung Nara langsung berdebar tak karuan, hatinya seketika menghangat, terasa tenang dan nyaman, jujur dia merasa bahagia karena cintanya nggak bertepuk sebelah tangan tapi di sisi lain dia masih trauma dengan yang namanya cinta karena cinta juga lah yang membuat persahabatannya dengan Nadia merenggang.
"Ehm!Kalian lupa ada saya di sini?!" Suara bariton Arya langsung mengagetkan keduanya hingga reflek Widi dan Nara juga saling melepas pelukan
"Maaf pak"
"Maaf Mas"
Ucap Widi dan Nara bebarengan
"Mas?Nara kamu panggil Pak Arya Mas?"
"Iya?Kenapa?Iri kamu?!" Ketus Arya
"Engga"
"Iya"
Jawab Arya dan Nara bersama-sama tapi dengan jawaban yang berbeda
"Engga pacaran, tapi lebih tepatnya calon istri, jadi kamu jangan harap bisa mendapatkannya" Jawab Arya dengan penuh penekanan saat mengucapkan calon istri
"Apaan sih Mas, engga Wid kita nggak ada hubungan apa-apa" Tegas Nara
"Kinara, Mas serius, Mas itu bukan tipe laki-laki yang suka bertele-tele dan drama, Mas memang tidak pernah mengatakan kalau Mas cinta Ade tapi kalau Ade mau saat ini juga Mas akan langsung mendatangi kedua orang tua Ade, Mas akan melamar Ade langsung untuk menjadi istri Mas, Meski kita belum lama kenal tapi Mas yakin kalau cinta itu akan datang karena terbiasa dan Mas juga yakin kita akan bahagia De" Ucap Arya sambil menggenggam kedua tangan Nara
__ADS_1
Widi nampak menelan salivanya dan mengepalkan tangannya mendengar apa yang di ucapkan Arya kepada Nara barusan
"Kalian apa-apaan sih, yang satu bilang cinta, yang satu calon istri, pusing tahu engga aku dengarnya, sebaiknya sekarang kalian berdua pulang, aku ingin istirahat!" Ucap Nara sambil melangkah masuk menuju kamarnya
"Ra, tunggu dulu Ra, katakan padaku kalau kamu juga mencintaiku Ra" Widi mengejar Nara dan menggenggam tangan kanan Nara
"De, Mas serius De, Mas ingin Ade jadi istri Mas" Arya juga mengejar Nara dan menggenggam tangan kiri Nara
Arya dan Widi saling menatap dengan sorot mata penuh kebencian, untuk sesaat Widi melupakan kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah Dosen yang harus ia hormati, saat ini dia menganggapnya sebagai Rival dalam mendapatkan hati sang pujaan hati Nara.
"Stop!!kalian berdua silahkan pergi dari sini, aku mau istirahat, cinta...istri, maaf aku lagi nggak mood dengan semua itu, aku permisi!" Nara kemudian masuk ke kamar dan menutup pintu serta menguncinya
"Ra"
"De"
Arya dan Widi berusaha membuka pintu kamar Nara dengan saling menatap tajam
"Pak, sebaiknya bapak cari calon istri yang lain pak, karena saya yakin Nara itu jodoh saya" Ucap Widi pada Arya dengan penuh percaya diri
"Anda terlalu percaya diri bung, kita lihat saja nanti" Ucap Arya sambil tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Widi kemudian melangkah pergi menuju mobilnya, seketika Widi langsung melotot tajam karena merasa kesal dengan ucapan Arya tersebut
"Nara, kali ini aku nggak akan menyerah" Ucap Widi dalam hati kemudian dia juga menuju ke motornya dan pergi meninggalkan kos Nara.
Bersambung...
__ADS_1