
"aku merindukanmu, Kak! aku sangat merindukanmu!"
hening, itulah yang terjadi diruangan itu. Sean masih mencoba untuk memahami apa yang terjadi sementara Sita sendiri masih sibuk memandangi wajah sang Kakak.
"Maaf, Kak! maafkan aku."
Sean kembali memeluk Sita dengan erat karna sudah mengerti kalau ternyata adiknya sudah kembali mendapatkan ingatannya, dia merasa sangat senang dan terharu melihat semua ini.
"Kakak sangat senang, Sofia! terima kasih karna sudah kembali mengingat Kakak."
"Tidak, Kak!"
Sita merenggangkan pelukan mereka, dia menatap Sean dengan tajam sembari menggenggam kedua tangan Kakaknya itu.
"seharusnya aku yang berterima kasih, terima kasih karna kakak sudah sabar menunggu ingatanku kembali! pasti Kakak merasa kesusahan!" lirih Sita.
Sean tersenyum mendengar apa yang Adiknya ucapkan, baginya Sita adalah segalanya dan tidak ada yang lebih penting dari adiknya itu.
"Sejak kapan sih, Kau ini tidak membuat susah?"
Sita tergelak karna ucapan Sean membuat lelaki itu ikut tertawa, setelah sekian lama menunggu, akhirnya adiknya bisa kembali mengingat tentang dirinya sendiri.
"Kak, bagaimana kabar Bik Asih? terus kabar Om Chandra, Bik Nena, pokoknya semua yang ada dirumah?" tanya Sita, dia merasa rindu dengan orang-orang yang sudah sekian lama tidak dia temui.
Sean terdiam, dia merasa tidak nyaman untuk mengatakan kalau beberapa dari pekerjanya sudah meninggal dunia.
"Kak?"
Sita memandang Sean dengan bingung, dia heran kenapa Sean tidak menjawab apa yang dia tanyakan.
"apa terjadi sesuatu pada mereka?"
Sita memang gadis yang sangat peka, baik dulu maupun sekarang, sifatnya itu masih tetap sama walau dia tampak lebih cerewet dan ceria dari biasanya.
"Bik Asih dan Bik Nena sudah meninggal, Sweetu!"
"Innalillahi wainnailaihi rajiun!"
Sita mengusap dadanya yang berdebar keras mendengar kabar duka itu, orang-orang yang dulu selalu bersamanya ternyata sudah meninggal dunia.
"Om Chandra saat ini sudah tidak bekerja dirumah kita lagi, dia ingin tinggal bersama dengan anaknya."
Sita tersenyum senang mendengar ucapan sang Kakak, setidaknya ada satu orang terdekatnya yang masih hidup saat ini.
"Dia sering berkunjung kerumah, dan menanyakan tentang kabarmu!"
Mata Sita berkaca-kaca, dia merasa terharu sekaligus rindu dengan orang-orang yang ada dimasa lalunya.
"Besok aku ingin mengunjunginya!"
Sean mengiyakan apa yang Sita ucapkan, dia merasa senang karna Sita ingin kembali mengunjungi orang-orang yang dulu menjaganya.
Sita lalu beralih mengambil ponsel yang ada di atas meja, dia mencari satu nama dan menelpon orang tersebut.
Tut, tut, tut!
"Halo?"
Sita menjauhkan ponselnya dari telinga, dia heran kenapa seorang lelaki yang menjawab panggilannya.
"Benar kok, ini nomornya Syifa!"
__ADS_1
"halo?"
"i-iya halo, ini siapa?" tanya Sita dengan heran.
"ini petugas kepolisian, saat ini ponsel ini sedang berada dikantor polisi!"
"apa? kantor polisi?"
Sita sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan seseorang disebrang telpon, sementara Sean yang sedang berada di sampingnya juga ikut terkejut karna suara teriakan sang adik.
"ada apa? kenapa kau berteriak?" tanya Sean dengan khawatir.
"I-ini, Syifa-"
Sean segera mengambil ponsel yang sedang dipegang oleh Sita, dia lalu berbicara dengan seseorang yang ada dipanggilan telpon tersebut.
Sita menunggu dengan khawatir, dia takut kalau terjadi sesuatu dengan Syifa.
"bagaimana, Kak? kenapa ponsel Syifa bisa ada di kantor polisi?" tanya Sita dengan tidak sabar, dia menatap tajam kearah Sean yang terdiam di sampingnya.
Sean merasa bingung, dia ingin mengatakan semuanya tapi juga takut kalau Sita akan sangat terkejut saat mendengar kondisi Syifa.
"Kak? apa ada yang Kakak sembunyikan dariku?"
Sita mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, Zulaikha dan Ammar juga tidak datang menjenguknya padahal biasanya mereka berdua akan selalu ada di sampingnya. Apalagi Syifa, dia sama sekali tidak mendengar kabar tentang sahabatnya itu.
"kalau memang sedang ada masalah, tolong katakan saja yang sejujurnya! aku tidak mau menjadi orang yang tidak mengetahui masalah keluargaku sendiri," pinta Sita.
Sean menghela napas kasar, dia lalu melihat Sita dengan tajam. "Kakak akan mengatakannya asal kau berjanji kalau kau akan baik-baik saja!"
Sita langsung menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali, dia juga meyakinkan sang Kakak kalau dia pasti akan baik-baik saja.
"Syifa sedang terkena musibah," lirih Sean, dia tidak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi secara langsung.
"musibah apa, Kak?" tanyanya kembali.
Sita sudah sangat penasaran, dia memandang sang Kakak dengan harap agar Kakaknya itu mengatakan yang sejujur-jujurnya.
"Syifa, Syifa mengalami pelecehan,"
"Apa?"
Sita sampai berdiri karna mendengar ucapan sang kakak, dia lalu mencengkram erat lengan Kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak, kakak becanda kan?"
Sean menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sita membuat wanita itu langsung merasa lemas.
"Sofia! kau, kau tidak apa-apa?"
Sean menahan tubuh Sita yang hampir saja terjatuh, dia lalu mendudukkan tubuh adiknya ke atas ranjang dan mengambil segelas air untuknya.
"minum dulu!"
"Ya Allah, Syifa!"
Sita menangis dalam pelukan Sean karna tidak kuasa menahan kesedihan atas apa yang sudah terjadi pada sahabatnya, sementara Sean mencoba untuk menenangkan Sita agar kondisinya tidak memburuk lagi.
"Ya Allah, apa yang sedang terjadi ini? kenapa, kenapa Syifa bisa seperti itu, huhuhu!"
Tangisan Sita semakin menguat membuat Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangannya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Sean mengangkat tangannya untuk menghentikan Dokter yang akan mendekati mereka, dia lalu menggelengkan kepala seolah-olah menyuruh mereka untuk keluar.
"kita, kita harus pergi, Kak! kita harus menemui Syifa, hiks!"
"Kau tidak perlu khawatir, Kakak akan mengantarmu ke sana! tapi, kau tidak boleh menangis lagi, pikirkan kondisi kesehatanmu!"
Sita menganggukkan kepalanya, dia mengusap air mata yang masih mengalir diwajahnya.
Sean lalu meminta izin Dokter untuk membawa Sita pergi. Awalnya, Dokter tidak mengizinkan Sita untuk pergi karna kondisinya masih belum stabil. Tetapi, atas paksaan dari Sita akhirnya Dokter itu mengizinkan.
Mobil Sean melaju kencang membelah jalanan yang sedang sunyi karna hari masih sangat pagi, sepanjang perjalanan Sita terus berdo'a agar sahabatnya baik-baik saja.
Sangking terburu-burunya, Sean tidak melihat ada sebuah mobil yang sedang berhenti dipinggir jalan.
Brak! Mobil Sean menghantam mobil yang sedang berhenti menyebabkan suara benturan itu nyaring terdengar.
"Astaghfirullah!"
Sita memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat benturan itu, sementara Sean sendiri masih berusaha untuk memundurkan mobilnya karna mobil yang ada di depan mereka mengeluarkan asap tebal.
"kau tidak apa-apa, Sweetu?" tanya Sean dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa, kak!"
Sean bernapas lega melihat Sita baik-baik saja, dia lalu turun dari mobil untuk melihat apa yang sedang terjadi diikuti oleh Sita yang juga ikut turun dari mobil.
"Astaghfirullahal'adzim, Mas Rafa!"
Sita berlari mendekati Rafa yang sedang terduduk di jalan raya, dia melihat tangan lelaki itu sedang terluka dengan banyaknya darah yang berceceran.
"kau! Rafa? apa yang terjadi?" tanya Sean, dia ikut terkejut saat melihat keadaan lelaki itu.
Rafa berusaha untuk bangun sembari memegangi tangannya. "Saya tidak apa-apa, hanya luka kecil saja."
Sita dan Sean saling pandang, bagaimana mungkin luka kecil bisa sampai mengeluarkan darah sebanyak itu?
"baiklah, terserah itu luka kecil atau besar! sekarang kau ikut kami ke rumah sakit," ajak Sean.
Rafa terdiam, dia tau kalau saat ini Ammar dan Zulaikha pasti sedang berada dirumah sakit juga.
"Tidak perlu, saya bisa kerumah sakit sendiri!"
Sita yang merasa tidak sabar dengan luka ditangan Rafa langsung menarik ujung jas lelaki itu dan membawanya kemobil membuat Rafa sangat terkejut.
"apa yang kau lakukan?"
"Mobil Mas sudah rusak! jadi Mas tidak bisa pergi ke rumah sakit sendiri!"
Rafa mengerutkan keningnya, dia merasa aneh dengan apa yang Sita lakukan. Tapi karna tidak bisa lagi menolak, akhirnya Rafa ikut bersama mereka ke rumah sakit.
Sita tersenyum tipis melihat Rafa masuk ke dalam mobil, dia lalu menyuruh Sean untuk kembali melajukan mobilnya.
"apa yang terjadi pada Mas Rafa? kenapa tangannya terluka separah itu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘