Di Antara 2 Hati

Di Antara 2 Hati
Nasi sudah menjadi bubur


__ADS_3

"Sayang, bagaimana sudah mendingan belum?"


"Sudah Nad, itu HP kamu berdering terus, di angkat dulu siapa tau penting, aku ke kelas duluan yah sekalian mau ke ruang Bu Nawang" Ucap Widi kemudian meninggalkan meja kantin,


"Nara, aku duluan yah, mari pak" Nadia pun ikut beranjak menyusul Widi kemudian mengangkat telfon dari ibunya.


"Apa laki-laki yang tadi di sebelah kita itu Niko mantan kamu?" Tanya Arya tiba-tiba


"Maksud bapak?" Mendengar nama Niko Nara langsung melotot tajam, dan itu berarti kemarin dosennya benar-benar mendengar semua keluh kesahnya


"ohhh astaga bodohnya Nara, ini akibat curhat nggak lihat situasi" gumam Nara dalam hati


"kamu kenapa, bingung?heran kenapa saya bisa tahu Niko?kamu lupa kemarin kamu teriak-teriak di tempat terbuka hingga memekikan gendang telinga saya"


"Stop pak, jangan sebut nama dia lagi di hadapan saya!"


"Hmmm sakit hati beneran nih ceritanya, oh iya kalau di luar kelas, kamu boleh kok nggak usah panggil saya bapak, kesannya saya jadi tua banget, kamu bisa panggil saya Kak, Abang, Mas, atau apa lah terserah kamu, panggil sayang juga boleh hahaha" Arya terkekeh


"nggak sopan dong pak, nggak enak juga kalau ada yang dengar apalagi masih di sekitaran kampus"


"Tapi saya agak risih dengan panggilan itu kalau sedang di luar kelas, oh iya pertanyaan saya belum di jawab cowo yang tadi itu mantan kamu?


"Bukan pak, itu Widi pacarnya Nadia teman saya" Ujar Nara tak semangat


"ohh, apa kamu dan Nadia sahabat dekat?"


"iya kita sahabat dekat bahkan sangat dekat dan sudah seperti saudara, karena selain satu kelas kita juga satu kos, kenapa memangnya pak?kepo sekali" Tanya Nara curiga


Arya seperti mendapatkan angin segar, dia merasa keputusan untuk mendekati dam berteman dengan Nara tidak salah, ya dia bisa menggali segala tentang Nadia lewat Nara,

__ADS_1


"Tidak apa-apa, oh iya nanti selesai kuliah pulangnya saya antar ya, sekalian ada hal yang mau saya tanyakan kepada kamu?"


"Tentang apa pak?Apa nggak bisa di tanyakan sekarang saja?"


"Tidak bisa, kenapa?kamu takut saya akan macam-macam?Tenang saja saya sudah punya calon istri, ya meski masih calon dan saat ini calon istri saya juga sedang di jaga oleh orang lain, awalnya saya memang sempat ragu dengannya tapi setelah saya menatapnya lebih dekat saya semakin yakin dengan perasaan saya kalau dia memang jodoh saya dan saya akan memperjuangkannya, maafkan saya ya kalau suka bercanda sama kamu, saya hanya butuh teman untuk berbagi cerita karena jujur saya di sini tidak mengenal siapa-siapa dan kenapa kamu orangnya, karena saya merasa kamu anaknya asyik di ajak ngobrol, jadi kamu mau kan berteman dengan saya?di luar kita berteman tapi dalam kampus kita tetap mahasiswi dan dosen sesuai aturan" Ujar Arya panjang lebar


"calon istri tapi di jaga orang lain maksudnya bagaimana, saya nggak mengerti maksud bapak" Sungguh Nara memang merasa bingung dengan apa yang kini tengah di bicarakan oleh dosennya


tersebut.


"Nanti kamu juga akan tahu, saya tunggu di parkiran ya nanti sore"


"InsyaAllah pak, saya permisi ke kelas dulu pak"


"duh gimana ini, mau engga yah pulang sama beliau, tapi aku penasaran juga sih sama apa yang mau beliau tanyakan, ah tapi aku juga nanti sore ada janji sama Bu Nawang, bodo amat lah" Ucap Nara dalam hati sambil berjalan menuju kelasnya


"Oke deh, Nara..." Panggil Nadia


"Iya Nad, ada apa?"


"mmmm....nggak jadi deh"


"kenapa Nad, ada apa?"


"Engga Nar nggak apa-apa, cuma mau bilang good luck ya Nar"


"ihh nggak jelas banget deh kamu, iya makasih ya Nad,"


"sebaiknya aku nggak usah cerita sama Nara" Ucap Nadia dalam hati

__ADS_1


"Kinara, kamu ada di mana saya sudah di parkiran?#Arya" Isi chat Arya pada Nara


"Maaf pak, lain kali saja ya kita ngobrolnya hari ini saya ada bimbingan skripsi dengan Bu Nawang sampai sore"


"Oh gitu, ya sudah nggak apa-apa, saya tunggu lain waktu"


Hari demi hari di lalui Nara tanpa adanya perhatian, kabar, pesan dan ucapan cinta dari Niko, ya hubungan mereka memang benar-benar telah berakhir bahkan Niko sama sekali tidak pernah mengunjungi Nara ke kosnya, Niko sangat merasa bersalah, malu dan merasa kalau dirinya memang tak pantas untuk Nara meski jauh di dalam lubuk hatinya Niko masih sangat mencintai Nara, dia memilih untuk mundur dan menghadapi kenyataan bahwa dirinya memang harus tanggung jawab terhadap Tina.


Sangat berat bagi Nara melupakan orang yang di cintainya dan telah mengisi hari-harinya selama bertahun-tahun, karena biar bagaimanapun di mata Nara hubungan mereka selama ini terlihat baik-baik saja, itulah yang membuat Nara begitu terpukul dan sakit hati, tapi karena kesibukannya di kampus perlahan-lahan Nara mampu untuk melupakannya, walau tak bisa di pungkiri rasa sayang dan cinta itu masih ada tapi untuk sekarang rasa bencinya lebih besar bahkan sangat besar daripada rasa cinta yang dulu selalu bersemayam dalam hatinya, Nara sangat membenci perselingkuhan.


Setelah orang tua Niko dan Tina mengetahui semuanya, mereka semua nampak kecewa tapi mau bagaimana lagi nasi telah menjadi bubur, ada Makhluk Ciptaan Tuhan yang tak berdosa di dalam perut Tina, mungkin itulah Jalan Takdir Tuhan untuk menyatukan mereka berdua, Niko dan Tina akan menikah pada hari di mana mereka Wisuda dan hari itu adalah besok, hari bersejarah untuk mereka berdua yaitu hari di mana mereka akan mengucap janji suci pernikahan, mereka tidak akan menggelar pesta besar-besaran hanya di hadiri keluarga dan kerabat terdekat, setelah menikah Niko dan Tina juga berencana akan tinggal di jakarta sesuai permintaan ayah Tina, Niko akan mengurus cabang perusahaan milik ayahnya Tina yang ada di jakarta.


Malam hari sebelum Hari H pernikahan, Niko datang ke kos Nara untuk terakhir kalinya sebelum besok statusnya berubah menjadi suami, dia datang ingin menyampaikan kata maaf langsung kepada Nara.


"mau apa lagi kamu datang ke sini?" Sarkas Nara ketika mendengar ada suara yang ketok pintu dan saat di buka ternyata tamu tersebut adalah Niko, Nara hendak menutup pintunya kembali tapi Niko menahannya


"Nara ada yang mau aku bicarakan, tolong kasih aku kesempatan sekali saja, ku mohon" Niko terus mendorong pintu itu hingga dia berhasil masuk


"pergi Nik, pergi dari sini, tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, kita sudah selesai!"


"Nara, aku benar-benar minta maaf, sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, maafkan aku yang telah masuk ke dalam kehidupan kamu dan menggoreskan sejuta luka untukmu, maafkan aku yang tidak pernah membuatmu bahagia, aku memang laki-laki breng*ek dan nggak berguna, maafkan aku Nar dan ku mohon tolong jangan benci aku, besok aku akan menikah dengan Tina" Ucap Niko sambil bersimpuh di hadapan Nara dan mengeluarkan air mata


Nara hanya terdiam sambil menangis, tega-teganya Niko datang hanya untuk mengabarkan bahwa dirinya akan menikah, di mana hatinya


"bangunlah, aku sudah memaafkan kamu, jadilah suami dan ayah yang baik dan bertanggung jawab, sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi dalam hidupku" Ucap Nara sambil berlinang mata kemudian mendorong Niko keluar kamar dan menutup pintu kamarnya, Nara menangis sesenggukan di balik pintu, begitu pula dengan Niko yang masih berdiri di depan pintu sambil mengeluarkan air mata penyesalan.


Beruntung saat itu Nadia sedang tidak ada di kamarnya, dia sedang pergi jalan-jalan dengan Widi jadi tidak ada yang melihat mereka berdua bertemu malam itu,


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2