
"karna aku mencintai Sofia, sampai matipun aku akan tetap mencintainya!"
"Kau benar-benar sudah gila, Danish! Kau dibutakan cinta sampai merusak semua rencanaku!"
Brak! Danu melempar ponselnya sampai hancur berantakan, dia benar-benar kesal melihat putranya yang melakukan sesuatu seenak jidatnya sendiri.
"Tu-Tuan, ini!"
Salah satu anak buah Danu menyodorkan ponselnya yang berisi pesan dari Danish dengan tangan gemetaran.
"Benar, aku memang sudah gila! Jadi, jika papa tidak ingin aku semakin menghancurkan semuanya, lebih baik lakukan apa yang aku katakan! Buatlah Sofia kembali padaku, atau aku akan membunuh kalian semua! Aku tidak peduli dengan semua impianmu, karna kalau aku tidak mendapatkan Sofia, maka kau adalah orang pertama yang akan aku bunuh!"
Danu menggenggam ponsel itu dengan erat saat membaca pesan dari Danish, dadanya terasa terbakar karna diliputi oleh kemarahan.
"Bisa-bisanya aku punya anak psycopath sepertinya!"
Brak! Ponsel anak buahnya kembali hancur ditangannya, dia merasa kesal dengan apa yang Danish lakukan. Tanpa dia sadari, kalau dialah yang menyebabkan putranya seperti itu.
Rafa, yang saat itu mulai mengerjapkan kedua matanya memperhatikan keseluruh ruangan. Dia yang hendak bangkit terpaksa mengurungkan niatnya karna kepalanya terasa sangat sakit.
Sean yang melihat Rafa sudah sadar bergegas untuk memanggil Dokter, tidak berselang lama seorang Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU itu.
"Apa, apa Tuan Rafa sudah sadar?"
Stella yang ternyata masih ada di rumah sakit itu merapatkan tubuhnya ke kaca ruang ICU sampai tidak sadar kalau menabrak tubuh Sean.
Lelaki itu menatapnya dengan tajam dan mendorong tubuh Stella sampai dia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kenapa kau masih di sini? Pergi!"
Glek, Stella menelan salivenya dengan kasar melihat tatapan tajam yang Sean layangkan padanya.
"Tuan, Nona ini yang sudah menolong Nona Muda dan Tuan Rafa!"
Sean dan Stella memalingkan wajah mereka ke arah Soni, terlihat lelaki itu membawa bungkusan yang sepertinya berisi makanan dan minuman.
"Menolong? Cih, apa bisa dia menolong dengan tubuh kurus kering seperti itu?"
__ADS_1
Sean memperhatikan tubuh Stella dari atas sampai bawah, dan terus seperti itu sampai membuat wanita itu menjadi salah tingkah.
"sudah berapa tahun kau tidak makan?"
"Apa? Apa katanya?"
Stella merasa kesal dengan ucapan lelaki yang ada di hadapannya saat ini, untung saja lelaki itu tampan dan berkuasa. Jika tidak, sudah pasti dia akan mencaci makinya.
"A-anu, aku memang kurus. Tapi bukan berarti aku tidak makan, Tuan!"
Sean berdecak kesal, dia lalu kembali melihat ke arah Rafa dan Sita yang sedang diperiksa oleh Dokter.
"Terima kasih atas pertolongan anda, Nona!"
Stella terjingkat kaget saat lelaki paruh baya yang ada di dekatnya mengucapkan terima kasih. "Sa-sama-sama, Tuan!"
Soni lalu menyodorkan sebuah amplop berwarna putih yang diterima oleh Stella dengan penuh tanda tanya.
"anggaplah itu sebagai rasa terima kasih kami, Nona! Walaupun sebenarnya apa yang anda lakukan tidak bisa kami balas dengan apapun!"
"Ti-tidak perlu! Aku, aku ikhlas menolongnya. La-lagi pula, Nona Sofia juga sudah menolongku!"
"Tapi Nona-"
Stella mengibas-ngibaskan tangannya untuk meyakinkan lelaki paruh baya itu kalau dia tidak menginginkan apapun, sementara Sean hanya diam sembari melirik ke arahnya.
"kalau kau memang tidak mau uang, untuk apa lagi kau di sini?" gumam Sean.
Gumamannya itu ternyata bisa didengar oleh Stella membuat wanita itu langsung menatapnya dengan tajam.
Niat hati hanya ingin memastikan kondisi Sita dan Rafa baik-baik saja, malah dituduh ingin mengharapkan imbalan uang.
"Ka-kalau gitu saya permisi, Tuan!"
Stella memutuskan untuk pergi saja, toh sudah tidak ada gunanya lagi dia berada di tempat itu dan malah difitnah sekejam itu.
Sean hanya diam melihat Stella pergi, hatinya sedikit merasa bersalah tetapi dia tidak mau ambil pusing dan kembali melihat lurus ke depan.
__ADS_1
Sementara itu, Atha dan Syifa sudah berangkat meninggalkan Kota Paris menuju Dubai. Sebelumnya Atha sudah memberitahu Sean tentang keberangkatannya, dan mereka sepakat kalau mereka tidak akan menceritakan hal ini pada keluarga Zulaikha.
"Tenanglah, Sayang! Percayalah kalau mereka pasti baik-baik saja!"
Untuk sekali lagi, Atha mencoba menenangkan sang istri yang terlihat sangat khawatir dan tidak bisa duduk tenang.
"Bagaimana aku tidak khawatir, Atha! Sita, Sita itu belum sembuh total atas luka yang dia alami di masa lalu, tapi sekarang, dia harus kembali terluka. Hiks!"
Atha menarik tubuh Syifa ke dalam pelukannya, dia mengusap puncak kepala wanita itu yang ditutupi oleh hijab.
"sudahlah, tidak baik kalau kau terus mengungkit masalah itu! Lebih baik kita do'akan semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja!"
"Tapi Atha-"
Cup, Syifa terlonjak kaget saat tiba-tiba Atha mengecup bibirnya sementara Atha sendiri hanya tersenyum lebar dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"kau, apa yang kau lakukan?" tanya Syifa dengan suara tertahan, wajahnya merah padam karna saat ini ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.
"Kenapa? Aku hanya mencium istriku, apa yang salah dengan itu?"
Syifa berdecak kesal dengan apa yang Atha lakukan, kemudian dia melepaskan pelukan lelaki itu dan menghadap ke arah jendela.
"Sekarang istirahatlah, kalau kau berpikir yang macam-macam lagi, maka aku bukan hanya akan sekedar mengecup bibirmu saja!"
Syifa kembali melihatnya dengan tajam yang dibalas dengan seringai licik Atha, dia kemudian kembali menghadap jendela dan memejamkan kedua matanya.
"Aku mencintaimu, istriku!"
Deg, untuk kesekian kalinya Atha kembali mengucapkan kata cinta untuknya yang berhasil membuat darahnya berdesir.
"Aku juga mencintaimu, suamiku!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘